Kehadiran si Kecil di tengah keluarga memang momen yang paling dinantikan ya, Ma? Rasanya bahagia sekali bisa melihat wajah mungilnya secara langsung. Namun, tidak bisa dimungkiri, kehadiran bayi juga membawa perubahan besar dalam rutinitas dan dinamika hubungan Mama dan Papa. Banyak tantangan baru yang harus dihadapi, mulai dari jam tidur yang berantakan sampai tanggung jawab yang terasa berkali-kali lipat lebih berat.
Selama ini, kita mungkin lebih sering mendengar istilah baby blues atau depresi pasca melahirkan yang dialami oleh para Mama. Namun, tahukah Mama? Ternyata Papa juga bisa mengalami kondisi serupa, lho. Mengutip dari penjelasan Claudia M. Elsig, MD, depresi setelah kelahiran bayi sebenarnya lebih umum terjadi pada pria daripada yang kita perkirakan selama ini. Penelitian menunjukkan sekitar 1 dari 10 pria mengalami masalah kesehatan mental di tahun-tahun awal menjadi orang tua.
Banyak Papa yang memilih untuk diam dan memendam perasaannya karena merasa harus menjadi sosok yang kuat bagi Mama dan si Kecil. Padahal, depresi paternal ini nyata dan bisa muncul kapan saja, terutama saat bayi berusia 3 hingga 6 bulan. Faktor pemicunya pun beragam, mulai dari kelelahan fisik hingga perubahan hormon yang ternyata juga bisa terjadi pada tubuh pria setelah si Kecil lahir. Kali ini Popmama.com akan mengulas lebih dalam mengapa kondisi "baby blues" atau depresi ini bisa menyerang Papa dan apa saja yang perlu Mama perhatikan. Simak informasinya berikut ini, yuk!
