Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Cara Mengejan untuk Menghindari Pembuluh Darah di Mata Pecah
Popmama.com/Nadya Julyanti/AI
  • Penelitian menunjukkan 10–16% ibu melahirkan mengalami pecah pembuluh darah di mata akibat tekanan berlebih saat mengejan yang salah arah ke kepala, bukan karena proses persalinan itu sendiri.
  • Teknik open-glottis, isolasi tenaga ke otot perut dan panggul, serta posisi tubuh C-curve membantu mengalihkan tekanan dari wajah ke panggul agar aliran darah tetap stabil dan aman.
  • Mengikuti dorongan alami tubuh, menerapkan napas panting saat crowning, dan relaksasi di jeda kontraksi efektif menjaga tekanan darah tetap seimbang serta mencegah mata merah pasca melahirkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Tahukah Mama? Ada fakta medis yang cukup mengejutkan mengenai perjuangan dalam persalinan normal. Berdasarkan penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Ophthalmology, sekitar 10% hingga 16% Mama mengalami pecahnya pembuluh darah di mata atau hemorrhage subconjunctival saat proses mengejan. Kondisi yang ditandai dengan munculnya bercak merah cerah pada bagian putih mata ini terjadi akibat lonjakan tiba-tiba dalam tekanan darah vena di area wajah, yang membuat pembuluh darah kapiler yang sangat halus di mata tidak mampu menahan tekanan dan akhirnya pecah.

Sebenarnya, penyebab utama bukanlah karena proses persalinan itu sendiri yang berisiko, tetapi lebih kepada teknik mengejan yang "salah arah" menuju area kepala. Banyak dari Mama yang cenderung menahan napas secara kuat di tenggorokan serta mengencangkan otot wajah saat merasakan sakit, padahal seharusnya energi itu diarahkan ke bawah menuju panggul. Ketegangan yang tertahan di wajah adalah penyebab "ledakan" kecil pada kapiler di mata, yang meskipun tidak berbahaya dan biasanya sembuh dalam 1-2 minggu, tentu dapat mengurangi rasa percaya diri Mama saat berfoto dengan si Kecil.

Memahami manajemen tekanan pada tubuh merupakan kunci agar Mama dapat melahirkan dengan tenaga tanpa membuat wajah terlihat "memar". Sebagai Mama yang cerdas, kita perlu menyadari bahwa mengejan berkaitan dengan efektivitas kontraksi otot rahim dan perut, bukan seberapa kuatnya kita mengejan di area mata. Dengan belajar memisahkan kerja otot bagian bawah dan otot wajah, Mama tidak hanya menjaga kejernihan mata, tetapi juga membantu memastikan aliran oksigen yang baik ke janin selama momen yang sangat penting ini. 

Melatih teknik napas dan posisi tubuh yang benar adalah persiapan wajib yang nggak boleh dilewatkan sebelum hari-H tiba ya, Ma. Teknik yang tepat akan membuat setiap kontraksi yang Mama rasakan berubah menjadi dorongan yang efektif tanpa membuang energi sia-sia ke area wajah. 

Yuk, simak rangkuman Popmama.com yang membedah cara mengejan paling aman supaya mata Mama tetap jernih dan cantik saat menyambut si Buah Hati!

1. Menguasai teknik open-glottis pushing

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Teknik pertama yang sangat dianjurkan oleh bidan dan praktisi kesehatan kontemporer adalah dorongan open-glottis. Berbeda dengan metode tradisional yang meminta Mama untuk menutup mulut dengan erat dan menahan napas sekuat mungkin (metode Valsalva), teknik ini mendorong Mama untuk tetap mengeluarkan udara secara perlahan saat melakukan dorongan. Langkahnya adalah dengan menarik napas dalam melalui hidung, lalu mulai mendorong sambil mengeluarkan suara rendah atau mendesis lembut dari bibir yang sedikit terbuka.

Dengan membiarkan suara atau udara keluar, katup tenggorokan atau glotis akan tetap terbuka. Ini menghindari lonjakan tekanan udara yang ekstrem di rongga dada yang dapat “menembak” ke arah kepala. Dengan saluran udara yang tetap terbuka, aliran darah ke kepala tetap stabil, maka kapiler mata yang rentan tidak mengalami tekanan berlebih yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Metode ini secara efektif mengalihkan pusat tekanan dari wajah kembali ke area panggul.

