Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Sudah Melahirkan tapi Perut Terasa Ada yang Menendang? Ini Fakta Phantom Kicks!
freepik/gpointstudio
  • Fenomena phantom kicks membuat sebagian ibu pascamelahirkan merasakan sensasi tendangan bayi meski rahim sudah kosong, dialami sekitar 40 persen perempuan hingga bertahun-tahun setelah persalinan.
  • Penyebab utamanya meliputi aktivitas saraf perut yang masih sensitif, memori sensorik tubuh selama kehamilan, kontraksi otot pemulihan, serta peningkatan kepekaan terhadap gerakan gas di usus.
  • Kondisi psikologis seperti kecemasan dan kerinduan masa hamil turut memicu sensasi ini; meski umumnya normal, pemeriksaan medis disarankan bila muncul gejala fisik lain.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Merasakan gerakan halus atau tendangan kecil si Kecil dari dalam kandungan selalu menjadi momen yang paling dinantikan ya, Ma. Sentuhan magis itu seolah menjadi pengingat eratnya ikatan antara Mama dan calon bayi. Namun, bagaimana jadinya jika sensasi getaran familiar tersebut mendadak muncul lagi di perut, padahal si Kecil sudah lama lahir dan tumbuh besar?

Jangan buru-buru merasa takut atau mengira ada hal mistis ya, Ma. Di dalam dunia medis, pengalaman unik ini nyata adanya dan dikenal dengan istilah phantom fetal kicks atau sensasi tendangan janin bayangan. Fenomena ini membuat seorang perempuan yang sudah melahirkan merasa seolah-olah ada bayi yang bergerak di dalam perutnya.

Melansir dari Healthline, sebuah riset dari Monash University Australia mengungkapkan bahwa fenomena ini dialami oleh sekitar 40 persen perempuan pascamelahirkan. Uniknya, studi tersebut mencatat bahwa rata-rata para ibu masih bisa merasakan getaran bayangan ini hingga sekitar 6,8 tahun setelah persalinan mereka yang pertama. Berikut Popmama.com bagikan beberapa alasan ilmiah di balik munculnya gerakan misterius tersebut. 

1. Sinyal dari reseptor saraf perut yang masih aktif

freepik

Selama 9 bulan masa kehamilan, rahim Mama mengalami peregangan yang sangat masif seiring dengan bertambah besarnya ukuran si Kecil. Proses ini ternyata memicu perubahan biologis yang cukup signifikan, salah satunya merangsang pertumbuhan sekaligus meningkatkan sensitivitas jaringan saraf di area perut Mama.

Dokter spesialis OB-GYN, dr. Kecia Gaither, MD, menjelaskan bahwa setelah proses persalinan selesai, jaringan saraf yang telanjur aktif dan sensitif ini terkadang tidak langsung berhenti bekerja begitu saja. Saraf-saraf tersebut masih terus mengirimkan stimulasi atau sinyal listrik ke otak secara berkala, meskipun ruang rahim Mama sebenarnya sudah kosong.

Akibat sinyal yang terus berjalan ini, otak Mama sering kali salah mengartikannya sebagai gerakan atau tendangan janin yang nyata. Kondisi medis ini serupa dengan fenomena phantom limb, sebuah memori sensorik di mana seseorang yang kehilangan anggota tubuhnya masih bisa merasakan sensasi keberadaan organ tersebut.

2. Memori otomatis dari sistem 'proprioception' tubuh

freepik/pch.vector

Satu hal yang perlu Mama ketahui, masa kehamilan rupanya ikut mengubah cara kerja sistem proprioception di dalam tubuh kita. Sebagai informasi, proprioception merupakan kemampuan bawah sadar sistem saraf tubuh untuk mengenali posisi, orientasi, serta mendeteksi setiap gerakan internal tanpa harus kita lihat secara langsung.

Selama berbulan-bulan mengandung, sistem saraf di sekitar area perut Mama seolah-olah diprogram dalam mode otomatis untuk selalu memantau pergerakan si Kecil di dalam rahim. Radar alami ini bekerja sangat aktif demi mendeteksi apakah janin sedang aktif bergerak atau berputar.

Ketika masa melahirkan sudah lewat, memori sensorik yang melekat erat pada sistem saraf ini membutuhkan waktu transisi yang cukup lama untuk bisa benar-benar kembali normal. Karena memori kehamilan tersebut sangat kuat, getaran sekecil apa pun pada dinding perut pascamelahirkan secara refleks diterjemahkan oleh otak sebagai memori gerakan bayi yang paling membekas.

