Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
7 Posisi Mengejan saat Melahirkan yang Efektif Mempercepat Persalinan
Popmama.com/Nadya Juyanti/AI
  • Artikel menjelaskan tujuh posisi mengejan efektif seperti jongkok, berlutut, miring ke kiri, lunge, duduk tegak, berdiri, dan terlentang dengan penyangga untuk mempercepat serta mempermudah proses persalinan.
  • Setiap posisi memiliki manfaat berbeda, mulai dari memperlebar panggul, menjaga sirkulasi oksigen janin, hingga mengurangi risiko robekan jalan lahir dan memperpendek waktu mengejan.
  • Ditekankan pentingnya Mama berdiskusi dengan dokter atau bidan sejak trimester ketiga agar dapat memilih posisi yang paling nyaman dan aman sesuai kondisi tubuh saat melahirkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mendekati Hari Perkiraan Lahir (HPL), perasaan bahagia dan cemas pasti mulai menyelimuti, ya, Ma. Salah satu aspek yang sering jadi topik pembicaraan di kalangan para Ibu adalah fase mengejan. Banyak dari Mama mungkin masih membayangkan bahwa proses melahirkan harus dilakukan dalam posisi terlentang sambil memegang kedua kaki. Akan tetapi, perkembangan dalam dunia medis kini semakin mengedepankan saran agar Mama menemukan posisi yang paling sesuai dengan kondisi tubuh masing-masing.

Mengenali berbagai opsi posisi mengejan tidak hanya terkait kenyamanan fisik, tetapi juga menciptakan positive birth experience. Dengan posisi yang tepat, Mama sebenarnya sedang berkolaborasi dengan gravitasi dan struktur panggul untuk membantu si Kecil meluncur dengan lebih lancar. Di negara lain, konsep active birth kini sangat digemari karena terbukti memberi kekuatan kepada Mama untuk tidak sekadar mengikuti prosedur, tetapi juga mampu merasakan kebutuhan tubuh saat kontraksi yang kuat datang.

Salah satu kekhawatiran utama saat mengejan adalah kemungkinan terjadinya robekan pada jalan lahir atau trauma pada area perineum. Di sisi lain, penelitian dari American College of Nurse-Midwives (ACNM) menunjukkan bahwa menggunakan berbagai posisi mengejan saat melahirkan dan tidak terkekang pada satu posisi statis dapat secara signifikan menurunkan tekanan berlebihan pada jaringan otot di daerah intim. Ini tentu menjadi harapan baru bagi Mama yang menginginkan proses pemulihan setelah melahirkan yang lebih cepat dan lebih nyaman. 

Maka itu, sangat penting bagi Mama dan Papa untuk mendiskusikan rencana persalinan (birth plan) bersama dokter atau bidan sejak trimester ketiga. Penting untuk Mama mengetahui kelebihan dan kekurangan dari setiap posisi karena akan membuat Mama merasa lebih berdaya dan siap secara mental. 

Nah, berikut rangkuman Popmama.com mengenai posisi mengejan agar Mama punya gambaran yang lebih luas dan mendalam mengenai pilihan posisi yang ada. 

1. Posisi jongkok (squatting)

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Jongkok dapat diistilahkan sebagai posisi "unggulan" dalam persalinan alami, lho, Ma. Kenapa demikian? karena posisi tersebut merupakan cara paling efisien untuk seirama dengan hukum alam, yaitu gaya gravitasi. Berbeda dengan posisi berbaring yang seringkali membuat Mama harus "memanjat" saat berusaha mengejan, posisi jongkok justru menjadikan gravitasi sebagai asisten yang mempermudah bayi untuk turun ke jalan lahir.

Secara anatomi, posisi ini juga benar-benar memberikan manfaat bagi ruang panggul Mama. Berdasarkan penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Perinatal Education, posisi jongkok yang ideal dapat memberikan manfaat luar biasa seperti:

  • Memperlebar Jalan Lahir, ketika Ibu jongkok, maka tulang ekor akan  bergerak dengan lentur ke arah belakang. Ini secara otomatis memperlebar pintu masuk panggul Mama hingga 20-30% lebih luas dibandingkan saat berbaring telentang. Sehingga, ruang tambahan ini memudahkan kepala bayi untuk bergerak dengan lebih leluasa.