Menurut penelitian mendalam yang diterbitkan dalam The Journal of Perinatal Education, teknik ini jauh lebih sesuai dengan fisiologi tubuh Mama. Selain memberikan perlindungan terhadap risiko perdarahan subkonjungtiva, metode open-glottis juga memastikan bahwa pasokan oksigen bagi janin tetap terjaga karena ibu tidak menahan napas dalam waktu yang lama. Studi menunjukkan bahwa Mama yang menerapkan teknik ini cenderung tidak mengalami kelelahan berlebihan karena pengeluaran energi yang lebih efisien dan terukur. 

2. Mengisolasi tenaga hanya ke otot perut dan panggul

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Sering kali, dalam keadaan panik atau ketika merasakan rasa sakit yang intens, banyak Mama tanpa disadari mengencangkan semua otot tubuh dari kepala hingga kaki. Kesalahan fatal yang sering memicu pembuluh darah di mata pecah adalah ketika Mama tanpa sadar mengencangkan pipi, mengerutkan dahi, serta mengencangkan otot leher saat berusaha mendorong bayi keluar. Metode yang tepat adalah dengan memisahkan tenaga, di mana yang bekerja keras hanyalah otot perut bagian bawah dan panggul, sementara bagian tubuh atas, seperti wajah dan bahu, tetap dalam keadaan santai.

Mama bisa membayangkan gerakan tersebut seperti ketika berusaha buang air besar saat mengalami sembelit. Arahkan semua dorongan ke bawah, menuju vagina dan anus, tanpa membiarkan ketegangan itu mengalir ke bahu dan kepala. Jika Mama mulai merasakan panas yang menyengat di wajah atau melihat urat leher menonjol, itu adalah tanda peringatan bahwa tenaga Mama terjebak di tempat yang tidak semestinya. Mintalah Papa atau pendamping untuk selalu mengingatkan Mama agar tetap merelaksasi otot wajah setiap kali dorongan dimulai.

Ahli kesehatan dari Mayo Clinic menyatakan bahwa keberhasilan proses persalinan sangat dipengaruhi oleh ketepatan pengarahan tenaga yang dikeluarkan oleh Mama. Mengarahkan kekuatan ke wajah hanya akan menghabiskan energi secara percuma dan meningkatkan tekanan pada vena yang dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah kecil di sekitar mata. Dengan memusatkan kekuatan pada otot diafragma yang membantu menekan rahim secara vertikal, proses pembukaan jalan lahir akan menjadi lebih efektif serta mengurangi risiko trauma pembuluh darah pada wajah Mama. 

3. Menerapkan posisi c-curve dengan dagu menempel dada

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Posisi tubuh memiliki peranan penting sebagai "saluran distribusi" tenaga Mama ketika proses mengejan dilakukan. Ketika tim medis memberikan arahan untuk mendorong, penting bagi Mama untuk menekuk tubuh dan menempelkan dagu pada dada, lalu arahkan pandangan ke perut. Posisi tubuh yang melengkung dalam bentuk huruf "C" ini akan secara mekanis menutup saluran tekanan menuju kepala, memaksa agar tekanan tetap berada di area perut dan panggul.

Dengan menjaga dagu tetap menempel pada dada, Mama secara tidak langsung menghalangi dorongan udara untuk tidak kembali ke leher dan wajah. Sering kali,  Mama yang mengangkat kepala atau melihat ke atas saat mengejan mengalami peningkatan tekanan darah yang tiba-tiba di area mata yang dapat mengakibatkan pecahnya pembuluh darah. Maka dari itu, dengan fokus pandangan ke bawah, Mama juga akan merasakan lebih terkendali secara psikologis dan mampu merasakan aliran tenaga mengalir sejalan dengan gravitasi saat melahirkan si Kecil.

