Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
10 Penyebab Hormon Tidak Seimbang dan Cara Menjaganya
Unsplash/Valeriia Miller
  • Hormon berperan penting dalam mengatur metabolisme, suasana hati, tidur, dan reproduksi; ketidakseimbangannya bisa dipicu oleh stres, kurang tidur, pola makan buruk, obesitas, hingga gangguan tiroid atau PCOS.
  • Faktor gaya hidup seperti kurang aktivitas fisik, penggunaan obat tertentu, serta perubahan usia dan menopause juga dapat memengaruhi produksi hormon dan menimbulkan gejala seperti lelah, berat badan naik, atau mood tidak stabil.
  • Menjaga keseimbangan hormon dapat dilakukan dengan tidur cukup, kelola stres, konsumsi makanan bergizi seimbang, rutin olahraga, menjaga berat badan ideal, batasi kafein dan alkohol, serta rawat kesehatan pencernaan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Perubahan suasana hati yang tiba-tiba, berat badan naik tanpa sebab jelas, hingga mudah lelah bisa jadi bukan sekadar efek kurang istirahat, lho. Kondisi tersebut dapat berkaitan dengan hormon dalam tubuh yang sedang tidak seimbang.

Padahal, hormon punya peran penting dalam mengatur banyak fungsi tubuh, mulai dari metabolisme, suasana hati, siklus tidur, hingga kesehatan reproduksi. Ketika produksi hormon terganggu, tubuh pun bisa memberikan berbagai sinyal yang sering kali tidak disadari.

Karena itu, penting bagi kita untuk memahami apa saja faktor yang bisa memicu hormon tidak seimbang sekaligus cara menjaga kesehatan hormon agar tubuh tetap fit dan berenergi.

Simak pembahasan selengkapnya telah Popmama.com rangkum mengenai penyebab hormon tidak seimbang dan cara menjaganya.

Penyebab Hormon Tidak Seimbang dan Cara Menjaganya

1. Stres berlebihan

Pexels/Anna Tarazevich

Stres yang terjadi terus-menerus dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh. Saat seseorang stres, tubuh akan memproduksi hormon kortisol dan adrenalin lebih banyak sebagai respons alami untuk menghadapi tekanan.

Jika kondisi ini berlangsung lama, kadar kortisol yang terlalu tinggi bisa mengganggu kerja hormon lain, seperti hormon tiroid, insulin, estrogen, dan progesteron. Secara medis, stres kronis juga dapat memengaruhi fungsi hipotalamus dan kelenjar pituitari di otak yang berperan sebagai pusat pengatur hormon tubuh.

Akibatnya, seseorang bisa mengalami gangguan tidur, mudah lelah, berat badan meningkat, menstruasi tidak teratur, hingga suasana hati yang tidak stabil. Karena itu, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik untuk mempertahankan keseimbangan hormon.

2. Kurang tidur

Pexels/cottonbro studio

Tidur bukan hanya waktu tubuh untuk beristirahat, tetapi juga momen penting untuk memperbaiki dan mengatur produksi hormon. Saat tidur, tubuh memproduksi berbagai hormon penting seperti melatonin, hormon pertumbuhan, hingga kortisol dalam jumlah yang seimbang.

Jika waktu tidur kurang atau kualitas tidur buruk, ritme hormon tubuh dapat terganggu. Kurang tidur dalam jangka panjang dapat meningkatkan hormon ghrelin yang memicu rasa lapar dan menurunkan hormon leptin yang memberi sinyal kenyang.

Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah makan berlebihan dan mengalami kenaikan berat badan. Selain itu, kurang tidur juga bisa meningkatkan risiko resistensi insulin, gangguan metabolisme, dan menurunnya daya tahan tubuh.

3. Pola makan tidak sehat

Pexels/Monstera Production

Makanan yang dikonsumsi sehari-hari sangat memengaruhi kesehatan hormon. Pola makan tinggi gula, makanan ultra-proses, lemak trans, serta minim serat dapat mengganggu sensitivitas insulin dan meningkatkan peradangan dalam tubuh.

Kondisi ini berpotensi menyebabkan ketidakseimbangan hormon metabolik dan reproduksi. Tubuh membutuhkan nutrisi seperti protein, lemak sehat, vitamin D, magnesium, dan omega-3 untuk membantu produksi hormon berjalan optimal.

Jika asupan nutrisi tersebut kurang, tubuh akan kesulitan memproduksi hormon dalam jumlah yang tepat. Akibatnya, seseorang bisa mengalami mudah lelah, jerawat hormonal, gangguan siklus menstruasi, hingga perubahan berat badan yang drastis.