  • Memperpendek Saluran Lahir, dengan berjongkok, tekanan dari rahim akan langsung diarahkan ke bawah, sehingga jarak yang harus dilalui si Kecil untuk keluar menjadi lebih singkat.

  • Mengurangi Kelelahan Saat Mengejan, dengan bantuan gravitasi, usaha yang Mama lakukan untuk mengejan menjadi lebih efektif. Hal ini sangat membantu agar Mama tidak cepat kehilangan tenaga.

Meskipun begitu, Mama harus ingat ya, bahwa posisi ini memang memerlukan banyak tenaga dari kaki. Jadi agar tetap nyaman dan terhindar dari kram, Mama bisa meminta bantuan Papa untuk duduk di kursi yang kuat di belakang Mama, sehingga Mama bisa bersandar di paha Papa atau memeluk lehernya sebagai pegangan. 

Di beberapa rumah sakit yang modern, Mama juga dapat memanfaatkan birth bar atau pegangan yang ada di ranjang persalinan untuk membantu menstabilkan keseimbangan. Pastikan juga telapak kaki Mama menapak sepenuhnya ke lantai ya, Ma, agar otot panggul bisa benar-benar rileks dan terbuka maksimal saat si Kecil mulai menunjukkan kepalanya. 

2. Berlutut dan menungging (hands and knees)

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

 Apabila Mama mulai mengalami rasa sakit pada punggung yang sangat parah di antara kontraksi atau yang sering disebut oleh para ahli sebagai back labor, posisi merangkak atau menungging ini bisa menjadi solusi yang efektif. Di berbagai pusat persalinan modern di luar negeri, posisi hands and knees sangat popular karena dapat memberikan bantuan instan pada tulang belakang Mama yang terbebani oleh rahim saat proses mendorong.

Menariknya, posisi ini juga sering disebut sebagai teknik "pemutar bayi" yang alami, lho, Ma. Berdasarkan penelitian dari Evidence Based Birth (EBB), gaya gravitasi saat Mama berada dalam posisi menungging dapat membantu si Kecil yang sebelumnya mungkin dalam posisi posterior (wajah menghadap ke perut) untuk berputar dengan sendirinya ke posisi anterior yang lebih sesuai untuk dilahirkan. Hal ini tentunya sangat mendukung kelancaran saat mendorong karena posisi bayi sudah benar.

Posisi ini tidak hanya aman untuk posisi bayi, tetapi juga aman bagi jalan lahir Mama. Sebuah penelitian dalam Journal of Midwifery & Women's Health menjelaskan bahwa posisi merangkak membantu menyebarkan tekanan kepala bayi dengan lebih merata ke seluruh jaringan otot jalan lahir. Ini sangat penting untuk mencegah tekanan berlebihan pada satu titik di area perineum, sehingga risiko robekan jalan lahir yang serius atau perlu tindakan episiotomi dapat berkurang secara signifikan. 

Keunggulan lain yang juga didukung oleh The Cochrane Library adalah tersedianya pasokan oksigen untuk si Kecil. Hal ini bisa terjadi karena Mama tidak berbaring dalam posisi terlentang, pembuluh darah besar di punggung Mama tidak tertekan, sehingga sirkulasi darah yang mengantarkan oksigen ke plasenta tetap lancar bahkan ketika fase mengejan sangat intens. Waktu yang dibutuhkan dalam fase mengejan juga cenderung menjadi lebih efisien karena metabolisme tubuh Mama berfungsi secara optimal tanpa ada kendala.

Jika Mama ingin melakukannya dengan lebih nyaman, Mama dapat menggunakan bantal lembut di bawah lutut untuk menghindari rasa sakit. Jika tangan mulai merasa lelah menopang berat badan, jangan ragu untuk bersandar pada tumpukan bantal tinggi atau bola melahirkan sambil tetap dalam posisi berlutut. Saat-saat ini juga menjadi kesempatan bagi Papa untuk menunjukkan dukungannya dengan memberikan pijatan lembut di punggung bawah Mama agar merasa lebih tenang dan kuat.

