Instagram.com/amingisback
Di usia 9 tahun, Tokek mulai menyakiti hewan. Bukan karena ia terlahir kejam, melainkan karena itu satu-satunya cara yang ia temukan untuk melampiaskan rasa sakit yang tidak pernah ada tempat untuk diungkapkan.
Lewat proses pendalaman karakter ini, yang muncul bukan sekadar simbol kejahatan, tetapi individu dengan perjalanan hidup yang kompleks.
Aming mengaku bahwa karakter yang ia mainkan merupakan hasil diskusi panjang dengan Joko Anwar lewat character sheet yang detail, ditambah dengan penggalian pengalaman pribadinya, termasuk trauma masa lalu. Transformasi Aming sebagai Tokek pun disebut-sebut sebagai salah satu penampilan paling memukau dan paling mengerikan dalam film ini.
Itulah tadi kisah hidup Tokek, karakter yang diperankan Aming di film Ghost in the Cell, yang jauh lebih kompleks dari sekadar label "penjahat".
Dari penjara sebagai tempat lahir hingga kekerasan sebagai satu-satunya bahasa yang ia kenal, Tokek mengingatkan kita bahwa di balik setiap orang yang dianggap rusak. Hampir selalu ada cerita tentang bagaimana sistem, keluarga, dan lingkungan lebih dulu gagal menyelamatkan mereka.
Apakah Aming pernah menyampaikan bagaimana proses fisiknya berubah untuk memerankan Tokek? | Ya. Aming sempat mengalami dislokasi pergelangan tangan saat proses syuting berlangsung, namun Joko Anwar selalu memastikan kondisinya baik-baik saja selama produksi. |
Apakah ada lagu khusus yang dikaitkan dengan karakter Tokek di film ini? | Ada. Lagu anak-anak 'Cicak-Cicak di Dinding' diaransemen ulang dengan nada yang lebih horor karena Joko Anwar merasa lirik lagu tersebut sangat cocok mencerminkan karakter Tokek, yang dalam film ini justru membawa sial bagi orang-orang di sekitarnya. |
Apakah Ghost in the Cell sudah mendapat pengakuan internasional sebelum tayang di Indonesia? | Sudah. Film Ghost in the Cell diputar di ajang Berlin International Film Festival (Berlinale) pada 13 Februari 2026, dan tiketnya habis terjual dalam waktu cepat dengan antrean mengular hingga ke luar ruang teater. |