“Hampir semua elemen di film ini ada unsur yang bisa kita percayai dan tidak bisa kita percayai, seperti spiritualisme, mitologi, monster, UFO juga masuk, dan semua karakternya sebenarnya punya dua sisi itu,” kata Kamila Andini dalam press screening Empat Musim Pertiwi, Jumat (2/10/2026).
Review Film Empat Musim Pertiwi, Perjuangan Hidup yang Tak Bernyawa

Empat Musim Pertiwi mengisahkan Pertiwi, penyintas percobaan pemerkosaan yang dipenjara 20 tahun setelah membela diri, lalu menghadapi stigma, trauma, dan para pelaku yang berkuasa saat pulang ke desa.
Film garapan Kamila Andini menyoroti ketidakadilan bagi penyintas kekerasan seksual serta budaya patriarki yang memanfaatkan kepolosan perempuan, dengan Mak Ira dan Bisma sebagai pihak yang menerima Pertiwi.
Drama ini memadukan unsur sci-fi sebagai metafora, sinematografi Gunung Bromo, Reog Ponorogo, dan dialog Jawa Timur; film tayang 8 Oktober 2026 serta mewakili Indonesia menuju Oscar 2027.
Take a Deeper Reads

Film Empat Musim Pertiwi (2026) karya sutradara Kamila Andini rasanya wajib ditonton di bioskop untuk mendapatkan pengalaman sinematik yang komplit. Selain ceritanya yang menguras emosi, film ini berhasil memanjakan mata karena memiliki latar tempat di Gunung Bromo, Jawa Timur.
Setelah sukses tayang di berbagai festival internasional hingga mendapat pengakuan lewat nominasi Best Cinematography di Asia Pacific Screen Awards 2026, Empat Musim Pertiwi atau juga disebut Four Seasons in Java diketahui juga akan mewakilkan Indonesia di OSCAR 2027 mendatang.
Dibintangi oleh Putri Marino, Arya Saloka, hingga Christine Hakim, film ini bercerita tentang Pertiwi yang kepulangannya ke kampung halaman ditolak setelah 20 tahun mendekam di penjara karena membunuh pelaku yang mencoba memperkosanya.
Simak review Popmama.com berikut ini untuk film Empat Musim Pertiwi yang mengisahkan perjuangan hidup yang tak bernyawa.
Table of Content
Sinopsis Empat Musim Pertiwi/Four Seasons in Java (2026)
Menjalani hidup yang sudah tidak berarti memang terasa berat, apalagi jika orang-orang yang menghancurkan kehidupan tersebut masih bisa hidup dengan tenang. Itulah yang dirasakan oleh Pertiwi (Putri Marino) setelah dirinya menghabiskan masa muda di penjara hanya karena membela diri dari kejahatan.
Ia di penjara selama 20 tahun akibat membela diri dari percobaan pemerkosaan. Terpaksa menggorok leher salah satu pelaku agar bisa melarikan diri, Pertiwi justru berakhir di penjara, sementara pelaku lainnya masih bisa berkeliaran dengan bebas.
Setelah menjalani masa hukuman, Pertiwi memutuskan pulang ke kampung halamannya untuk kembali melanjutkan hidup. Namun, kepulangannya ternyata tidak disambut baik oleh warga desa.
Selain harus menghadapi stigma sosial dan bayang-bayang trauma masa lalu, Pertiwi juga harus menghadapi empat pelaku yang menghancurkan hidupnya dulu kini hidup bebas dan berkuasa di desa tersebut.
Di tengah penolakan dari semua orang, hanya Mak Ira (Christine Hakim) dan Bisma (Arya Saloka) yang masih menerima Pertiwi dan membantunya kembali menemukan harapan hidup.
Empat Musim Pertiwi (Four Seasons in Java)20264.5/5Directed by Kamila AndiniProducer Ifa Isfansyah
Writer Kamila Andini
Age Rating 17+
Genre Drama, Cerita Seru, Kejahatan
Duration 137 Minutes
Release Date 08-10-2026
Theme village, fog, drug use, sexual violence, female protagonist, human rights, java, indonesia, self-harm, psychological, suspense, survivor, mature themes
Production House Forka Films, Giraffe Pictures, Epicmedia, One Two Films, Lemming Film
Where to Watch Bioskop
Cast Putri Marino, Christine Hakim, Arya Saloka, Hana Pitrashata Malasan, Iswadi Pratama
Trailer Empat Musim Pertiwi/Four Seasons in Java (2026)
Empat Musim Pertiwi/Four Seasons in Java (2026)
1. Perjuangan hidup penyintas kejahatan seksual yang mencari keadilan

