Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ernest Prakasa Jadi Support System Bene Dion, Dukung Mimpi Besarnya
Popmama.com/Aril Tri Yusgiantara
  • Ernest Prakasa dan Dipa Andika mendukung Bene Dion Rajagukguk mengembangkan ide film musikal Batak Pulang Kampung, meski awalnya dinilai sebagai mimpi yang sangat besar.

  • Sebagai produser, Ernest Prakasa memberi Bene Dion ruang menjalankan visi kreatifnya serta melibatkan Viky Sianipar dan Dimas Praditya untuk menangani musik dan koreografi.

  • Kepercayaan Ernest Prakasa berangkat dari kecintaan Bene terhadap budaya Batak. Pulang Kampung menjadi film musikal Batak pertama Imajinari dan dijadwalkan tayang 26 November 2026.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mewujudkan sebuah mimpi terkadang tidak cukup hanya dengan keberanian untuk memulainya. Kehadiran orang yang mau percaya, memberi ruang, dan membantu menemukan jalan juga bisa menjadi bagian penting dalam perjalanan seseorang mengejar impiannya.

Hal tersebut turut terlihat dalam hubungan kerja Ernest Prakasa dan Bene Dion Rajagukguk saat menggarap film Pulang Kampung. Sebagai produser, Ernest tidak sekadar mendukung ide Bene, tetapi juga memberikan kepercayaan agar sang kreator dapat mengembangkan visinya bersama orang-orang yang tepat.

Ernest bahkan mengaku ide Bene untuk membuat film musikal Batak awalnya terdengar seperti mimpi seorang anak kecil yang ingin menjadi astronot. Meski begitu, Ernest dan Dipa Andika tetap memilih untuk percaya hingga gagasan tersebut akhirnya diwujudkan menjadi film musikal Batak pertama Imajinari.

Berikut Popmama.com rangkum bentuk support system Ernest Prakasa untuk Bene Dion Rajagukguk dalam mewujudkan film Pulang Kampung.

1. Tetap percaya meski mimpi Bene terdengar sulit diwujudkan

Dok. thePublicist Haus

Ernest Prakasa mengaku sempat merasa ide Bene Dion untuk membuat film musikal merupakan sesuatu yang sangat besar. Ernest bahkan menggambarkan momen ketika Bene menyampaikan keinginannya seperti seorang anak kecil yang memiliki cita-cita menjadi astronot.

"Bene tuh pertama kali ngomong ke gue pengin bikin musikal tuh buat gue kayak anak kecil, 'Aku mau jadi astronot!'," ujar Ernest.

Meski terdengar tidak biasa, Ernest tidak langsung meminta Bene mengurungkan niatnya. Bersama Dipa, ia justru memberikan kesempatan kepada Bene untuk menuangkan terlebih dahulu ide tersebut ke dalam cerita sebelum menentukan langkah berikutnya.

"Saya bilang ya udah bikin aja dulu, bikin aja dulu nanti kita discuss lagi," tutur Dipa Andika mengenai responsnya terhadap ide Bene.

2. Memberi ruang, namun bukan mengambil alih mimpi Bene Dion

Popmama.com/Aril Tri Yusgiantara

Salah satu bentuk dukungan yang diberikan Ernest Prakasa, yakni memercayai Bene Dion untuk menjalankan visi kreatifnya. Ernest menyadari bahwa Bene mungkin tidak menguasai seluruh aspek musikal, tetapi hal tersebut bukan alasan untuk menghentikan ide yang sudah diyakininya.

"Kita tahu ini adalah musikal etnis pertama di layar lebar Indonesia, jadi kita bangga tapi kita juga waswas gitu ya, sambutannya akan seperti apa," ungkap Ernest.

Alih-alih mengambil alih bagian yang tidak dikuasai Bene, Ernest memastikan ada orang-orang yang ahli untuk mendampinginya. Mulai dari Viky Sianipar sebagai penata musik hingga Dimas Praditya sebagai koreografer, setiap orang memiliki peran untuk membantu menerjemahkan visi Bene.

"Tapi kita percaya sama kemampuan Bene menulis skenario. Jadi selama didampingi oleh orang-orang yang specialized di bidangnya masing-masing, harusnya aman," jelas Ernest.

3. Memahami mimpi Bene Dion dan menjadi support system di baliknya

Dok. thePublicist Haus

Kepercayaan Ernest Prakasa terhadap Bene Dion juga tidak muncul tanpa alasan. Ernest memahami bahwa keinginan Bene membuat film musikal Batak bukan sekadar ide yang muncul sesaat, melainkan berangkat dari kecintaannya terhadap budaya Batak.

"Bene itu memang cinta kali sama budaya Batak gitu, bukan iseng aja, memang dia cinta banget," ujar Ernest.

Dari hubungan tersebut, terlihat bahwa menjadi support system tidak selalu berarti harus ikut mengerjakan semua hal. Terkadang, bentuk dukungan justru hadir dengan cara percaya pada kemampuan seseorang, memahami alasan di balik mimpinya, lalu membantu menyediakan lingkungan yang membuatnya mampu berkembang.

Hubungan Ernest dan Bene di balik Pulang Kampung pun memperlihatkan bahwa perjalanan mengejar mimpi bisa terasa lebih mungkin ketika seseorang memiliki support system yang bersedia berkata, "coba dulu," alih-alih langsung mengatakan bahwa mimpi tersebut terlalu sulit. Film ini menjadi salah satu hasil dari kepercayaan tersebut setelah ide Bene yang terdengar seperti mimpi besar akhirnya berhasil diwujudkan ke layar lebar.

Itulah rangkuman bentuk support system Ernest Prakasa untuk Bene Dion Rajagukguk dalam mewujudkan film musikal Pulang Kampung.

Hubungan Ernest dan Bene mengingatkan bahwa dukungan terbaik terkadang bukan tentang mengambil alih mimpi seseorang, melainkan menjadi orang yang tetap percaya ketika mimpi tersebut terasa terlalu besar untuk diwujudkan. Saksikan Pulang Kampung di bioskop mulai 26 November 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article