Begini Pengaruh Hormon Kehamilan di Setiap Trimester

Hormon berperan besar dalam pertumbuhan dan perkembangan janin

24 Desember 2022

Begini Pengaruh Hormon Kehamilan Setiap Trimester
Pexels.com/Trần Long

Pada masa kehamilan, tubuh mama akan merasakan banyak perubahan, dari mulai pusing, mual, penciuman yang mendadak menjadi tajam, hingga rasa nyeri di beberapa bagian tubuh.

Keluhan-keluhan seperti ini disebabkan oleh hal yang sama, yaitu adanya hormon kehamilan. Hormon sendiri adalah zat alami yang diproduksi oleh tubuh.

Hormon membantu menyampaikan pesan antara sel dan sistem organ, serta fungsi tubuh lainnya.

Hormon kehamilan tentunya sangat penting untuk Mama karena membantu perkembangan janin di dalam kandungan.

Berikut Popmama.com rangkum pengaruh hormon kehamilan di setiap trimester.

1. Hormon kehamilan pada trimester pertama

1. Hormon kehamilan trimester pertama
Freepik/Senivpetro

Pada trimester pertama kehamilan, hormon progesteron dan estrogen akan meningkat secara drastis.

Hormon progesteron adalah hormon yang penting pada trimester pertama. Hormon ini mempersiapkan rahim untuk menerima sel telur yang telah difertilisasi dan berfungsi sebagai pelemas otot, serta mencegah rahim berkontraksi hingga persalinan.

Akan tetapi, sifat relaksasi otot ini juga dapat menyebabkan sembelit karena memperlambat saluran pencernaan.

Selain itu, menurut Illana Halperin, seorang staf ahli bidang endokrinologi di Sunnybrook Health Sciences Centre dan asisten professor di University of Toronto, hormon progesteron juga dikaitkan dengan iritabilitas klasik pada periode pramenstruasi dan adanya kadar hormon progesteron yang tinggi selama kehamilan akan mengefek pada perubahan suasana hati.

Biasanya pada saat hamil, perubahan suasana hati akan lebih sensitif, Mama bisa saja marah, lalu merasa sedih, atau senang beberapa menit kemudian. 

Selain hormon progesteron, hormon estrogen juga membantu mengatur progesteron sekaligus menjaga lapisan endometrium yang sangat penting untuk perkembangan janin.

Hormon estrogen dipercaya dapat meningkatkan aliran darah, yang mana sangat penting untuk menyehatkan janin.

Akan tetapi, aliran darah ini dapat menyebabkan payudara mama terasa sakit dan hidung tersumbat karena selaput lendir di saluran hidung akan membengkak. Terlepas dari itu semua, peningkatan aliran darah juga membawa dampak positif, yaitu membuat kulit mama bersinar dan sehat pada masa kehamilan. 

Ginjal juga memproses cairan ekstra dan rahim menekan kandung kemih, hal ini mendesak Mama untuk membuang air kecil, sehingga Mama akan sering ke toilet saat hamil.

Begitu pun dengan hormon Human Chrorionic Gondadotropin (hCG) yang juga mulai diproduksi di masa ini. Hormon hCG adalah hormon yang dikenal memberikan hasil berupa garis positif pada test pack.

Peningkatan hormon ini mengindikasi bahwa plasenta sedang dibuat. Hormon kehamilan ini akan membuat indra penciuman mama semakin sensitif yang dapat meningkatkan rasa mual. Sehingga tidak jarang, pada trimester pertama ibu hamil merasa mual. 

Hormon perangsang tiroid (TSH ) juga mengalami perubahan pada masa kehamilan. Hormon ini membantu mengatur metabolisme setiap sel dalam tubuh.

Ketika hamil, hormon tiroid tersebut perlu ditingkatkan untuk mendukung perkembangan saraf dan perkembangan tulang janin. Hormon tiroid diproduksi di kelenjar hipofisis di otak dan membantu mengatur hormon tiroid penting lainnya.

Peningkatan hCG dan estrogen dapat merangsang tiroid lebih banyak lagi, terutama apabila Mama menginginkan anak kembar.

Di trimester pertama kehamilan, volume darah juga meningkat, sistem kekebalan tubuh akan berubah untuk melindungi janin di dalam kandungan, dan adanya banyak hormon lainnya yang mengalir di aliran darah.

Editors' Pick

2. Hormon kehamilan pada trimester kedua

2. Hormon kehamilan trimester kedua
Freepik/Senivpetro

Pada trimester kedua, hormon relaxin akan membuat otot dan persendian mama terasa tidak nyaman, terutama di sekitar panggul.

Hormon ini yang membantu mengendurkan otot-otot polos pada daerah sekitar panggul seperti rahim, dan juga mendorong pertumbuhan plasenta.

