IVF alami memiliki beberapa kesamaan dengan IVF tradisional, yaitu dasar-dasarnya hampir sama di mana dokter akan mengambil sel telur yang matang dari indung telur dan membuahi sel telur tersebut dengan sperma di laboratorium.
Kemudian, embrio yang baru dibuat dipindahkan ke dalam rahim. Jika semuanya berjalan dengan baik, akan berakhir dengan kehamilan yang sukses.
Namun, ada pula beberapa perbedaan besar antara keduanya.
Proses IVF tradisional dilakukan dengan memberikan suntikan medis secara teratur untuk merangsang indung telur dalam upaya menghasilkan banyak sel telur. Para ahli menyebutnya superovulasi, atau stimulasi ovarium terkontrol (COS).
Pasien juga akan diberikan obat-obatan untuk mencegah tubuh melepaskan sel telur, sehingga dapat dipanen dan diambil kembali nanti. Obat yang biasa digunakan, yaitu ganirelix atau cetrotide.
seorang OB/GYN dan ahli endokrin reproduksi dengan RMA Long Island IVF, Michael Zinger menyebut bahwa obat ini bisa menghentikan semua pesan dari otak ke ovarium dan secara efektif mencegah sinyal ovulasi.
Sedangkan IVF alami bekerja sepenuhnya dengan bebas obat. Namun, pasien jarang meminta IVF jenis ini. Hal ini karena tingkat keberhasilan IVF alami lebih rendah daripada IVF tradisional.