5 Alasan Perempuan Tetap Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT

Korban biasanya terjebak dalam siklus atau pola yang dibuat oleh pelaku KDRT!

30 Juni 2021

5 Alasan Perempuan Tetap Bertahan dalam Pernikahan Penuh KDRT
Freepik/master1305

Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kerap kali terjadi pada perempuan. Meski begitu, korban KDRT lebih memilih bertahan meskipun mendapat perlakuan tak menyenangkan dari pasangannya. 

Hal ini lantaran, korban terjebak dalam siklus atau pola yang dibuat oleh pelaku KDRT. Mereka bertahan dengan harapan bahwa suatu saat keadaan akan membaik. Namun, tidak ada jaminan suaminya bisa berubah dan berhenti melakukan tindak kekerasan.

Nah, berikut beberapa alasan lainnya kenapa perempuan tetap bertahan dalam pernikahan yang penuh KDRT. Kali ini Popmama.com telah merangkumnya dari berbagai sumber.

Yuk Ma, disimak!

1. Percaya bahwa pasangannya masih mencintainya

1. Percaya bahwa pasangan masih mencintainya
Freepik/drobotdean

Siklus KDRT berawal dari konflik rumah tangga lalu terjadi kekerasan sebagai bentuk hukuman atau pelampiasan emosi. Setelahnya, pelaku jadi merasa bersalah dan minta maaf pada korban. Di titik inilah biasanya mereka menggoyahkan keyakinan istrinya. 

Setelah permintaan maaf yang tampaknya tulus tersebut, rasanya sulit untuk tetap marah dan membenci suaminya. Mereka percaya bahwa pasangannya masih mencintainya.

Padahal, ada kemungkinan besar tindakan kekerasan tersebut akan berlanjut. 

Editors' Picks

2. Menganggap kalau dirinya yang bersalah

2. Menganggap kalau diri bersalah
Freepik

Para korban biasanya berpikir bahwa dirinya yang pantas disalahkan atas perilaku kasar suaminya. Oleh karenanya, saat terjadi pertengkaran, mereka memilih mengalah atau menuruti keinginan pasangannya.

Belum lagi para pelaku KDRT biasanya sangat manipulatif. Mereka mencoba membuat korbannya berpikir bahwa mereka pantas mendapat perlakuan ini.

Pelaku biasanya mengatakan sesuatu seperti, "Hal ini tidak akan terjadi kalau sejak awal kamu mau nurut dan tidak membantah!"

Padahal, terlepas dari kesalahan apapun yang Mama perbuat, rasanya tidak pantas untuk memberikan hukuman dengan kekerasan fisik.

3. Merasa kalau kejadian ini yang terakhir

3. Merasa kalau kejadian ini terakhir
Pexels/Liza Summer

Setelah menerima perlakuan kasar, hal ini bisa terasa sangat membingungkan. Terutama jika kejadian ini adalah yang pertama. Mama mungkin tidak yakin apa yang akan terjadi selanjutnya, sehingga hanya bisa pasrah pada keadaan.

Perlu diketahui bahwa jika seseorang berperilaku kasar sekali, kemungkinan besar mereka cenderung akan melakukannya lagi.

4. Masih berharap suaminya akan berubah

4. Masih berharap suami akan berubah
Freepik

Setelah terjadi kekerasan yang berulang kali, korban tampaknya masih punya sedikit harapan bahwa suaminya hanya melakukan kesalahan dan khilaf semata.

Hal ini lantaran, para pelaku cenderung memanipulasi istrinya dengan berbagai janji-janji manis yang mengatakan bahwa mereka akan berubah. Mereka juga melakukan hal-hal manis untuk menebus kesalahan dan berpura-pura seolah kekerasan tersebut tidak pernah terjadi.

5. Takut dengan pembalasan dari pelaku

5. Takut pembalasan dari pelaku
Freepik

Sangat wajar untuk merasa takut saat memutuskan untuk keluar dari pernikahan penuh KDRT. Korban mungkin merasa tidak aman dan takut, sebab pelaku bisa saja berbuat hal-hal yang akan mencelakai istrinya atau diri mereka sendiri.

Selain itu, tak mudah untuk berjuang sendiri agar bisa lepas dari siklus KDRT ini. Perlu ada dukungan dari orang sekitar untuk mendampingi.

Nah Ma, itulah beberapa alasan kenapa perempuan tetap bertahan dalam pernikahan penuh KDRT. Yuk, beri dukungan untuk semua korban KDRT, mereka pantas untuk merasa aman dan bahagia.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.