3. Miring ke kiri (side-lying)

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Bagi Mama yang merasa tenaganya mulai habis setelah melalui perjalanan panjang di fase pembukaan, posisi miring ke kiri atau side-lying adalah pilihan yang sangat tepat. Posisi ini memberikan kenyamanan luar biasa tanpa mengurangi kekuatan dorongan Mama saat akan melahirkan, sehingga sering kali menjadi "jalan tengah" bagi Mama yang ingin tetap relaks sambil mampu mengejan dengan efektif. Di rumah sakit, posisi ini biasanya dilakukan dengan bantuan bantal penyangga yang diletakkan di antara kedua kaki, sementara salah satu kaki Mama akan dibantu oleh Papa atau bidan untuk diangkat saat kontraksi muncul.

Dari sisi medis, posisi miring ke kiri memiliki peranan penting bagi keselamatan janin karena berhubungan langsung dengan kelancaran sirkulasi darah. Menurut panduan dari Mayo Clinic, posisi ini memastikan bahwa rahim yang berat tidak menekan vena cava inferior, yaitu pembuluh darah besar yang terletak di punggung Mama. Dengan menjaga pembuluh darah ini tetap bebas dari tekanan, aliran darah beroksigen dari Mama ke janin tetap optimal selama fase mengejan, sehingga risiko gawat janin (fetal distress) dapat dikurangi secara signifikan.

Selain memberikan rasa aman bagi si Kecil, posisi ini juga sangat bersahabat bagi area intim Mama untuk mencegah terjadinya trauma persalinan yang tidak diinginkan. Hal ini diperkuat oleh sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Midwifery & Women's Health, menunjukkan bahwa posisi miring memungkinkan kepala bayi keluar dengan lebih perlahan dan terkontrol. Hal ini memberikan kesempatan bagi jaringan perineum untuk meregang secara bertahap, sehingga risiko robekan jalan lahir yang serius atau kebutuhan episiotomi dapat berkurang dengan signifikan dibandingkan jika Mama mengejan dalam posisi telentang yang kaku. 

Posisi ini sangat disarankan terutama jika Mama menggunakan anestesi epidural yang membuat kaki terasa lemas, karena riset dari Cochrane Library membuktikan bahwa posisi lateral  tetap memberikan ruang panggul yang luas bagi bayi. Agar lebih nyaman, pastikan Papa selalu siaga di sisi tempat tidur untuk membantu memposisikan kaki Mama agar panggul tetap terbuka optimal. Jadi dengan suasana yang lebih tenang dan privasi yang terjaga, Mama bisa lebih fokus pada setiap napas untuk menyambut kehadiran buah hati dengan penuh cinta. 

4. Lunge (satu kaki terangkat)

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Mungkin posisi ini terdengar agak tidak biasa dan jarang muncul dalam film ya, Ma, tetapi teknik lunge sering dianggap sebagai solusi "ajaib" yang disarankan oleh para bidan saat proses persalinan terasa lambat. Sederhananya, Mama melakukan gerakan yang mirip dengan peregangan, yaitu mengangkat salah satu kaki ke samping dan meletakkan telapak kaki tersebut di atas kursi atau tepi tempat tidur, sementara kaki lainnya menanggung beban. Posisi asimetris atau "miring ke satu sisi" ini ternyata memiliki fungsi mekanis yang cukup efektif untuk memberikan tambahan ruang bagi si Kecil.

Mengapa posisi ini sangat efektif untuk memudahkan persalinan? Berdasarkan penelitian dari Evidence Based Birth, posisi lunge dapat secara efektif mengubah bentuk rongga panggul Mama secara dinamis, sehingga menciptakan celah yang lebih luas di satu sisi. Jika bayi kesulitan untuk turun karena posisinya agak miring atau "terjebak" di tulang panggul (asynclitism), maka posisi ini dapat membantu kepala bayi bergerak dan menemukan jalan turun yang lebih sesuai dengan bantuan gravitasi yang miring.

