Dok. BASE Entertainment Indonesia
Sepanjang film, Cimot hanya bisa menumpahkan seluruh isi hati, mulai dari keluh kesah hingga momen-momen menyenangkan kepada mamanya saja. Bahkan, setelah mamanya sudah tiada, Cimot lebih memilih berinteraksi dengan sosok i-BU yang menyerupai mamanya ketimbang dengan papanya.
Melihat Cimot yang lebih memilih berinteraksi dengan i-BU, membuat Hendi merasa kehadirannya tidak dihargai. Padahal, Hendi sudah berusaha untuk membangun kedekatan dengan Cimot usai istrinya meninggal dunia.
Hal ini menunjukkan bahwa Cimot tidak bisa terbuka terhadap kedua orangtuanya. Sekali pun mamanya telah meninggal dunia dan di keluarganya hanya tersisa papanya saja, lebih baik ia membuat AI dengan wujud Laras dan menceritakan segala hal dengannya.
Pelajaran yang bisa kita petik dari momen ini supaya anak bisa lebih terbuka dan jujur soal perasaan yang tengah dialaminya kepada orangtua. Dengan begitu, anak dan orangtua bisa menjalankan hubungan dengan sehat dan penuh kejujuran.
Namun, dengan catatan bahwa orangtua tak bisa asal menghakimi perasaan seorang anak. Lewat dinamika tiap karakternya, kita diingatkan kalau ternyata kunci agar anak bisa lebih terbuka itu bukan hanya soal keberanian anak untuk bercerita, tapi juga tentang bagaimana orangtua menciptakan ruang aman yang tidak menghakimi.
Ketika komunikasi tidak lagi didasari oleh penghakiman, maka anak akan merasa divalidasi dan lebih berani mengungkapkan isi hati maupun kerapuhan mereka tanpa rasa takut.
Bagi anak yang merasa kesulitan untuk terbuka terhadap orangtuanya itu dikarenakan sering mengalami respons negatif, tak ingin orangtua kecewa atau khawatir, atau mungkin prinsip yang dijalankan tidak sejalan dengan orangtuanya.
Jika anak bisa terbuka dan jujur kepada orangtuanya, emosi anak akan menjadi stabil, terhindar dari gangguan mental, hingga terhindar dari perilaku negatif. Seperti contohnya, Cimot yang berusaha untuk kembali semangat secara instan dengan mengambil jalan keluar meminum suplemen yang sebenarnya tidak dianjurkan oleh mamanya.
Dengan menciptakan atmosfer yang suportif, hubungan antara orangtua dan anak dapat bertransformasi menjadi ikatan yang lebih transparan, di mana setiap rahasia dan beban dapat dibagi dengan penuh kasih sayang.