Ketidakseimbangan pH vagina terjadi ketika tingkat keasaman alami berubah menjadi terlalu asam atau terlalu basa. Kondisi ini bisa membuat flora vagina terganggu dan memicu berbagai masalah, termasuk penurunan kesuburan. Berikut penjelasan penyebab utamanya:
1. Infeksi bakteri atau jamur
Bacterial vaginosis dan infeksi jamur adalah penyebab paling umum pH vagina menjadi tidak seimbang. BV biasanya membuat pH menjadi lebih basa, sedangkan infeksi jamur dapat mengubah keasaman dan memicu gejala seperti gatal atau keputihan abnormal.
2. Penggunaan produk pembersih kewanitaan yang tidak sesuai
Sabun dengan pH tinggi, parfum, pewangi, atau produk douching dapat merusak keseimbangan bakteri baik dan membuat pH meningkat. Vagina sebenarnya mampu membersihkan diri, sehingga pemakaian produk yang keras justru mengganggu sistem alaminya.
3. Perubahan hormonal
Fluktuasi hormon, seperti ketika menstruasi, kehamilan, menyusui, atau menjelang menopause, dapat memengaruhi kadar pH. Misalnya, darah menstruasi bersifat lebih basa sehingga dapat membuat pH vagina meningkat sementara waktu.
4. Aktivitas seksual
Sperma memiliki pH lebih basa dari vagina. Setelah berhubungan seksual tanpa kondom, pH vagina bisa berubah menjadi lebih tinggi untuk sementara. Ini bisa memengaruhi keseimbangan flora vagina pada beberapa perempuan.
5. Penggunaan antibiotik
Antibiotik tidak hanya membunuh bakteri penyebab infeksi, tetapi juga dapat mengurangi jumlah bakteri baik Lactobacillus yang menjaga pH tetap stabil. Akibatnya, pH lebih mudah naik dan menimbulkan masalah seperti BV atau infeksi jamur.
6. Kebersihan yang kurang tepat
Kebiasaan seperti membersihkan vagina terlalu dalam, sering berganti-ganti celana dalam yang tidak menyerap keringat, atau area genital yang lembap dapat mendorong pertumbuhan bakteri yang mengganggu keseimbangan pH.
7. Stres dan pola makan
Stres berkepanjangan serta konsumsi makanan tinggi gula dapat memengaruhi mikrobioma tubuh, termasuk flora vagina. Ini membuat pH lebih mudah berubah dan meningkatkan risiko infeksi.