Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
6 Fakta OST Film Para Perasuk yang Dinyanyikan Maudy Ayunda
Popmama.com/Ilham Syakur Fidina
  • Maudy Ayunda merilis dua lagu baru berjudul ‘Aku yang Engkau Cari’ dan ‘Di Tepi Lamunan’ sebagai original soundtrack film Para Perasuk.

  • Proses pembuatan lagu ‘Aku yang Engkau Cari’ berlangsung cepat, kurang dari satu jam, menggambarkan tema harapan dan menunjukkan kekompakan kreatif antara Maudy Ayunda dan Lafa.

  • Lagu ‘Di Tepi Lamunan’ lahir dari ide voice note Maudy Ayunda, berkembang menjadi karya bernuansa dreamy, dan imajinatif yang menggambarkan dua dunia, yakni perasuk dan pelamun.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Bertahun-tahun berkarya, penyanyi Maudy Ayunda baru-baru ini merilis lagu barunya pada awal tahun 2026. Bukan hanya satu lagu, melainkan dua lagu, yakni ‘Aku yang Engkau Cari’ dan ‘Di Tepi Lamunan’. Bahkan, kedua lagu tersebut dibuat oleh Maudy Ayunda bukan sebatas single biasa, tetapi juga menjadi OST untuk film Para Perasuk.

Dalam pembuatan kedua lagu tersebut, Maudy Ayunda merasa antusias karena diberikan ‘lampu hijau’ untuk ikut berkontribusi membuat OST film Para Perasuk. Selain itu, banyak fakta menarik dari kedua lagu tersebut, mulai dari proses pembuatan hingga makna lagunya.

Seperti apa fakta menariknya, ya? Berikut Popmama.com akan membagikan informasi seputar fakta OST film Para Perasuk.

Yuk, simak selengkapnya!

1. Antusias dalam membuat original soundtrack film Para Perasuk

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Saat mendapatkan lampu hijau untuk membawakan original soundtrack untuk film Para Perasuk, tentunya ia amat antusias untuk membuat lagunya. Bersama Lafa Pratomo, selaku pencipta lagu dan produser, Maudy Ayunda memulai bekerja sama. Sebelum membuat lagu untuk film Para Perasuk, Maudy Ayunda mengungkapkan bahwa ia sudah beberapa kali bekerja sama dengan produser tersebut.

“Sebenarnya aku sama Mang Lafa itu sudah bekerja sama beberapa kali di album. Terus kebetulan di soundtrack film juga pernah sekali. Jadi ada sejarahnya sebenarnya,” ungkap Maudy.

Usai mendapatkan kesempatan untuk ikut terlibat dalam pembuatan soundtrack film tersebut, Maudy langsung memikirkan konsep dan arah musikal yang tepat agar bisa cocok dengan nuansa film Para Perasuk. Maka dari itulah, terbesit di pikiran Maudy bahwa Lafa Pratomo adalah orang yang cocok.

“Aku langsung kepikiran, kayaknya siapa nih sosok produser yang akan bisa mengerti, kayak rasa dan warna dari film Para Perasuk. Aku langsung kepikiran Mang Lafa gitu karena pernah kerja bareng dan juga rasanya akan seru berproses sama kamu, Mang,” sambungnya.

Dari kolaborasi tersebut, keduanya telah menciptakan lima hingga enam lagu. Maudy Ayunda juga mengungkapkan alasan ia bisa bekerja sama dengan Lafa Pratomo karena ia merasakan adanya kenyamanan, rasa aman, serta saling pengertian dalam proses berkarya. Hal ini menunjukkan bahwa hubungan kreatif keduanya sudah terjalin kuat.

2. Pembuatan lagu ‘Apa yang Engkau Cari’ yang kurang dari satu jam

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Lafa Pratomo mengungkapkan bahwa proses pembuatan lagu ‘Aku yang Engkau Cari berlangsung sangat cepat. Setelah menonton filmnya, mereka langsung memahami arah emosi yang ingin disampaikan, sehingga dalam waktu kurang dari satu jam lagu tersebut sudah terbentuk.

