Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Buktikan Bakat Akting, Shaloom Lepas dari Nama Besar Wulan Guritno
Instagram.com/sharazaaa

Intinya sih...

  • Shaloom Razade terpilih murni karena kualitas karakter, bukan karena hubungan keluarga.

  • Wulan Guritno memberikan kebebasan penuh pada Shaloom untuk mengeksplorasi perannya sendiri.

  • Shaloom Razade membangun etos kerja profesional di lokasi syuting dan berhasil membuktikan kemampuannya secara mandiri.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Film Malam 3 Yasinan menjadi salah satu proyek yang paling dinantikan, bukan hanya karena ceritanya yang mencekam, tetapi juga karena kehadiran Shaloom Razade. Ia beradu peran dengan mamanya sendiri, Wulan Guritno. Berada di bawah bayang-bayang nama besar orangtua sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi seorang anak artis, namun Shaloom berhasil membuktikan kualitasnya melalui dedikasi yang tinggi.

Dalam proyek ini, Shaloom memerankan karakter Samira yang menjadi kunci utama dalam mengungkap trauma serta rahasia kelam keluarganya. Kedewasaan dan totalitas akting yang ia tunjukkan membuktikan bahwa keterlibatannya bukan sekadar faktor kedekatan, melainkan hasil dari proses profesional yang panjang.

Menariknya, kolaborasi mama dan anak ini membawa dinamika yang unik di lokasi syuting. Meskipun memiliki ikatan batin yang kuat di kehidupan nyata, keduanya sepakat untuk membangun tembok profesionalisme yang tinggi demi menjaga integritas karya seni yang sedang mereka bangun bersama tim produksi lainnya.

Dalam wawancara eksklusif di IDN HQ pada Jumat (19/12/2025), Wulan Guritno dan Shaloom Razade membagikan kisah di balik layar tentang bagaimana mereka menjaga profesionalitas. Berikut Popmama.com merangkum ceritanya detailnya.

Yuk, disimak!

1. Lolos proses casting murni karena kualitas karakter

Instagram.com/sharazaaa

Meski mamanya menjabat sebagai produser, Shaloom Razade tidak mendapatkan jalan pintas untuk memerankan karakter Samira.

Wulan Guritno mengakui bahwa awalnya ia sempat merasa khawatir akan isu nepotisme dan lebih memilih agar anaknya mencari kesempatan di luar proyek miliknya. Namun, sutradara film ini secara diam-diam melakukan casting dan tetap merasa Shaloom adalah pilihan terbaik.

“Aku titip pesan sama sutradaranya, 'Nggak usahlah (Shaloom) ya, nanti Shaloom ada kesempatan-kesempatan lain. Perjalanannya masih panjang, nggak harus juga main di film gue',” ungkap Wulan Guritno mengenang kekhawatirannya di awal.

Penegasan ini membuktikan bahwa terpilihnya Shaloom murni karena kesesuaian karakter yang dicari oleh tim penyutradaraan melalui proses kompetisi yang adil dan objektif.

2. Diberi kebebasan penuh mengeksplorasi peran mandiri

Popmama.com/Niko Abdullah Dahuri

“Sebagai seorang ibu, aku nggak ingin juga mengoreksi dia. Bukan nggak etis, tapi bukan wewenang kita. Sutradara yang nge-coaching kita,” jelas Wulan Guritno mengenai batasan profesionalnya di lokasi syuting.

Sebagai aktor senior sekaligus mama, Wulan memilih untuk tidak memberikan kritik atau mengajari Shaloom secara langsung di lokasi syuting. Ia sangat menghargai etika profesi dan ingin Shaloom memiliki kebebasan untuk mengeksplorasi perannya sendiri bersama pelatih akting tanpa merasa tertekan oleh kehadirannya.

Wulan lebih memilih memfasilitasi Shaloom dengan coaching clinic intensif. Tujuannya agar sang anak bisa membedah karakter Samira secara mandiri dan bertanggung jawab penuh atas performanya.

3. Membangun etos kerja profesional di lokasi syuting

Popmama.com/Niko Abdullah Dahuri

Shaloom Razade berhasil membuktikan bahwa di lokasi syuting, ia adalah seorang aktor yang serius dan patuh pada tanggung jawabnya. Shaloom menanggalkan statusnya sebagai anak dan melihat Wulan Guritno sebagai rekan kerja serta produser yang harus ia hormati secara profesional. Tujuannya tentu demi memberikan performa terbaik.

“Aku udah bukan melihat kehadiran mama di situ sebagai mama aku, lebih ke teman cast dan ibu produser. Emang udah dibangun dari awal seprofesional mungkin,” tutur Shaloom Razade mengenai komitmennya.

Wulan pun memuji keseriusan Shaloom yang mau belajar dan menjalani proses panjang, mulai dari reading hingga syuting larut malam yang menguras energi fisik maupun emosi.

Pada akhirnya, keterlibatan Shaloom Razade dalam film Malam 3 Yasinan menjadi sebuah pembuktian jati diri bahwa ia mampu bersinar karena bakatnya sendiri. Keberhasilannya lepas dari bayang-bayang nama besar sang mama menunjukkan bahwa kerja keras dan penggunaan hati dalam setiap peran adalah kunci utama kesuksesan seorang aktor.

Semoga kisah profesionalitas antara mama dan anak ini bisa menginspirasi. Terutama dalam mendukung minat serta bakat si Kecil dengan cara yang tepat ya, Ma.

FAQ Seputar Peran Wulan dan Shaloom

Bagaimana reaksi Wulan Guritno saat Shaloom terpilih dalam film yang ia produseri?

Wulan Guritno awalnya sempat menolak karena ingin menghindari kesan nepotisme dan berharap Shaloom berkembang di proyek lain. Namun, setelah sutradara melakukan casting mandiri dan tetap memilih Shaloom, Wulan akhirnya menyetujuinya demi kebutuhan karakter di film tersebut.

Apa pesan penting Wulan Guritno bagi karier akting Shaloom?

Wulan Guritno menekankan pentingnya menjalani pekerjaan dengan tanggung jawab, profesionalitas tinggi, dan yang paling utama adalah menggunakan hati dalam setiap peran agar penonton bisa merasakan emosi yang disampaikan.

Bagaimana Shaloom membedakan perannya saat bekerja dengan mamanya?

Shaloom membangun batasan tegas sejak awal dengan melihat Wulan Guritno sebagai rekan kerja dan produser, bukan sebagai orangtua selama berada di lingkungan syuting.

Editorial Team