3. Kontraksi otot perut yang sedang dalam masa pemulihan

freepik/senivpetro

Proses mengembalikan elastisitas bentuk tubuh dan posisi organ dalam pascamelahirkan merupakan sebuah perjalanan panjang yang membutuhkan waktu tidak sebentar ya, Ma. Setelah melahirkan, rahim tidak langsung mengecil begitu saja, melainkan mengalami proses penyusutan alami yang bertahap.

Otot-otot rahim serta seluruh jaringan ikat di sekitar perut akan terus melakukan kontraksi-kontraksi kecil yang tidak kentara demi bisa kembali ke ukuran semula sebelum hamil. Pemulihan internal ini terjadi di bawah kesadaran Mama dan berlangsung selama berminggu-minggu pascapersalinan.

Mengutip penjelasan dari dr. Tiffany Woodus, MD, proses pembentukan kembali jaringan otot perut (remodeling) yang aktif ini kerap memicu kedutan halus di area perut. Getaran mekanis akibat pemulihan fisik internal inilah yang sering kali disalahpahami oleh para Mama dan disangka sebagai sisa-sisa tendangan si Kecil yang tertinggal.

4. Meningkatnya kepekaan terhadap gerakan gas di usus

freepik/jcomp

Selama menjalani masa kehamilan, seorang ibu secara naluriah dilatih untuk memiliki kepekaan yang sangat tinggi terhadap setiap letupan di dalam perutnya demi memantau keselamatan bayi. Radar sensitivitas yang super kuat ini sayangnya tidak bisa langsung mati begitu saja setelah masa nifas Mama selesai.

Di sisi lain, aktivitas organ pencernaan kita yang normal sebenarnya selalu menghasilkan gerakan lambung dan usus, termasuk pergerakan sisa makanan atau gelembung gas yang berjalan. Uniknya, pola getaran gas di usus ini memiliki tekstur getaran yang hampir persis dengan letupan halus (flutter) janin pada trimester pertama.

Karena otak Mama sudah terbiasa mengaitkan semua getaran perut dengan gerakan bayi selama berbulan-bulan, terjadilah salah paham sinyal. Aliran gas biasa di dalam saluran pencernaan pun akhirnya dirasakan oleh tubuh dan diartikan oleh pikiran Mama persis seperti sebuah phantom kicks.

5. Pengaruh kondisi psikologis dan kesehatan mental

freepik

Fase postpartum atau pascamelahirkan bukan hanya tentang pemulihan fisik, melainkan juga sebuah periode yang sangat menantang bagi kondisi psikologis seorang ibu. Dinamika emosi dan kesehatan mental ternyata memegang andil yang cukup besar dalam menstimulasi munculnya sensasi fisik di perut ini.

Berdasarkan tinjauan para ahli kesehatan, fenomena phantom kicks rupanya memiliki keterkaitan yang erat dengan fluktuasi emosional, termasuk tingkat kecemasan (anxiety) yang tinggi atau depresi pascamelahirkan. Ketika pikiran sedang tegang, tubuh cenderung menjadi jauh lebih sensitif dalam merespons sinyal-sinyal fisik.

Selain itu, rasa rindu yang teramat kuat terhadap keintiman masa-masa mengandung juga bisa menjadi pemicu psikologis. Keinginan bawah sadar untuk merasakan kembali indahnya momen menggendong janin di dalam rahim secara tidak langsung menstimulasi sistem saraf Mama untuk memunculkan kembali memori sensorik tendangan tersebut.

Mengalami phantom kicks memang bisa memicu rasa bingung dan bertanya-tanya ya, Ma. Namun jika dokter menyatakan kondisi fisik Mama sehat, cobalah untuk melihat fenomena unik ini dari sudut pandang yang hangat. Anggaplah getaran halus tersebut sebagai bentuk apresiasi dan cara tubuh Mama mengenang kehebatan dirinya yang pernah menjadi rumah yang aman bagi lahirnya sebuah kehidupan baru. Semangat selalu dalam mengawal tumbuh kembang si Kecil, dan pastikan Mama selalu meluangkan waktu untuk merawat kesehatan diri sendiri, ya!

Editorial Team