5 Fakta Retensi Urine setelah Melahirkan

Gejalanya bisa dimulai sejak awal kehamilan

29 November 2021

5 Fakta Retensi Urine setelah Melahirkan
Pexels/Polina Zimmerman

Selama kehamilan, sering ke kamar mandi adalah hal yang umum terjadi. Namun pada satu atau dua hari pertama setelah melahirkan, apakah Mama masih terus mengalaminya?

Ketidaknyamanan itu bisa menyebabkan stres pada kandung kemih meninggalkan efek jangka panjang. Dimana kondisi tersebut dinamakan retensi urine.

Dalam artikel ini Popmama.com akan membantu Mama mempelajari lebih lanjut tentang retensi urine setelah melahirkan. Yuk, lihat ulasannya!

1. Apa saja penyebab retensi urine?

1. Apa saja penyebab retensi urine
Pexels/MART PRODUCTION

Dimulai dengan awal kehamilan, kondisi retensi urine bisa bertahan setelah melahirkan. Bahkan Mama juga bisa alami lebih dari 6 jam pasca persalinan.

Sedangkan penyebab retensi urine postpartum sendiri sebenarnya masih belum jelas. Beberapa penyebab fisiologis, neurologis dan mekanis yang mungkin bertanggung jawab adalah:

  • Peningkatan kadar progesteron, yang menghambat otot kandung kemih dan menyebabkan retensi urine.
  • Persalinan pervaginam yang traumatis pada otot dasar panggul dan sarafnya mengakibatkan floppy tone atau penurunan sensitivitas kandung kemih.
  • Edema jaringan di sekitar uretra dan vulva akibat persalinan pervaginam. Kondisi ini menyebabkan obstruksi uretra dan menyebabkan retensi urine.
  • Menahan saat buang air kecil karena sakit saat buang air kecil.

Editors' Picks

2. Apa saja gejala dari retensi urine?

2. Apa saja gejala dari retensi urine
Pexels/Anna Shvets

Pada umumnya, gejala retensi urine akut pada sebagian perempuan pasca persalinan mungkin termasuk:

  • Ketidakmampuan untuk buang air kecil
  • Memiliki rasa sakit yang sering kali di perut bagian bawah 
  • Pembengkakan perut bagian bawah
  • Kurangnya keinginan untuk buang air kecil

Di lain waktu, retensi urine pasca persalinan tanpa memiliki gejala dan dianggap tersembunyi atau mungkin tidak terdeteksi. Namun retensi urine kronis bisa berkembang dari waktu ke waktu dan menyebabkan sedikit atau tanpa gejala seperti:

  • Ketidakmampuan untuk benar-benar mengosongkan kandung kemih saat buang air kecil
  • Sering buang air kecil dalam jumlah sedikit
  • Kesulitan memulai aliran urine yang disebut keragu-raguan
  • Aliran urine yang lambat
  • Kebutuhan mendesak untuk buang air kecil, tetapi dengan sedikit keberhasilan
  • Merasa ingin buang air kecil setelah selesai buang air kecil

3. Apa saja faktor risiko retensi urine?

3. Apa saja faktor risiko retensi urine
Pexels/Anete Lusina

Bahwa faktor usia lanjut, riwayat hipertensi dan diabetes mellitus secara signifikan meningkatkan risiko retensi urine. Pada pasien dengan faktor risiko ini, retensi itu sendiri menyebabkan infeksi kandung kemih. Selain itu, komplikasi termasuk infeksi dan gagal ginjal.

Namun pada banyak perempuan, berikut adalah beberapa elemen yang berpotensi alami retensi urine:

  • Kurangnya kateterisasi kandung kemih selama persalinan
  • Persalinan tahap kedua dan ketiga yang berkepanjangan
  • Episiotomi (pemotongan bedah yang dilakukan pada vagina selama persalinan)
  • Analgesia epidural (diberikan epidural regional selama persalinan)
  • Robekan perineum dan ruptur sfingter

4. Bagaimana diagnosis retensi urine?

4. Bagaimana diagnosis retensi urine
Pexels/MART PRODUCTION

Retensi urine pasca melahirkan dapat diklasifikasikan sebagai kondisi yang tidak diketahui. Namun mereka yang memiliki volume residu pasca berkemih lebih dari 150 cc atau tidak dapat berkemih secara spontan, kateter akan dipasang selama 24 jam tambahan.

Setelah 48 jam dari diagnosis retensi urine pasca persalinan, kateter yang menetap akan dimasukkan untuk waktu tambahan yang diatur di setiap pusat dengan protokol umum.

Jika Mama tidak bisa berkemih dalam waktu 6 jam usai melahirkan, kondisi ini akan didiagnosi sebagai retensi urine yang menggunakan salah satu dari cara berikut:

  • Setelah pasien berkemih sekali, kateter digunakan untuk mengeluarkan urine yang tertahan di kandung kemih.
  • Volume urine diukur dan jumlah lebih dari 150ml menunjukkan retensi urine pasca persalinan.
  • Volume urine yang tertahan juga dapat dideteksi dengan USG.

5. Apa saja perawatan untuk retensi urine?

5. Apa saja perawatan retensi urine
Pexels/Karolina Grabowska

Ketika Mama alami retensi urine setelah melahirkan, maka sebaiknya segera temui dokter untuk mendapat perawatan. Ini agar tidak alami buang air kecil atau mengalami sakit yang parah di bagian perut.

Pengobatannya sendiri, yakni pasien akan diresepkan obat-obatan oleh dokter. Bahkan mungkin meresepkan Mama dengan kateter intermiten untuk membantu menguras sepenuhnya.

Jika Mama memiliki resep untuk kateter intermiten, usahakan agar ikuti panduan lengkap tentang cara memilih kateter terbaik. Termasuk membuat pertimbangan penting seperti portabilitas, risiko infeksi dan ukurannya.

Itulah fakta mengenai retensi urine pasca persalinan. Cobalah melakukan latihan dasar panggul untuk memperkuat otot-otot Mama, ya!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.