Meskipun begitu, hal ini mungkin membuat yoga prenatal menjadi sedikit lebih mudah, tetapi hal ini juga dapat menyebabkan Mama mengalami rasa sakit dan nyeri pada ligamen, atau bahkan lebih mudah mengalami cedera.

Selain itu, hormon melanosit juga ikut meningkat pada trimester kedua. Hormon ini memicu sel-sel melanosit kulit untuk memproduksi melanin, yang memberi warna kulit.

Oleh sebab itu, beberapa ibu hamil sering kali tampak dengan "topeng kehamilan" atau biasa dikenal sebagai melasma, yang menyebabkan bercak cokelat atau abu-abu di sekitar wajah. Begitu juga dengan munculnya linea nigra, garis gelap di daerah perut.

Tidak hanya itu, puting susu juga akan berubah menjadi gelap, bersama dengan tahi lalat, dan bintik-bintik yang lebih jelas. Namun, hal seperti ini menghilang setelah melahirkan. 

Hormon kortisol juga meningkat selama kehamilan. Hormon ini penting untuk janin yang sedang berkembang karena dapat membantu mengatur metabolisme dalam tubuh dan mengontrol kadar gula darah.

Kadar kortisol yang tinggi dapat terlihat dari beberapa seperti stretch mark, masalah tekanan darah, dan kemerahan tambahan di wajah dan pipi. 

Selain itu, hormon Human Placental Lactogen (HPL), hormon yang disekresikan dari plasenta, juga dianggap membantu pertumbuhan janin pada trimester kedua.

HPL merupakan salah satu hormon utama yang berhubungan dengan resistensi insulin selama kehamilan  atau diabetes gestasional, yang kadang-kadang berkembang pada trimester kedua dan dapat menyebabkan pertumbuhan bayi yang berlebihan.
 

3. Hormon kehamilan pada trimester ketiga

3. Hormon kehamilan trimester ketiga
Freepik/user18526052

Pada trimester ketiga, tubuh akan meningkatkan hormon yang dibutuhkan untuk pascapersalinan.

Hormon estrogen dan progesteron akan mencapai puncaknya sekitar 32 minggu dan Mama mungkin melihat banyak pembengkakan di sekitar pergelangan kaki mama.

Meskipun hal ini dapat berhubungan dengan sistem limfatik, hormon estrogen juga dapat berperan karena secara tidak langsung terlibat dalam mensintesis hormon yang berkaitan dengan retensi garam dan air. 

Sementara itu, hormon relaxin membantu melonggarkan otot-otot panggul menjelang akhir kehamilan untuk mempersiapkan persalinan.

Selanjutnya adalah hormon prolaktin, hormon yang merangsang perkembangan jaringan payudara Mama untuk mempersiapkan ASI, juga meningkat pada trimester ketiga.

Hormon prolaktin meningkat 10 hingga 20 kali lipat pada saat kehamilan. Meskipun tubuh tidak benar-benar menghasilkan ASI di payudara sampai hormon progesteron dan estrogen menurun setelah kelahiran, tubuh mama mulai bersiap-siap dengan kolostrum, yaitu makanan pertama untuk bayi baru lahir yang keluar dari payudara ibu sebelum ASI.

Tidak hanya itu, pada trimester ketiga hormon oksitosin juga akan memicu kontraksi menjelang persalinan.

Hormon oksitosin dan hormon estrogen membantu melepaskan prostaglandin, yang dapat melunakkan leher rahim untuk mempersiapkan persalinan.
 

4. Hormon setelah melahirkan

4. Hormon setelah melahirkan
Freepik/@wavebreakmedia_micro

Setelah melahirkan, hormon endorfin akan mengambil peran yang lebih dominan. Hormon ini memberikan rasa baik yang akan membantu Mama menghadapi rasa sakit.

Babicki-Farrugia, seorang dokter kandungan, mengatakan bahwa kebanyakan perempuan merasa seperti manusia super setelah melahirkan, merasa puas, dan percaya diri. Hal ini karena adanya hormon endorfin. 

Hormon endorfin akan menurun pada hari ketiga dan keempat setelah melahirkan, Ma. Begitu juga hormon-hormon lainnya, seperti progesteron, estroge, relaxin, hCG dan HPL yang menurun setelah tubuh melepaskan plasenta. 

Penurunan level hormon ini dapat menyebabkan Mama merasa depresi, ketakutan, dan sebagainya. Meskipun begitu, perubahan hormon yang terjadi setelah melahirkan tidak selalu berdampak buruk.

Ketika si Kecil mulai menyusu, maka hormon prolaktin mulai meningkat dan hormon tersebut akan mendorong produksi ASI.

Nah, begitulah pengaruh hormon kehamilan di setiap trimester. Semoga bermanfaat, ya, Ma!

Baca juga:

The Latest