Poster film Empat Musim Pertiwi (Dok. Forka Films) Jika pelaku kejahatan seksual meninggal dunia karena serangan korban yang membela diri, siapa yang salah?
Empat Musim Pertiwi mengajak kita semua melihat dan merenungkan bahwa masih banyak korban kekerasan seksual yang hidup dalam ketidakadilan. Mereka selamat dan hidup, namun diri yang sama seperti sebelum peristiwa kelam tersebut mungkin sudah tidak bernyawa sejak lama.
Suasana dalam film itu dibuat mencekam meski bukan film bergenre horor. Penonton diajak melihat sudut pandang korban kekerasan seksual yang harus menghadapi ketakutan yang sama meski sudah puluhan tahun berlalu.
Sudah bebas dari hukuman bukan berarti bisa menjalani hidup dengan bebas. Nyatanya, Pertiwi harus hidup dengan bayang-bayang trauma masa lalunya yang muncul setiap hari.
Ini merupakan konsekuensi yang tidak adil untuk para korban kejahatan seksual. Para pelaku masih bisa hidup dengan bebas tanpa rasa bersalah, sementara Pertiwi mati-matian berjuang menjalani hidup yang sudah tidak berarti lagi untuknya.
2. Kepolosan dan budaya patriarki jadi kelemahan yang dimanfaatkan

Poster film Empat Musim Pertiwi (Instagram.com/forkafilms) Hidup di desa sebagai perempuan memang mengorbankan banyak hal, terlebih Pertiwi yang harus hidup dengan stigma negatif sebagai korban kekerasan seksual.
Jika dilihat dari sudut pandang yang luas, film ini juga memperlihatkan bagaimana kepolosan dan budaya patriarki yang masih mengakar menjadi kelemahan yang dimanfaatkan banyak orang.
Bagaimana kurangnya pemahaman membuat perempuan lagi-lagi hanya bisa diam dan menerima apa yang terjadi. Hanya karena menjadi perempuan, hidup menjadi terasa menyesakkan, karena melawan hanya akan memperburuk keadaan.
Ketidakadilan bukan satu-satunya isu yang diangkat dalam film ini, tapi kehidupan bermasyarakat yang keliru dan kurang bermoral menjadi permulaan yang akan membawa penonton mengikuti perjalanan Pertiwi yang menguras sisi emosional.
3. Padukan drama dengan sci-fi sebagai metafora

Poster film Empat Musim Pertiwi (Instagram.com/forkafilms) Menambahkan sisi yang berbeda, Kamila Andini memberikan banyak metafora di dalamnya untuk memahami bagaimana setiap karakter berjuang dengan kesulitan mereka masing-masing.
Jika penonton melihat banyak unsur science-fiction yang terlihat tidak masuk akal, ini merupakan cara Kamila Andini untuk menyampaikan pesan yang lebih luas dan dalam.
Perlu diingat bahwa Pertiwi merupakan murid pintar dan berprestasi di sekolahnya yang suka bereksperimen dengan dunia elektro. Modal ini yang akan membawa penonton masuk ke dunia Pertiwi yang berkaitan dengan sci-fi.
Mungkin terlihat tidak masuk akal jika terjadi di dunia nyata, namun ini cara yang ingin dia lakukan agar cerita berjalan sesuai dengan ekspektasi banyak orang hingga akhir. Ini menjadi cara sutradara menutup cerita yang begitu menyesakkan.
4. Angkat budaya tradisional dan keindahan alam Jawa Timur

Poster film Empat Musim Pertiwi (Instagram.com/forkafilms) Cerita dalam film ini memang cukup padat dan mungkin terasa menyesakkan. Namun, penonton juga dapat melihat unsur-unsur yang memanjakan mata dalam film ini.
Misalnya dari latar tempat warung Mak Ira yang berada di tengah padang pasir di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur. Di sini, penonton akan berkali-kali melihat keindahan hamparan Laut Pasir Bromo yang digemari banyak wisatawan.
Tak hanya itu, ada juga unsur kebudayaan dari Reog Ponorogo sebagai budaya tradisional yang juga menjadi mata pencaharian masyarakat setempat ikut dimasukkan dalam film ini.
Mayoritas dialog dalam film Empat Musim Pertiwi juga menggunakan bahasa Jawa yang digunakan masyarakat Jawa Timur sehari-hari.
Demikian review dari film Empat Musim Pertiwi yang mengisahkan perjuangan hidup yang tak bernyawa. Film ini membawa banyak pesan moral yang dipadu dengan sinematografi yang indah.
Empat Musim Pertiwi tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026. Yuk dukung juga film ini agar bisa bersaing di ajang OSCAR 2027 nanti!