Selain itu, posisi ini juga sangat disukai karena memberikan keleluasaan bagi otot-otot panggul untuk meregang secara perlahan tetapi tetap aktif. Sebuah penelitian internasional yang sering dijadikan rujukan oleh bidan profesional menyatakan bahwa melakukan variasi gerakan seperti lunge selama fase mengejan dapat mengurangi kebutuhan akan intervensi medis tambahan. Ini karena gerakan aktif yang dilakukan Mama membantu otot rahim berfungsi lebih efisien dalam mendorong bayi tanpa terhambat oleh posisi tubuh yang statis atau tidak bergerak di satu tempat saja. 

Papa juga disarankan untuk selalu siaga di samping Mama dan menjadi pegangan yang kokoh atau tumpuan lengan, karena faktor keseimbangan sangat penting saat melakukan posisi ini. Mama tidak perlu melakukan posisi ini terus-menerus selama proses mengejan, cukup lakukan selama beberapa kali kontraksi sampai dirasa posisi bayi sudah lebih mantap untuk lahir. Jangan lupa untuk mengganti posisi kaki secara bergantian agar otot Mama tetap rileks dan tidak cepat pegal.

5. Duduk tegak (semi-fowler)

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Apabila Mama merasa sudah terlalu lelah untuk berdiri atau jongkok tetapi ingin proses persalinan tetap berjalan dengan baik, posisi duduk tegak atau semi-fowler bisa menjadi alternatif yang sangat nyaman. Dalam posisi ini, bagian atas tempat tidur persalinan akan dinaikkan sehingga Mama berada dalam keadaan duduk bersandar dengan sudut sekitar 45 derajat. Posisi ini juga disukai di banyak rumah sakit karena memungkinkan Mama untuk beristirahat di antara kontraksi tanpa kehilangan momentum mengejan yang efektif.

Salah satu keuntungan utama dari posisi duduk tegak ini adalah pemanfaatan gaya gravitasi yang tetap optimal meskipun Mama dalam keadaan bersandar. Berdasarkan penelitian dari Evidence Based Birth, posisi berdiri membantu berat janin memberikan tekanan alami pada leher rahim, yang otomatis merangsang tubuh untuk memproduksi hormon oksitosin. Hormon inilah yang memperkuat dan mengatur kontraksi, sehingga jalan lahir terbuka dengan lebih cepat dibandingkan jika Ibu hanya berbaring tengkurap yang justru bertentangan dengan gravitasi.

Dari sisi efisiensi medis, American College of Nurse-Midwives (ACNM) menegaskan bahwa posisi semi-duduk memungkinkan panggul Mama tetap memiliki fleksibilitas untuk membimbing bayi turun. Selain itu, sebuah kajian dari The Cochrane Library juga menunjukkan bahwa posisi tegak seperti ini dapat memperpendek waktu fase mengejan. Hal ini bisa terjadi karena berat rahim tidak sepenuhnya menekan pembuluh darah besar di punggung, sirkulasi oksigen ke plasenta tetap terjaga dengan sangat baik selama fase mendorong yang intens. 

Apabila Mama mau mempraktikkan posisi ini, maka disarankan menggunakan bantal tambahan untuk menyangga punggung bawah dan lengan agar posisi duduk terasa lebih stabil. Di momen ini, Papa juga bisa duduk tepat di belakang Mama untuk memberikan sandaran tubuh yang hangat atau sekadar memberikan minum di jeda kontraksi. Dengan dukungan Papa dan posisi yang nyaman, Mama akan memiliki cadangan energi yang lebih baik untuk melakukan dorongan terakhir hingga si Kecil benar-benar hadir di dekapan.

6. Berdiri (upright)

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Posisi berdiri yang tegap adalah cara paling efektif untuk memanfaatkan gaya gravitasi dengan maksimal dalam membantu bayi turun ke jalan lahir. Dalam posisi ini, Mama dapat berdiri dengan kakinya terbuka lebar sambil menggenggam tiang tempat tidur yang kuat atau sepenuhnya bersandar pada tubuh Papa. Dengan berdiri, panggul Mama berada dalam keadaan paling elastis dan seimbang, sehingga memberikan ruang luas bagi si Kecil untuk bergerak mencari jalan keluar dengan lebih efisien.

