Akibat peristiwa ini, Balandina telah menghabiskan waktu selama sebulan terakhir dirawat di berbagai rumah sakit di seluruh negeri. Dokter terpaksa harus melakukan amputasi terhadap kedua kaki dan empat jari tangan kirinya.
Balandina yang mengalami hal tersebut merasa putus asa, bahkan tidak ingin hidup lagi. Ia bahkan tidak ingin menjadi beban bagi siapa pun di keluarganya.
"Tapi berkat dukungannya, saya menerimanya. Saya harus tetap hidup. Ini bukan akhir dari hidup. Jika Tuhan membiarkan saya hidup, itulah takdir saya," kata Balandina.
Dilansir dari Reuters, pasangannya, Vasyliv, mengatakan bahwa dirinya sangat takut sekali untuk kehilangan Balandina. Meski begitu, ia bersyukur untuk setiap hari yang ia bagikan bersama sang istri barunya.
"Saya takut kehilangan dia. Saya ingin menangis, tetapi saya tidak bisa menangis. Saya terkejut, saya tidak dapat memahami bahwa itu benar-benar terjadi. Sangat menakutkan kehilangan orang yang saya cintai," ujarnya.
Balandina sendiri sudah memiliki dua orang anak, yaitu seorang anak laki-laki berusia 7 tahun, dan seorang anak perempuan berusia 5 tahun. Anak-anaknya tersebut sekarang aman bersama kakek dan nenek mereka di wilayah Poltava di Ukraina Tengah.
Meski sudah aman, Balandina memiliki keinginan untuk dapat bertemu dengan anak-anaknya dan kembali ke kota Lysychansk. Ia merasa khawatir dengan anak-anaknya yang saat ini tidak sedang bersama-sama dirinya.
"Saya ingin kembali ke kota kami, ke Lysychansk, tetapi terus terang, saya khawatir dengan anak-anak saya. Ketika perang berakhir, akan ada banyak hal yang terjadi," kata Balandina.