“Yang menarik, pas kita bikin 'Aku yang Engkau Cari' kita dapat lagu itu dulu, ya. Kita dapat lagu itu kurang dari satu jam. Kita masuk studio, setengah jam sudah jadi karena kita kan nonton dulu filmnya terus kayak, 'Oh, kita sudah tau apa yang mau dituju',” ujar Lafa Pratomo.

Lagu ‘Apa yang Engkau Cari’ sendiri mengangkat tema harapan tentang sesuatu yang diraih atau sempat hilang lalu kembali. Kecepatan proses ini menunjukkan kuatnya intuisi dan keselarasan visi di antara keduanya saat berkarya.

“Lagu 'Aku yang Engkau Cari' itu kan lagu tentang harapan yang ingin digapai dan sebagainya, harapan yang hilang lalu dia kembali dan sebagainya,” jelasnya.

3. Lagu ‘Di Tepi Lamunan’ yang berawal dari voice note Maudy Ayunda

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Tak berhenti di satu lagu, Maudy Ayunda juga memperkenalkan draft lagu lain yang ia rekam dalam bentuk voice note. Ide sederhana tersebut kemudian menarik perhatian Lafa Pratomo untuk dikembangkan bersama. Dari sketsa awal itu, lahirlah lagu ‘Di Tepi Lamunan’ yang kemudian digarap lebih serius.

“Lalu karena waktu kita masih banyak, waktu itu Mod (panggilan Maudy Ayunda) ngasih satu draft lagu. Dia bikin sketsa lagu di voice note-nya, lalu dia kasih dengar. Oh, ini kayaknya menarik juga deh (lagu draft Maudy Ayunda), kita bisa bikin aja, yuk. Itu lagu yang baru saat ‘Di Tepi Lamunan’, terus kita bikin,” kata Lafa Pratomo.

Menariknya, versi awal dari lagu ‘Di Tepi Lamunan’ direkam secara sederhana, yakni hanya dengan satu mikrofon, gitar, dan dilakukan dalam satu kali take. Maudy bahkan menyebut bahwa dalam demo awal masih terdengar suara Lafa Pratomo.

Adapun versi akhirnya yang sudah rilis di platform streaming, terdapat banyak pengembangan. Maudy menjelaskan bahwa ada penambahan nuansa baru yang terasa lebih “noir”, serta perubahan tempo yang membuat lagu semakin dinamis.

“Kalau tadi kan hanya akustik saja dengan gitar gitu ya, ada banyak nuansa-nuansa baru yang memang rasuk. Jadi noir. Terus ada tempo yang tiba-tiba berubah di tengah lagunya yang juga asik banget,” tutur Maudy.

4. Lagu ‘Di Tepi Lamunan’ lahir dari rasa penasaran yang belum tuntas

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Lagu ‘Di Tepi Lamunan’ sendiri mencerminkan proses kreatif dari Maudy Ayunda yang belum selesai sepenuhnya. Awalnya mereka hanya berniat membuat satu lagu, tapi dikarenakan masih ada rasa penasaran yang akhirnya mendorong mereka untuk eksplorasi lebih lanjut.

Perasaan “belum puas” itulah yang akhirnya membuat Maudy terus mengulik ide bersama hingga tercipta karya tambahan yang tak kalah kuat secara emosional.

“Sebenarnya lagu ‘Di Tepi Lamunan’ tuh, kenapa dia di tepi karena sebenarnya intensinya pertama kali adalah cuma bikin satu lagu, tapi kayak masih ada rasa terusik, masih ada rasa penasaran yang yang mengapa nggak selalu ready untuk ‘Ayo kita coba’. Kalau memang masih gatel, kita terus kulik bareng gitu,” ucap Maudy.

5. Lagu ‘Di Tepi Lamunan’ yang menggambarkan dua dunia yang berbeda

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Lebih lanjut, Maudy Ayunda menyebutkan bahwa lirik dari lagu ‘Di Tepi Lamunan’ menggambarkan dua dunia sekaligus. Dunia pertama adalah sisi “perasuk” yang hadir sebagai sosok yang menenangkan untuk “pelamunnya” dunia lamunan, sementara di sisi lain untuk orang yang mencari rasa aman dan nyaman.