Melansir American College of Nurse-Midwives (ACNM), posisi lengkungan C ini sangat efisien untuk menyelaraskan posisi bayi dengan sumbu panggul Mama. Hal ini tidak hanya membantu bayi untuk turun dengan lebih mulus, tetapi juga secara signifikan mengurangi resiko tekanan kembali ke area otak dan mata. Posisi ini dianggap salah satu postur mekanika tubuh yang paling aman untuk mencegah komplikasi vaskular ringan pada Ibu selama fase melahirkan anak, terutama pada dua kali persalinan.  

4. Menjaga kelopak mata tetap terbuka atau terpejam lembut

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Refleks alami manusia ketika menghadapi rasa sakit yang parah adalah menutup mata sekuat mungkin hingga otot wajah terasa kaku. Tetapi kebiasaan ini sebenarnya menjadi salah satu penyebab utama pecahnya kapiler mata karena memberikan tekanan tambahan dari otot kelopak mata yang menutup rapat. Jadi sangat disarankan untuk Mama agar tetap membuka mata selama proses melahirkan, atau jika harus menutupnya, lakukan dengan sangat lembut seolah Mama sedang bersantai.

Mama bisa mencoba untuk memusatkan pandangan pada satu titik tertentu di dinding ruang bersalin atau melihat wajah pendamping untuk membantu mempertahankan fokus agar tidak tergoda untuk menutup mata dengan tegang. Dengan menjaga kelopak mata dalam keadaan santai, Mama secara aktif mengurangi beban tekanan ganda pada jaringan sensitif di sekitar bola mata. Ini membantu aliran darah di area konjungtiva tetap lancar meskipun ada peningkatan tekanan dari dalam tubuh akibat kontraksi rahim yang kuat.

Sebuah laporan resmi dari Royal College of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) mengindikasikan bahwa banyak kasus pembuluh darah di mata pecah pasca melahirkan disebabkan oleh pengejangan otot wajah yang tidak diperlukan. Dengan mengurangi ketegangan di sekitar mata, risiko perdarahan subkonjungtiva bisa diminimalkan secara signifikan. Mama akan menyadari bahwa dengan tetap menjaga wajah rileks, energi yang digunakan justru akan lebih terfokus ke panggul dan tidak membuat Mama merasa sesak atau pusing di area kepala.

5. Mengikuti dorongan alami tubuh (spontaneous pushing)

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Salah satu metode yang paling ampuh untuk mencegah peningkatan tekanan darah ke kepala adalah dengan hanya berusaha mendorong saat tubuh memberikan sinyal alami yang kuat. Proses ini sering dikenal dengan istilah fetal ejection reflex, yaitu ketika Mama merasakan tekanan yang sangat besar dari dalam rahim yang tidak dapat ditahan lagi. Mengejan lebih awal atau karena perintah dari luar tanpa adanya dorongan alami hanya akan menyebabkan peningkatan tekanan di wajah yang drastis tanpa memberikan hasil yang nyata dalam proses persalinan.

Ketika Mama menantikan dorongan alami tersebut, tubuh akan mengatur mekanika tekanannya secara lebih fisiologis dan seimbang. Ini menghindarkan terjadinya lonjakan tekanan sistemik yang tiba-tiba, yang sering kali menjadi penyebab utama pecahnya pembuluh darah halus di mata. Maka perhatikan sinyal dari tubuh Mama, dan mulailah mendorong saat kontraksi mencapai puncaknya, karena pada saat itu tenaga Mama akan dilakukan dengan optimal dan risiko cedera pada pembuluh darah mata akan minimal.

Menurut tinjauan klinis dalam Cochrane Database of Systematic Reviews, mengejan secara alami menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan dengan mengejan yang diarahkan secara berulang oleh tim medis. Penelitian menunjukkan bahwa Mama yang mengikuti dorongan alami memiliki kemungkinan yang lebih rendah untuk mengalami kelelahan berat serta cedera pada pembuluh darah kapiler di wajah. Ini disebabkan karena tubuh secara biologis memiliki mekanisme perlindungan untuk melahirkan bayi tanpa harus merusak jaringan tubuh Ibunya sendiri.

