Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Angka Pernikahan di Indonesia Terus Menurun dalam Satu Dekade Terakhir
Freepik/prostooleh

Intinya sih...

  • Pada 2014 tercatat 2,11 juta pernikahan, sedangkan tahun 2024 turun merosot menjadi 1,47 juta.

  • Keputusan untuk menunda atau menghindari pernikahan didorong oleh prioritas pada pendidikan, karier, kesiapan ekonomi, dan kesiapan mental.

  • Terjadi kontradiksi sosial di mana angka pernikahan terus menurun, namun angka perceraian justru cenderung meningkat.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Tren “nikah muda” di zaman sekarang sudah mulai tergeser. Sebab ada kabar bahwa angka pernikahan di Indonesia resmi menyentuh titik terendahnya dalam satu dekade terakhir. Sepuluh tahun lalu, tepatnya di tahun 2014, jumlah pasangan yang naik ke pelaminan bisa menembus angka 2 juta, tetapi kini jumlahnya terus merosot tajam.

Fenomena ini seolah memberi sinyal bahwa tren "nikah muda" atau sekadar “nikah cepat” bukan lagi menjadi pilihan utama bagi sebagian besar masyarakat, khususnya generasi muda saat ini. Alasan mereka belum menikah, walau usianya sudah usia menikah itu karena ditentukan beberapa faktor.

Namun, sebelum membahas faktor-faktornya, kira-kira angka pernikahannya turun sampai berapa persen, ya? Kali ini Popmama.com akan membagikan informasi seputar angka pernikahan di Indonesia terus menurun dalam satu dekade terakhir.

Simak faktanya berikut ini, yuk!

1. Angka pernikahan yang terus menurun dalam satu dekade

Freepik/freepic-diller

Fenomena pergeseran pandangan masyarakat terhadap pernikahan semakin nyata di Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah pernikahan di Indonesia terus menurun dan mencapai titik terendah dalam 10 tahun terakhir. 

Jika pada 2014 tercatat 2,11 juta pernikahan, angka tersebut merosot menjadi 1,47 juta pada 2024. Penurunan sebesar 6,3 persen ini mencerminkan perubahan pola pikir masyarakat, khususnya generasi muda, yang cenderung menunda atau bahkan menghindari pernikahan.

2. Penurunan signifikan terjadi secara konsisten dari tahun ke tahun

Freepik/bristekjegor

Tren penurunan bukan terjadi secara tiba-tiba. Pada 2023, jumlah perkawinan hanya sekitar 1,57 juta, turun sekitar 128 ribu pasangan jika dibandingkan dengan tahun 2022 yang jumlah perkawinannya berkisar 1,7 juta. 

Dalam rentang 2014 hingga 2024, total pernikahan di Indonesia menyusut hampir 29 persen atau setara lebih dari 632 ribu pasangan. Kondisi ini menjadi perhatian karena berdampak pada struktur sosial kependudukan dan perencanaan pembangunan jangka panjang.

3. Mayoritas generasi muda Indonesia belum menikah

Freepik/boyarkinamarina

Berdasarkan data BPS yang dirilis melalui Indonesia Baik, laman resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), persentase generasi muda yang telah menikah turun dari 40,46 persen pada 2016 menjadi 27,92 persen pada 2025. 

Sebaliknya, jumlah generasi muda yang belum menikah meningkat dari 58,10 persen menjadi 71,04 persen. Artinya, sekitar tujuh dari sepuluh pemuda berusia 16–30 tahun pada 2025 tercatat belum menikah, menjadikan kelompok lajang sebagai mayoritas mutlak.