Secara medis, posisi berdiri sangat dianjurkan karena cara kerjanya yang alami untuk mempersingkat waktu persalinan. Berdasarkan penelitian dari The Cochrane Library, posisi tegak terbukti mampu mempercepat fase mengejan dengan nyata dibandingkan dengan posisi berbaring. Ini terjadi karena tekanan kepala bayi pada leher rahim menjadi lebih stabil dan kuat, yang secara otomatis mendorong tubuh Mama untuk memproduksi hormon oksitosin alami agar pembukaan berjalan lebih lancar.

Tidak hanya mempercepat proses, posisi berdiri juga memastikan pasokan oksigen bagi janin tetap optimal. Mengacu pada panduan dari American College of Nurse-Midwives (ACNM), saat Mama berdiri, rahim tidak akan menekan pembuluh darah besar di punggung yang mengarah ke plasenta. Aliran darah yang tidak terhambat sangat penting untuk menjaga detak jantung bayi tetap stabil dan mengurangi risiko terjadinya keadaan darurat janin selama saat-saat kontraksi yang paling kuat. 

Mama juga disarankan untuk mencoba gerakan goyang panggul ringan atau pelvic rocking sambil berdiri agar sendi-sendi panggul semakin rileks. Di sini, peran Papa sangat krusial sebagai "tiang penyangga" agar Mama tidak cepat lelah menahan beban tubuh sendiri. Jika Mama merasa kaki mulai pegal, Mama bisa mengombinasikan posisi ini dengan bersandar pada meja yang tinggi atau kembali ke posisi duduk sejenak. 

7. Terlentang dengan penyangga (lithotomy)

Popmama.com/Nadya Juyanti/AI

Posisi berbaring dengan kaki yang diangkat atau diletakkan pada dukungan (lithotomy) adalah posisi yang sering direkomendasikan oleh dokter di rumah sakit. Meskipun posisi ini tidak sepenuhnya mengandalkan gaya gravitasi, para dokter biasanya memilih metode ini karena memberikan pandangan yang jelas untuk mengawasi pembukaan jalan lahir. Dengan menggunakan posisi ini, tim medis dapat dengan lebih mudah melakukan tindakan cepat jika ada keadaan darurat yang memerlukan intervensi medis segera untuk keselamatan ibu dan anak.

Dari sudut pandang medis, posisi ini dinilai paling mempermudah bagi tenaga kesehatan dalam melaksanakan prosedur tertentu selama fase mengejan. Berdasarkan informasi dari The American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), posisi tersebut memungkinkan para dokter untuk terus memantau detak jantung janin menggunakan alat CTG dengan lebih tepat. Selain itu, jika dibutuhkan intervensi medis seperti penggunaan vakum atau alat bantuan lainnya, posisi ini memberikan ruang kerja yang paling sesuai dan efisien bagi dokter yang sedang menangani persalinan.

Meskipun biasa menjadi praktik standar rumah sakit, penelitian dari The Cochrane Library menunjukkan bahwa posisi ini sebenarnya memerlukan lebih banyak tenaga dari ibu untuk mengejan karena posisi panggul yang relatif tetap. Oleh sebab itu, dokter biasanya akan memperbaiki posisi ini dengan menempatkan bantal tinggi di belakang punggung ibu agar tidak sepenuhnya datar dengan tempat tidur. Tujuan dari hal ini adalah untuk tetap memberikan sedikit sudut kemiringan agar aliran oksigen ke plasenta tetap terjaga dan agar ibu tidak cepat merasa lemas. 

Nah, tapi perlu diingat ya Ma, posisi mengejan terbaik adalah posisi yang paling membuat Mama merasa nyaman dan tenang saat menjalaninya. Jangan ragu untuk mengikuti sinyal tubuh dan terus berkomunikasi dengan Papa serta tim medis, karena setiap proses persalinan itu unik dan luar biasa. Percayalah, tubuh Mama sudah dirancang sedemikian hebat untuk menyambut kehadiran si Kecil ke dunia.

Jadi, dari deretan posisi mengejan di atas, mana nih yang kira-kira paling ingin Mama coba saat hari persalinan nanti?

Editorial Team