4. Kurang aktivitas fisik

Freepik/stockking

Jarang bergerak atau terlalu lama duduk dapat memengaruhi metabolisme dan produksi hormon tubuh. Aktivitas fisik sebenarnya membantu meningkatkan sensitivitas insulin, menjaga kadar hormon stres, dan mendukung produksi hormon endorfin yang membuat suasana hati lebih baik.

Secara medis, kurang olahraga juga berkaitan dengan peningkatan risiko obesitas dan sindrom metabolik yang dapat mengganggu keseimbangan hormon insulin, estrogen, dan testosteron.

Tidak heran jika seseorang yang kurang aktif lebih mudah merasa lemas, sulit tidur, hingga mengalami kenaikan berat badan yang memicu masalah hormonal lainnya.

5. Obesitas atau berat badan berlebih

Unsplash/DianaPolekhina

Jaringan lemak dalam tubuh bukan hanya tempat penyimpanan energi, tetapi juga berfungsi sebagai organ yang dapat memproduksi hormon tertentu. Pada kondisi obesitas, lemak berlebih dapat meningkatkan produksi estrogen dan memengaruhi kerja insulin dalam tubuh.

Kelebihan berat badan juga meningkatkan risiko resistensi insulin, yaitu kondisi ketika sel tubuh tidak merespons insulin dengan baik. Hal ini dapat menyebabkan kadar gula darah meningkat dan memicu gangguan hormon lainnya, termasuk sindrom ovarium polikistik (PCOS) pada perempuan.

Karena itu, menjaga berat badan ideal penting untuk mendukung kesehatan hormonal secara keseluruhan.

6. Gangguan kelenjar tiroid

Pexels/jcomp

Kelenjar tiroid menghasilkan hormon yang berfungsi mengatur metabolisme tubuh. Jika produksi hormon tiroid terlalu sedikit (hipotiroid) atau terlalu banyak (hipertiroid), berbagai fungsi tubuh bisa terganggu.

Pada hipotiroid, seseorang biasanya mengalami mudah lelah, berat badan naik, kulit kering, dan sulit berkonsentrasi. Sementara hipertiroid dapat menyebabkan jantung berdebar, berat badan turun drastis, sulit tidur, dan mudah cemas.

Gangguan tiroid termasuk salah satu penyebab hormon tidak seimbang yang cukup umum, sehingga membutuhkan pemeriksaan medis untuk diagnosis yang tepat.

7. PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome)

Pexels/freepik

PMOS (Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome) adalah gangguan hormonal yang umum terjadi pada perempuan usia reproduktif. Kondisi ini menyebabkan ovarium memproduksi hormon androgen atau hormon laki-laki dalam jumlah lebih tinggi dari normal.

Akibatnya, perempuan dengan PMOS bisa mengalami menstruasi tidak teratur, jerawat berlebih, pertumbuhan rambut di area tertentu, hingga kesulitan hamil. Secara medis, PMOS juga sering berkaitan dengan resistensi insulin dan peradangan kronis ringan dalam tubuh.

Penanganannya biasanya melibatkan perubahan gaya hidup, pengaturan pola makan, hingga terapi medis tertentu.

Kata "Polyendocrine" berarti gangguan ini melibatkan banyak kelenjar dan hormon di dalam tubuh, bukan hanya hormon reproduksi. Masalah utamanya berakar dari lingkaran setan antara dua hal berikut:

  • Resistensi Insulin yang Tinggi: Sel-sel tubuh pasien PMOS kesulitan merespons insulin (hormon pengatur gula darah). Akibatnya, pankreas dipaksa memproduksi insulin dalam jumlah yang sangat besar (hiperinsulinemia).

  • Insulin Memicu Hormon Maskulin (Androgen): Kadar insulin yang tinggi di dalam darah ini mengirimkan sinyal keliru ke ovarium (indung telur) dan kelenjar adrenal untuk memproduksi hormon Androgen (seperti testosteron) secara berlebihan.

  • Kekacauan di Otak (Kelenjar Pituitari): Hormon androgen yang tinggi mengacaukan sinyal di otak, membuat produksi Luteinizing Hormone (LH) melonjak tinggi sementara Follicle-Stimulating Hormone (FSH) tetap rendah. Rasio hormon yang tidak seimbang ini merusak seluruh sistem endokrin tubuh.

8. Penggunaan obat-obatan tertentu

Freepik/jcomp

Beberapa jenis obat dapat memengaruhi produksi dan kerja hormon dalam tubuh. Misalnya, pil KB hormonal, obat kortikosteroid, terapi hormon, hingga obat antidepresan tertentu dapat mengubah keseimbangan hormon jika digunakan dalam jangka panjang.