6. Melakukan pernapasan panting saat kepala bayi crowning

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Ketika kepala bayi mulai tampak di pintu jalan lahir (fase crowning), akan ada saat di mana bidan meminta Mama untuk tidak mengejan terlalu keras meskipun ada dorongan untuk melakukannya. Pada momen penting ini, Mama harus segera menggunakan teknik pernapasan panting, yaitu bernapas dengan pendek melalui mulut dan mengeluarkannya dengan cepat seolah-olah sedang meniup lilin. Metode ini bertujuan untuk mengatur laju keluarnya bayi agar prosesnya berlangsung lembut dan bertahap.

Mengejan dengan kuat saat kepala bayi sudah berada di pintu jalan lahir adalah saat yang paling berisiko bagi pembuluh darah mata Mama, karena tekanan di dalam tubuh berada pada puncaknya. Dengan beralih ke teknik panting atau tiup-tiup, Mama memberi ruang bagi jalan lahir untuk meregang secara bertahap dan mencegah lonjakan tekanan darah ke kepala secara tiba-tiba. Pengendalian pernapasan ini merupakan cara terakhir untuk melindungi wajah Mama dari pembengkakan dan menjaga mata tetap jernih setelah seluruh proses melahirkan selesai.

Hal ini juga diperkuat oleh studi yang diterbitkan dalam Journal of Midwifery & Women's Health. Jurnal tersebut mengungkapkan bahwa pengelolaan pernapasan di fase akhir persalinan sangat berpengaruh terhadap kualitas pemulihan Ibu secara keseluruhan.

Teknik tiup-tiup ini berfungsi untuk menstabilkan tekanan darah di area kepala serta mencegah pecahnya kapiler kecil di wajah. Selain menjaga kesehatan mata, metode ini juga sangat efektif untuk mengurangi robekan pada perineum, sehingga proses pemulihan fisik Mama setelah melahirkan akan jauh lebih cepat dan nyeri yang dirasakan menjadi minimal. 

7. Memaksimalkan relaksasi di jeda antar kontraksi

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Langkah akhir yang sangat vital namun sering diabaikan di tengah kesibukan ruang bersalin adalah pentingnya relaksasi sepenuhnya di antara dua kontraksi. Manfaatkan waktu satu atau dua menit ketika rahim sedang istirahat untuk menarik napas dalam-dalam dan melepaskan semua ketegangan pada otot wajah, rahang, dan leher. Jangan biarkan tubuh Mama  berada dalam keadaan tegang atau "waspada" saat rasa sakit mereda, karena ini akan membuat pembuluh darah terus-menerus dalam tekanan tinggi.

Relaksasi di antara kontraksi berperan sebagai tombol "reset" untuk sistem sirkulasi darah Mama agar kembali normal sejenak sebelum kontraksi berikutnya. Oksigen yang melimpah saat Mama menarik napas dalam juga akan membantu menjaga dinding pembuluh darah kapiler agar tetap elastis dan terkendali. Dengan memberikan waktu bagi pembuluh darah mata untuk beristirahat, Mama memastikan bahwa saat dorongan berikutnya tiba, kapiler-kapiler tidak dalam kondisi lemah atau rentan terhadap perdarahan.

Menurut para ahli di Cleveland Clinic, pengelolaan stres fisik melalui teknik relaksasi sangat penting dalam mengatur tekanan darah sistemik selama fase persalinan yang panjang. Mama yang mampu bersantai sepenuhnya di antara kontraksi memiliki kemungkinan lebih kecil mengalami lonjakan tekanan darah tiba-tiba yang dapat menyebabkan bercak merah di mata. Manfaatkan waktu istirahat ini untuk mengisi ulang energi dan menenangkan pikiran Mama, sehingga proses mengejan selanjutnya dapat dilakukan dengan lebih baik, aman, dan menjaga penampilan wajah. 

Melahirkan memang memerlukan banyak energi, tetapi itu tidak berarti Mama harus menyerah jika pembuluh darah di mata pecah. Dengan menerapkan metode mengejan yang tepat dan menyalurkan energi langsung ke proses melahirkan, Mama dapat mengurangi kemungkinan terjadinya mata merah dan menyambut si Kecil dalam kondisi fisik yang lebih baik.

Jadi dari ketujuh teknik yang disebutkan, teknik mana yang menurut Mama paling sulit untuk diterapkan agar kesehatan pembuluh darah mata tetap terjaga saat melahirkan nanti? 

Editorial Team