Menjadi orang yang pernah merasakan bullying, membuat Mima peka akan isu yang diperjuangkannya. Apalagi ia di-bully karena dipandang berbeda secara fisik. Oleh karenanya, Mima sempat memposting konten tentang beauty standart di Indonesia yang menurutnya cukup toxic.
"Ini adalah hal yang aku percayai, ini adalah hal yang worth untuk aku perjuangkan. Karena ku melihat beauty standart Indonesia agak toxic. Karena kalau lihat orang Indonesia kan kulitnya macam-macam dan rata-rata gelap, dan kalau disama-ratakan itu agak gimana. Terus, media portrait perempuan dengan penampilan tertentu, kulit putih, rambut begini," ujarnya.
Dari sana ia berusaha untuk selalu tegar dan kuat tentang dirinya dan akan menjadi apa. Menurutnya, introspeksi diri itu perlu tapi jangan mengorbankan perasaan kita terhadap opini jelek masyarakat.
"Keep on living your self dan jangan takut salah, jangan takut opini orang untuk memperbaiki diri sendiri. Thats the point of growth, bukan menunjukkan yang terbaik untuk orang lain lihat tapi juga buat kamu sendiri," tuturnya.
Terakhir, di momen Hari Anak Nasional 2020 ia menitipkan pesan untuk para penyintas bullying lain di Indonesia. Mima mengatakan saat teknologi makin mudah diakses, pelaku bullying akan semakin mudah memberikan opininya. Kita tidak bisa mengontrol apa yang orang lain akan katakan, tapi kita bisa mengontrol respons kita kepada orang lain.
"Cyber bullying itu gampang banget dilakuin, tapi menurut aku sih mulai dari sendiri kalau cyber bullying itu nggak baik. Try not to nyinyir di media sosial orang. Nyinyir di sosial media orang yang nggak dikenal itu sama saja seperti nyamperin orang itu dan nyinyir di depan mereka. Kita nggak bisa kontrol orang, tapi coba deh kontrol diri sendiri dulu untuk nggak ngelakuin itu ke orang lain," pungkasnya.
Itulah tadi cerita seru Mima soal dirinya yang pernah merasakan cyber bullying hingga berusaha untuk menerima dirinya apa adanya kini. Tentunya perjalanan Mima ini tidak mudah, tapi hal ini bisa jadi pelajaran bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental dan tidak menghakimi sepihak siapapun di media sosial.