Efeknya bisa berbeda pada setiap orang, tergantung kondisi tubuh dan jenis obat yang digunakan. Ada yang mengalami perubahan siklus menstruasi, peningkatan berat badan, perubahan mood, hingga gangguan tidur.

Karena itu, penggunaan obat hormonal sebaiknya selalu berada di bawah pengawasan dokter agar efek sampingnya dapat dipantau dengan baik.

9. Faktor usia dan menopause

Pexels/Timur Weber

Seiring bertambahnya usia, produksi hormon dalam tubuh secara alami akan mengalami perubahan. Pada perempuan, hormon estrogen dan progesteron mulai menurun menjelang menopause.

Sementara pada laki-laki, kadar testosteron juga dapat berkurang perlahan. Perubahan hormon akibat penuaan dapat menyebabkan berbagai gejala seperti hot flashes, gangguan tidur, suasana hati berubah, penurunan massa otot, hingga metabolisme melambat.

Meski merupakan proses alami, menjaga pola hidup sehat tetap penting untuk membantu tubuh beradaptasi dengan perubahan hormonal tersebut.

10. Penyakit atau gangguan medis tertentu

Pexels/Stef-b

Beberapa penyakit dapat memengaruhi sistem endokrin yang bertugas memproduksi hormon. Misalnya diabetes, gangguan adrenal, tumor pada kelenjar hormon, hingga penyakit autoimun tertentu dapat menyebabkan produksi hormon menjadi tidak normal.

Dalam dunia medis, sistem hormon bekerja saling terhubung satu sama lain. Jika satu kelenjar mengalami gangguan, organ lainnya juga bisa ikut terdampak.

Cara Menjaga Keseimbangan Hormon

Freepik/freepik

Oleh sebab itu, gejala hormon tidak seimbang sebaiknya tidak diabaikan, terutama jika berlangsung lama atau semakin mengganggu aktivitas sehari-hari. Pemeriksaan dokter diperlukan untuk mengetahui penyebab pasti dan menentukan penanganan yang sesuai.

Berikut beberapa tips cara menjaga keseimbangan hormon, antara lain:

1. Tidur Cukup dan Berkualitas

Orang dewasa umumnya membutuhkan waktu tidur sekitar 7–9 jam setiap malam agar fungsi hormon tetap stabil. Selain durasi, kualitas tidur juga penting diperhatikan. Cobalah tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari, mengurangi penggunaan gadget sebelum tidur, serta menciptakan suasana kamar yang nyaman dan gelap agar tubuh lebih mudah beristirahat.

2. Kelola Stres dengan Baik

Kamu bisa mencoba relaksasi sederhana seperti meditasi, yoga, journaling, atau meluangkan waktu melakukan hobi yang disukai. Aktivitas ringan yang membuat pikiran lebih tenang dapat membantu tubuh mengontrol hormon stres dengan lebih baik.

3. Konsumsi Makanan Bergizi Seimbang

Tubuh membutuhkan protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan serat untuk mendukung kerja sistem endokrin. Konsumsi makanan alami seperti sayur, buah, ikan, telur, kacang-kacangan, dan biji-bijian bisa membantu menjaga kesehatan hormon.

4. Rutin Berolahraga

Aktivitas fisik membantu meningkatkan sensitivitas insulin, menjaga metabolisme, dan merangsang produksi hormon endorfin yang membuat suasana hati lebih baik. Olahraga juga membantu mengontrol hormon stres sekaligus menjaga kesehatan jantung dan berat badan.

5. Jaga Berat Badan Ideal

Menjaga berat badan tetap sehat melalui pola makan seimbang dan olahraga rutin dapat membantu hormon bekerja lebih optimal. Selain itu, tubuh pun terasa lebih bertenaga dan metabolisme menjadi lebih baik.

6. Kurangi Konsumsi Kafein dan Alkohol Berlebihan

Konsumsi kafein dan alkohol dalam jumlah berlebihan dapat memengaruhi kualitas tidur, meningkatkan hormon stres, dan mengganggu metabolisme tubuh. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini bisa berdampak pada keseimbangan hormon secara keseluruhan.

7. Perhatikan Kesehatan Pencernaan

Kesehatan usus ternyata memiliki hubungan erat dengan keseimbangan hormon. Untuk menjaga kesehatan pencernaan, perbanyak konsumsi makanan tinggi serat dan probiotik seperti yoghurt, tempe, atau kimchi. Minum air putih yang cukup juga membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal.

Nah, itu dia beberapa penyebab hormon tidak seimbang dan cara menjaganya. Dengan menerapkan pola hidup sehat dan lebih peka terhadap sinyal tubuh, kamu dapat membantu menjaga hormon tetap stabil dan tubuh terasa lebih bugar setiap hari.

Editorial Team