ilustrasi awal kehamilan (pexels.com/Karolina Grabowska)
Keunggulan dari tes ini adalah kemampuannya dalam membantu pencegahan dini. Mama yang mengetahui dirinya berisiko dapat mengambil langkah proaktif, seperti berkonsultasi dengan psikolog, mencari dukungan sosial, atau melakukan terapi ringan sebelum gejala muncul.
Peneliti juga menyebutkan bahwa hasil tes bisa membantu dokter dalam memberikan perawatan yang lebih personal, termasuk kemungkinan pemberian obat antidepresan ringan setelah melahirkan.
Pendekatan ini diharapkan mampu menekan angka depresi pascapersalinan yang hingga kini masih cukup tinggi di seluruh dunia.
Tes darah ini bukan hanya terobosan medis, tapi juga simbol perubahan cara pandang terhadap kesehatan mental Mama.
Menurut psikiater reproduksi Jennifer Payne, tes ini dapat membantu mengurangi stigma bahwa depresi hanyalah persoalan mental belaka. Dengan bukti biologis, masyarakat dapat memahami bahwa PPD adalah kondisi medis yang membutuhkan perawatan.
Rencananya, tes darah prediksi postpartum ini akan mulai tersedia di beberapa klinik di Amerika Serikat pada awal 2026.
Jika terbukti efektif, langkah ini bisa menjadi awal dari pemeriksaan rutin bagi Mama yang sedang hamil di seluruh dunia. Harapannya, semakin banyak Mama yang dapat merasa aman, tenang, dan siap menyambut peran barunya tanpa harus berjuang sendirian.
Dengan adanya tes darah ini, harapan baru terbuka bagi para Mama di seluruh dunia. Penelitian ini menunjukkan bahwa kesehatan mental setelah melahirkan sama pentingnya dengan kesehatan fisik.
Semoga dengan deteksi dini seperti ini, lebih banyak Mama yang bisa mendapatkan dukungan dan perawatan yang tepat sejak awal, sehingga perjalanan menjadi Mama terasa lebih ringan dan penuh kebahagiaan.