Istockphoto/carstenbrandt
Bahan ponco biasanya tipis dan tidak didesain untuk melawan tekanan angin tinggi. Ketika motor melaju, angin yang kencang dapat membuat ponco robek secara tiba-tiba.
Potongan kain yang robek bisa terbang ke arah wajah pengendara atau pengendara lain, menutupi bidang pandang dan memicu kehilangan kontrol. Jika potongan tersebut tersedot ke rantai atau kipas pendingin, kerusakan mekanis bisa terjadi.
Ketika ponco robek sebagian, bentuknya menjadi tidak beraturan dan semakin berkibar. Ini membuat motor semakin sulit dikendalikan karena permukaan kain berubah menjadi hambatan angin yang tak terduga.
Robekan juga bisa menyebabkan bagian ponco tersangkut ke lampu atau bagian bodi motor, sehingga fungsinya sebagai pelindung dari hujan menjadi tidak maksimal.
Lebih buruk lagi, pengendara mungkin tetap melanjutkan perjalanan meski ponco sudah rusak karena tidak punya pilihan lain.
Dalam kondisi seperti ini, risiko kecelakaan meningkat tajam karena ponco yang robek lebih mudah menutupi pandangan, tersangkut, atau terbang mengenai komponen motor. Ponco yang tidak stabil adalah salah satu sumber bahaya terbesar di tengah hujan.
Jas hujan ponco memang menawarkan kepraktisan, tetapi bahaya yang ditimbulkannya sangat besar dan sering kali tidak disadari hingga terjadi insiden.
Bentuknya yang longgar, berkibar, dan berat ketika basah dapat mengganggu kendali motor, membahayakan pengendara lain, hingga menyebabkan kecelakaan serius.
Untuk perjalanan yang aman, Papa sebaiknya menggunakan jas hujan dua potong yang menempel ke tubuh dan tidak memiliki bagian yang dapat tersangkut ke komponen motor.
Sekarang Mama dan Papa telah mengetahui tentang waspada, bahaya memakai jas hujan poco saat berkendara motor. Keamanan selalu lebih penting daripada kepraktisan sesaat, terutama di kondisi jalan yang tidak menentu saat hujan.