Berikut data resmi dari BPS tentang perincian kondisi status pernikahan di kalangan generasi muda Indonesia pada tahun 2025, antara lain:

  • Belum kawin: 71,04 persen

  • Kawin: 27,92 persen

  • Cerai hidup atau cerai mati: 1,04 persen

4. Pemerintah memberikan respons dengan mengadakan program pentingnya menikah

Freepik/bristekjegor

Kementerian Agama turut menaruh perhatian serius terhadap fenomena penurunan angka pernikahan ini. Pemerintah memandang pentingnya penerapan strategi edukatif dan preventif yang berkesinambungan sebagai bentuk respons. Upaya ini dilakukan dengan memotivasi generasi muda agar tidak ragu melangkah ke jenjang pernikahan, dibarengi dengan persiapan diri yang matang.

Pemerintah pusat dan daerah pun menjalankan beragam program edukatif, seperti bimbingan bagi remaja usia sekolah, edukasi kesehatan reproduksi, serta GAS Nikah (Gerakan Sadar Pencatatan Nikah). 

Serangkaian program ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman masyarakat mengenai pentingnya pernikahan yang tercatat secara hukum, sekaligus memastikan kesiapan mental, finansial, dan sosial dalam membentuk rumah tangga.

5. Generasi muda lebih memprioritaskan karier, ekonomi, dan mental terlebih dahulu

Freepik/wirestock

Para pengamat berpendapat bahwa fenomena meningkatnya jumlah generasi muda yang belum menikah erat kaitannya dengan kompleksitas dinamika sosial saat ini. Beberapa faktor yang mendasari keputusan untuk menunda pernikahan ialah seseorang lebih memprioritaskan pendidikan tinggi dan ambisi karier. Selain itu, masalah ekonomi dan kesiapan mental juga menjadi alasan kuat mengapa mereka tidak terburu-buru untuk membangun rumah tangga.

Kemudian, generasi muda yang tinggal di kawasan perkotaan dengan menerapkan gaya hidup urban juga menjadi faktor pernikahannya lebih lambat jika dibandingkan dengan generasi muda yang menetap di pedesaan.

Fenomena tersebut menunjukkan adanya transformasi dalam perspektif generasi muda sekarang mengenai tahap kedewasaan. Saat ini, pernikahan tidak lagi dipandang sebagai parameter tunggal kematangan seseorang, melainkan sebuah keputusan hidup yang diambil berdasarkan pertimbangan yang matang.

6. Angka perceraian terus meningkat

Freepik

Berbanding terbalik dengan angka pernikahan yang terus mengalami penurunan, angka perceraian justru malah meningkat menurut data BPS. Fenomena ini mencerminkan betapa sulitnya menjaga keutuhan rumah tangga di era saat ini.

Kasus perceraian meningkat dari 344.237 pada 2014 menjadi 394.608 pada 2024. Bahkan, kasus ini sempat memuncak pada tahun 2022 dengan jumlah lebih dari 516 ribu kasus di masa pascapandemi Covid-19.

Itulah informasi seputar angka pernikahan di Indonesia terus menurun dalam satu dekade terakhir. Tanpa langkah konkret untuk mengatasi akar permasalahannya, bisa saja tren penurunan terus berlanjut dan membawa dampak jangka panjang bagi struktur demografi di Indonesia.

FAQ Angka Pernikahan di Indonesia

Sejak kapan angka pernikahan di Indonesia terus menurun secara konsisten?

Angka pernikahan di Indonesia terus menurun sejak tahun 2018 (2.016.171), 2019 (1.968.878), 2020 (1.792.548), 2021) (1.742.049), 2022 (1.705.348), 2023 (1.577.255), dan 2024 (1.478.302).

Kapan angka pernikahan paling tinggi di Indonesia terjadi dalam sepuluh tahun terakhir?

Angka pernikahan paling tinggi di Indonesia yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir ini berada di tahun 2014, di mana jumlahnya berkisar 2.110.770.

Bagaimana respons pemerintah menanggapi tren penurunan angka pernikahan di Indonesia?

Kemenag meluncurkan program BRUS, pendidikan kesehatan reproduksi, dan GAS Nikah untuk dorong pernikahan resmi serta kesiapan matang.

Editorial Team