Agar Tumbuh Kembang Janin Optimal, Berapa Usia Ideal Hamil Bagi Mama?

Upayakan untuk melakukan program hamil pada rentang usia ini ya, Ma

10 Juni 2019

Agar Tumbuh Kembang Janin Optimal, Berapa Usia Ideal Hamil Bagi Mama
Pixabay/Fotorech

Kehamilan menjadi salah satu momen penting dan berharga bagi perempuan. Semua yang terbaik tentu akan diupayakan demi mendapatkan proses kehamilan yang sehat sampai waktunya melahirkan.

Nah, salah satu komponen yang tak kalah penting saat hendak melakukan program hamil adalah mempertimbangkan faktor usia Mama.

Tak dapat dipungkiri bahwa faktor usia juga membawa peran penting, sebab akan memengaruhi kesehatan tubuh Mama secara keseluruhan. Apabila tubuh Mama sehat, tumbuh kembang janin juga akan menjadi lebih optimal.

Berapa sebenarnya rentang usia ideal hamil, ya? Yuk simak rangkuman informasi dari Popmama.com berikut ini:

1. Rentang usia 20-an

1. Rentang usia 20-an
Pexels/Moose Photos

Dilansir Healthline, jurnal Plos One menyebutkan bahwa perempuan berada dalam fase paling subur dan memiliki peluang terbaik untuk hamil adalah pada rentang usia 20-an.

Pada rentang usia ini, Mama memiliki jumlah sel telur yang paling banyak. Tak cuma itu, sel telur yang ada juga berkualitas terbaik.

Hamil di rentang usia 20-an cenderung membuat Mama memiliki risiko komplikasi terhadap masalah kehamilan yang lebih rendah.

Beberapa risiko tersebut misalnya seperti risiko keguguran, risiko gangguan para organ reproduksi, risiko hipertensi dan diabetes, serta risiko kelahiran prematur.

2. Rentang usia 30-an

2. Rentang usia 30-an
Pexels/Hannah Nelson

Kesuburan secara bertahap akan mulai mengalami penurunan pada usia 30-an, tepatnya rata-rata dimulai pada usia 32 tahun. Saat Mama memasuki usia 35 tahun, proses penurunannya akan semakin cepat.

Perempuan dilahirkan dengan jumlah sel telur maksimal, rata-rata yakni sekitar 1 juta. Nah, jumlah sel telur ini secara bertahap akan menurun seiring berjalannya waktu.

Pada usia 37 tahun, diperkirakan Mama akan memiliki sekitar 25 ribu sel telur yang tersisa.

Beberapa risiko komplikasi seperti keguguran dan kelainan genetik juga biasanya akan mulai meningkat saat usia Mama mencapai 35 tahun ke atas. Ini berarti Mama lebih mungkin menghadapi komplikasi dalam kehamilan atau saat melahirkan.

Oleh sebab itu, saat hamil di rentang usia ini biasanya dokter akan merekomendasikan berbagai skrining dan pemeriksaan tambahan untuk Mama dan juga janin.

Untuk menjaga kesehatan kehamilan selama usia 35 tahun ke atas, Mama bisa melakukan beberapa hal penting seperti rutin cek ke dokter setiap bulan, menerapkan diet gizi seimbang, olahraga teratur, dan menjaga kestabilan kenaikan berat badan. Demikian dikutip dari Web MD.

Editors' Picks

3. Rentang usia 40-an

3. Rentang usia 40-an
Pexels/Pixabay

Memasuki rentang usia 40-an, ada penurunan tajam dalam kemampuan seorang perempuan untuk bisa hamil secara alami. Sebab di waktu ini, jumlah sel telur dan kualitasnya pun kian menurun.

Sel telur yang usianya sudah lebih tua umumnya berisiko memiliki lebih banyak masalah kromosom, yang nantinya meningkatkan risiko bayi kelak memiliki cacat lahir.

Kendati demikian, sebagian besar perempuan berusia 40-an masih dapat hamil dan  memiliki bayi sehat, kok. Hanya saja beberapa jenis risiko komplikasinya meningkat secara signifikan.

Risiko-risiko tersebut termasuk seperti persalinan dengan operasi caesar, kelahiran prematur, bayi lahir dengan berat badan rendah, hingga cacat saat lahir.

Beberapa masalah medis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi juga lebih sering terjadi pada perempuan berusia di atas 35 tahun. Kondisi-kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi kehamilan seperti diabetes gestasional dan preeklampsia.

4. Program hamil untuk usia 35 tahun ke atas

4. Program hamil usia 35 tahun ke atas
Freepik/Nensuria

Apabila Mama sudah berusia di atas 35 tahun dan belum juga berhasil hamil setelah lebih dari 6 bulan melakukan program, Mama mungkin memiliki masalah kesuburan.

Dokter spesialis kesuburan biasanya dapat membantu menentukan mengapa Mama belum hamil dengan melakukan beberapa pemeriksaan. Bisa direkomendasikan juga langkah-langkah untuk program hamil yang lebih kompleks.

Teknologi-teknologi seperti Assisted Reproductive Technologies (ART) dapat membantu Mama untuk bisa hamil, tetapi teknologi tidak bisa sepenuhnya mengatasi masalah penurunan kesuburan terkait usia Mama.

Pada rentang usia 40-an, dokter akan  masalah kesuburan pada perempuan salah satunya dengan obat perangsang produksi sel telur atau dengan teknik tertentu seperti fertilisasi in vitro atau in vitro fertilization (IVF).

5. Pengaruh usia terhadap kesuburan laki-laki

5. Pengaruh usia terhadap kesuburan laki-laki
Pexels/Bruce Mars

Tidak hanya memengaruhi perempuan, pertambahan usia juga dapat memengaruhi kesuburan pada laki-laki. Ini berarti kesuburan Papa juga bisa menurun seiring bertambahnya usia. Namun proses ini biasanya terjadi dimulai sekitar usia 40-an.

Setelah memasuki rentang usia ini, laki-laki memiliki jumlah sperma yang lebih rendah. Kemampuan sperma untuk bisa aktif bergerak juga akan mengalami penurunan.

Sel sperma dari laki-laki yang usianya sudah di atas 40 tahun juga cenderung memiliki kelainan genetik dibandingkan dengan laki-laki yang usianya muda.

Jurnal PubMed Central menyebutkan bahwa semakin tua seorang laki-laki, semakin lama juga waktu yang dibutuhkan untuk membuat pasangannya bisa hamil.

Namun demikian, bukan berarti lantasi di usia ini laki-laki sudah tidak bisa menjadi ayah. Tetap bisa kok, Ma. Hanya saja prosesnya mungkin akan menjadi lebih sulit dibandingkan saat masih muda.

Jadi, pada usia berapa Mama berencana akan hamil kembali? Jangan ragu untuk konsultasi dengan dokter juga, ya.

Baca juga:

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;