Tetap Semangat Memberikan ASI, Merdeka Menyusui di Masa Pandemi

Jangan jadikan pandemi sebagai hambatan untuk menyusui ya, Ma

23 Agustus 2021

Tetap Semangat Memberikan ASI, Merdeka Menyusui Masa Pandemi
Pexels/MART PRODUCTION

Selama pandemi Covid-19, banyak ibu menyusui dihadapkan pada banyak tantangan. Misalnya saja seperti informasi yang menyesatkan seputar keamanan menyusui dan inisiasi menyusu dini (IMD) di masa Covid-19 atau larangan vaksinasi untuk ibu menyusui.

Beredarnya informasi seperti itu tentu saja membuat ketakutan tersendiri pada setiap Mama yang sedang memberikan ASI untuk buah hatinya. Akibatnya, tak sedikit ibu menyusui yang memutuskan untuk berhenti atau tidak menyusui bayinya.

Ditemui dalam webinar "Merdeka Menyusui di Masa Pandemi" dalam rangka Pekan Menyusui Dunia yang diadakan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) pada Kamis (19/8/2021), Koordinator Substansi Pengelolaan Konsumsi Gizi Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan, Mahmud Fauzi, mengatakan:

"Saat pandemi, walaupun seorang Mama terkena Covid-19, belum ada bukti transmisi vertikal dari Mama pada janin. Tidak ditemukan SARS-CoV-2 dalam ASI yang terkonfirmasi positif Covid-19. Dengan demikian, Mama dengan Covid-19 dapat terus menyusui dan memberikan ASI kepada bayinya."

Selain menyambut pekan ASI sedunia dan kemerdekaan RI pada bulan Agustus, ibu menyusui diharapkan dapat merasakan kemerdekaan untuk tetap menyusui di tengah pandemi.

Untuk mengetahui informasi selengkapnya, yuk simak ulasan yang sudah Popmama.com rangkum berikut ini.

Editors' Pick

1. Praktik menyusui sebagai salah satu determinan masalah gizi

1. Praktik menyusui sebagai salah satu determinan masalah gizi
Pexels/Mateusz Dach

ASI menjadi satu-satunya asupan gizi bayi yang perlu dipenuhi. Adapun praktik menyusui ini menjadi salah satu upaya dalam mengatasi permasalahan gizi yakni stunting yang masih banyak terjadi pada balita.

Dalam paparan yang disampaikan Fauzi, diketahui baru 58,2 persen bayi mendapatkan ASI dalam satu jam setelah bayi lahir, dan 52,5 persen bayi di bawah enam bulan yang mendapatkan asi eksklusif. Alasan terbesar tidak memberikan ASI adalah ASI tidak keluar (65%), ibu dan anak rawat pisah (8,4%), anak tidak bisa menyusu (6,6%), alasan medis (5,7%), anak terpisah dari ibu (5,4%) dan alasan lainnya (8,2%).

Terlebih dengan kondisi pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah ibu menyusui dihantui rasa khawatir saat akan memberikan ASI kepada buah hatinya. Itulah mengapa pemerintah dan pihak lain terus mendukung dan memberikan perlindungan terhadap ibu menyusui di masa pandemi.

Fauzi menambahkan, "Kami memprioritaskan program dan layanan menyusui, konseling menyusui, inisiatif rumah sakit sayang bayi, mengakhiri promosi produk pengganti ASI hingga meningkatkan promosi dan akses layanan yang mendukung ibu menyusui."

2. Tantangan dan hambatan menyusui di Indonesia

2. Tantangan hambatan menyusui Indonesia
Pexels/Keira Burton

Selain itu, Fauzi pun memaparkan situasi praktik menyusui di Indonesia dengan menyebutkan tantangan dan hambatan apa saja yang banyak terjadi pada ibu menyusui.

Berikut beberapa tantangan dan hambatan praktik menyusui di Indonesia:

  1. Kurangnya dukungan dari berbagai pihak yang membuat ibu menyusui tidak bersemangat bahkan berhenti menyusui bayinya.
  2. Kurangnya pengetahuan seputar menyusui dari Mama dan keluarga yang mendampingi.
  3. Kapasitas tenaga kesehatan yang tidak memadai.
  4. Masih banyaknya iklan susu formula yang membuat ibu menyusui mulai berhenti menyusui.
  5. Penguatan 10 LMKM (Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui).
  6. Optimalisasi implementasi kebijakan/legislasi serta monev.

Ditemui dalam kesempatan yang sama, dr Maria Adrijanti selaku Health Team Leader WVI menegaskan, masyarakat perlu memiliki pemahaman dan informasi yang jelas sehingga bayi baru lahir hingga anak usia dua tahun atau lebih tetap mendapatkan hak-haknya dalam hal pemberian ASI.

"WVI dengan berbagai program terus mendukung para ayah, kader, tenaga kesehatan dan semua pihak untuk membantu dan menyemangati para ibu untuk menyusui. Dengan memastikan setiap bayi baru lahir mendapatkan IMD kemudian menyusu ASI sampai dengan dua tahun atau lebih akan memberi manfaat pada anak, ibu, keluarga, dan bangsa," kata Maria.

3. Perlindungan menyusui di masa pandemi

3. Perlindungan menyusui masa pandemi
Freepik/serhii_bobyk

Memasuki bulan Agustus yang menjadi perayaan pekan ASI sedunia serta Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, WVI pun melakukan serangkaian acara untuk membantu memerdekakan ibu menyusui di masa pandemi.

Melalui webinar tersebut, Mahmud Fauzi selaku Koordinator Substansi Pengelolaan Konsumsi Gizi Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan RI memaparkan perlindungan apa saya yang perlu dilakukan ibu menyusui di masa pandemi.

Adapun perlindungan menyusui tersebut adalah sebagai berikut:

  • Memprioritaskan program dan layanan menyusui.
  • Inisiatif rumah sakit sayang bayi.
  • Mengakhiri program produk pengganti ASI atau susu formula.
  • Memberikan konseling menyusui oleh tenaga kesehatan.
  • Mengimbau semua pemangku kepentingan untuk mempromosikan dan meningkatkan akses ke layanan yang mendukung Mama untuk melanjutkan menyusui.

Itu dia upaya yang bisa dilakukan untuk memerdekakan ibu menyusui di masa pandemi Covid-19. Meski masih dihantui rasa khawatir akan Covid-19 yang tak kunjung usai, hal ini bukan menjadi hambatan bagi Mama untuk terus menyusui.

Mama tetap bisa melakukan IMD serta memberikan ASI eksklusif kepada si Kecil dengan tetap memerhatikan protokol kesehatan yang ketat, serta mendapatkan vaksinasi yang bisa dilakukan oleh setiap ibu menyusui.

Tetap semangat mengASIhi ya, Ma!

Baca juga:

The Latest