Jika melihat dari sudut pandang sosok perasuk yang seolah berbicara kepada pelamun. kalau ia akan memberikan rasa aman dengan pesan bahwa ia selalu ada di “ujung lamunan” untuk membawa kembali seseorang.

“Di satu sisi yang menyanyikan ini adalah seorang perasuk yang ngomong bahwa ‘Tenang saja, aku ada di sini’. Di tepi lamunan itu maksudnya di ujung perasukkan ini, ada aku yang akan mengambil kamu kembali, ada aku di ujung khayalmu, ada aku di ujung lamunan. Jadi sebenarnya ini kayak seorang perasuk yang menyanyikan lagu untuk pelamunnya,” jelas Maudy.

Selain sudut pandang perasuk, lagu ini juga bisa dimaknai sebagai ruang aman bagi siapa pun yang sedang dilanda keresahan. Lagu ini menjadi representasi keinginan untuk beristirahat sejenak dari beban hidup dan mencari ketenangan.

“Tapi, di sisi lain ini juga lagu buat siapa pun yang mencegah punya keresahan, yang ingin mencari tempat rehat sejenak, ingin mencari pelarian, ingin berselindar di orang yang dia sayangi dan bisa memeluk dia,” lanjut Maudy.

Bagi yang mendengarkan lagu ini, Maudy memberi kebebasan untuk memilih interpretasi, apakah ingin melihatnya sebagai kisah perasuk dan pelamun atau sebagai ungkapan emosional tentang kebutuhan akan tempat bersandar. 

6. Original soundtrack film Para Perasuk yang dibuat Maudy Ayunda terasa lebih dreamy dan penuh imajinasi

Popmama.com/Ilham Syakur Fidina

Dalam lagu ‘Aku yang Engkau Cari’ dan ‘Di Tepi Lamunan’, pendekatan musiknya terasa lebih dreamy dan penuh imajinasi. Menurut Lafa Pratomo, lagu ini terasa lebih “nawang” atau melayang dibanding karya-karya Maudy sebelumnya, terutama pada lagu ‘Aku yang Engkau Cari’.

“Menurutku dari lagu-lagu Maudy yang sebelumnya, start musik mungkin ini lebih dreamy, lebih nawang, lebih berkhayal, terutama di lagu yang ‘Aku yang Engkau Cari’,” ungkap Lafa Pratomo.

Meski terasa lebih dreamy, Lafa Pratomo tetap mempertahankan elemen ritmis dan perkursif dalam lagu yang dibawakan Maudy Ayunda tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri, karena ia ingin menciptakan keseimbangan antara musik yang tetap “hidup” dengan atmosfer yang terasa seperti memasuki dimensi lain.

“Aku berusaha gimana caranya bikin satu lagu yang masih tetap ritmis, masih tetap perkursif, tapi kita tuh kayak masuk ke satu alam yang lain. Jadi agak lebih mistis, ya. Mistisnya bukan mistis seram,” sambung Lafa Pratomo.

Itulah informasi seputar fakta OST film Para Perasuk. Apakah Mama sudah mendengarkan kedua lagu dari Maudy Ayunda ini?

FAQ Lagu OST Film Para Perasuk

Kapan lagu Maudy Ayunda untuk OST film Para Perasuk rilis?

Lagu ‘Aku yang Engkau Cari’ rilis pada 18 Januari 2026, sementara lagu ‘Di Tepi Lamunan’ rilis pada 29 Maret 2026.

Apa representasi dari lirik lagu OST film Para Perasuk?

Lirik lagu OST film Para Perasuk merepresentasikan perjalanan karakter utama dari film ini, Bayu.

Apa inspirasi Maudy Ayunda dalam menciptakan lagu ‘Aku yang Engkau Cari’?

Maudy Ayunda terinspirasi menciptakan lagu ‘Aku yang Engkau Cari’ ketika dirinya ikut bermain peran saat di lokasi untuk film Para Perasuk.

Editorial Team