Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Margin Wieheerm Trauma Temui Orang Akibat Body Shaming usai Melahirkan
Instagram.com/marginw
  • Margin Wieheerm mengungkap trauma akibat body shaming yang dialaminya sejak melahirkan tahun 2021,

  • Ia berharap Lebaran 2026 menjadi momen damai tanpa komentar negatif

  • Margin mengingatkan pentingnya etika bersilaturahmi dengan menghindari pertanyaan sensitif

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Momen pascamelahirkan seharusnya menjadi fase penuh kebahagiaan bagi seorang Ibu. Namun, hal berbeda justru dialami oleh aktris Margin Wieheerm

Di balik senyumnya, istri Ali Syakieb ini ternyata menyimpan luka batin akibat komentar negatif terhadap bentuk tubuh yang ia alami selama bertahun-tahun, usai melahirkan anak pertama pada tahun 2021. 

Margin dalam unggahan Threads bahkan menyebut jika dirinya sempat trauma bertemu banyak orang di momen Lebaran. Hal ini lantaran bentuk tubuhnnya yang terus dikomentari dari tahun ke tahun. 

Berikut ini Popmama.com berikan informasi selengkapnya mengenai Margin Wieheerm trauma temui orang akibat body shaming usai melahirkan. 

1. Perjuangan Margin Wieheerm melawan trauma body shaming sejak 2021

Threads.com/@marginw

Margin Wieheerm secara blak-blakan mengungkapkan pengalamannya menjadi korban body shaming setelah melahirkan buah hatinya pada tahun 2021. 

Melalui akun Threads pribadinya, ia mencurahkan betapa sulitnya menghadapi komentar miring yang terus menghantuinya dari Lebaran 2022 hingga 2024.

“Lahir anak 2021, dari Lebaran tahun 2022 sampai 2024 nggak berhenti di-body shaming. Bikin trauma ketemu orang,” tulis Margin di akun @marginw.

Perubahan bentuk tubuh pasca kehamilan adalah hal yang alami, namun bagi Margin, kritik yang datang bertubi-tubi justru meruntuhkan rasa percaya dirinya. 

Sebagai Ibu baru yang kondisi emosionalnya masih sensitif, ia mengaku sangat terpukul, apalagi komentar pedas itu justru datang dari sesama perempuan.

“Aku digituin ‘nggak salah badannya sekarang’, padahal itu baru 6 bulan setelah lahiran. Antara bingung mau jawab apa sama nggak tahan mau nangis. Padahal dia juga seorang ibu, kok bisa ya ngomong begitu,” lanjutnya.

2. Berharap body shaming tak terjadi lagi di momen Lebaran 2026

Instagram.com/marginw

Di momen Lebaran tahun ini, Margin menaruh harapan besar agar pengalaman pahit tersebut tidak terulang kembali. Ia sangat mendambakan suasana Lebaran yang penuh kedamaian tanpa adanya intimidasi terhadap bentuk fisik seseorang.

“Semoga Lebaran tahun ini nggak di-body shaming lagi, Aamiin,” harap Margin.

Harapan ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga mewakili suara banyak perempuan di luar sana yang sering kali merasa cemas menghadapi kumpul keluarga, karena takut mendapatkan komentar negatif tentang berat badan atau penampilan.

3. Ingatkan netizen untuk tak bertanya pertanyaan sensitif di momen silaturahmi

Threads.com/@marginw

Melalui unggahannya pada 21 Maret 2026, Margin juga memberikan edukasi penting bagi netizen mengenai etika dalam bersilaturahmi. 

Ia mengingatkan bahwa, niat baik untuk menyambung tali persaudaraan jangan sampai dirusak oleh pertanyaan-pertanyaan yang melukai hati.

Margin menyarankan agar kita semua mulai menghindari pertanyaan klise yang sensitif, seperti "kapan nambah anak?", "kapan hamil?", "Kapan nikah?”, "Kok sekarang gemukan?" atau "Kok kurusan banget?". 

Pertanyaan-pertanyaan tersebut, meski dianggap basa-basi bagi sebagian orang, sering kali menjadi beban mental bagi orang lain. 

Margin mengajak masyarakat untuk beralih ke percakapan yang lebih bermakna dan menghargai proses hidup seseorang.

“Bisa kok mulai dengan nanya hal-hal seperti ‘how’s life’ atau ‘apa kabar sekarang?’. Saya akan dengan senang hati menjawab pertanyaan itu,” tegasnya.

Itulah berita mengenai Margin Wieheerm trauma temui orang akibat body shaming usai melahirkan. 

Kisah Margin Wieheerm menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa, kata-kata memiliki kekuatan untuk menyakiti atau menyembuhkan. 

Mari jadikan momen Lebaran 2026 sebagai ajang silaturahmi yang tulus tanpa harus menghakimi penampilan fisik orang lain.

Editorial Team