Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Program Hamil untuk Perempuan dengan Hipertensi
Freepik/Freepik

Intinya sih...

  • Konsultasi ke dokter sebelum program hamil

  • Antisipasi komplikasi hipertensi selama kehamilan

  • Waspadai tekanan darah tinggi dan preeklampsia

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Masa kehamilan merupakan momen yang membahagiakan bagi para Mama. Fase ini menjadi waktu penantian hadirnya buah hati yang menggemaskan. Namun, sebelum menjalani program hamil, penting bagi Mama untuk memastikan kondisi tubuh berada dalam keadaan prima agar proses reproduksi dapat berjalan dengan optimal.

Hal ini perlu diperhatikan jika Mama memiliki riwayat hipertensi. Kondisi tersebut sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter umum atau dokter kandungan sebelum memulai program hamil, karena tekanan darah tinggi dapat mempengaruhi kondisi kehamilan.

Bahkan, jenis persalinan baik normal maupun caesar juga dapat dipengaruhi oleh tingkat keparahan hipertensi yang dimiliki.

Berikut Popmama.com jelaskan program hamil untuk Mama yang memiliki hipertensi yang dilansir dari babycenter.com dan penting untuk diketahui.

1. Konsultasi ke dokter

Freepik/Pressfoto

Berkonsultasi ke dokter tidak hanya dilakukan saat sedang sakit, tetapi juga sangat dianjurkan ketika Mama merencanakan program hamil.

Tujuannya adalah untuk memastikan tubuh benar-benar siap menjalani kehamilan sesuai dengan standar kesehatan ibu hamil.

Melalui konsultasi ini, dokter dapat membantu Mama merencanakan kehamilan yang lebih aman, mulai dari pengaturan pola makan, pemilihan vitamin, hingga obat-obatan yang aman dikonsumsi.

Selain itu, pemeriksaan kesehatan juga bertujuan untuk memastikan tidak ada risiko penyakit tertentu yang dapat mengganggu perkembangan janin hingga proses persalinan.

2. Antisipasi komplikasi sejak dini

Freepik/8photo

Hipertensi kronis dapat meningkatkan risiko komplikasi selama kehamilan, salah satunya adalah kemungkinan persalinan caesar. Kondisi tekanan darah yang tidak stabil dapat membuat persalinan normal menjadi kurang aman bagi Mama maupun bayi.

Selain itu, hipertensi juga dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes gestasional, yaitu kondisi ketika kadar gula darah meningkat selama kehamilan.

Kombinasi hipertensi dan diabetes gestasional perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada kesehatan Mama dan janin. Oleh sebab itu, antisipasi risiko sejak awal kehamilan sangat penting, salah satunya dengan rutin memeriksa tekanan darah dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.

3. Waspadai tekanan darah tinggi dan preeklampsia

Freepik/Stockking

Selain hipertensi, Mama juga perlu mewaspadai risiko preeklampsia. Kondisi ini ditandai dengan tekanan darah tinggi yang disertai gangguan pada organ lain, seperti ginjal atau hati, dan umumnya terjadi setelah usia kehamilan 20 minggu.

Risiko preeklampsia dapat meningkat jika Mama memiliki riwayat diabetes, obesitas, penyakit ginjal, atau pernah mengalami kondisi serupa pada kehamilan sebelumnya.

Untuk mendeteksinya, dokter biasanya akan memantau tekanan darah, kadar protein dalam urine, serta kondisi kesehatan Mama secara menyeluruh. Deteksi dini sangat penting agar preeklampsia dapat ditangani sejak awal.

4. Selektif mengonsumsi obat-obatan selama hamil

Freepik/Jcomp

Tidak semua obat aman dikonsumsi selama kehamilan. Oleh karena itu, Mama perlu lebih selektif dalam mengonsumsi obat-obatan untuk menjaga kesehatan janin. Hal ini termasuk obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah.

Beberapa jenis obat hipertensi diketahui dapat memengaruhi perkembangan janin. Jika Mama perlu mengonsumsi obat selama kehamilan, pastikan obat tersebut diresepkan oleh dokter dan digunakan di bawah pengawasan medis agar kehamilan tetap berjalan dengan aman.

5. Menjaga dan menstabilkan tekanan darah

Freepik/Pressfoto

Menjaga tekanan darah tetap stabil sangat dianjurkan, baik sebelum maupun selama kehamilan. Mama dapat melakukannya dengan menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga berat badan ideal, berhenti merokok, serta mengonsumsi makanan bergizi seimbang.

Mengurangi asupan garam, memperbanyak konsumsi buah dan sayuran, serta mengelola stres dengan baik juga dapat membantu menstabilkan tekanan darah. Dengan tubuh yang lebih stabil, program hamil dan kehamilan pun dapat dijalani dengan lebih optimal.

6. Rutin melakukan pemeriksaan kehamilan

Unsplash/Getty Images

Selama kehamilan, Mama perlu rutin melakukan pemeriksaan ke dokter untuk memantau kondisi kesehatan diri dan janin. Hipertensi dapat mempengaruhi aliran nutrisi melalui plasenta, sehingga dokter akan memantau pertumbuhan janin melalui pemeriksaan USG secara berkala.

Pemeriksaan rutin ini bertujuan untuk mendeteksi dini apabila terjadi gangguan, sehingga penanganan dapat dilakukan secepat mungkin. Dengan pemantauan yang baik, risiko yang tidak diinginkan dapat diminimalkan.

7. Hipertensi kronis tetap memungkinkan kehamilan sehat

Unsplash/Curated Lifestyle

Meskipun memiliki riwayat hipertensi, Mama tetap memiliki peluang untuk menjalani program hamil dan melahirkan secara normal. Kuncinya adalah menjaga tekanan darah tetap stabil melalui pemantauan rutin dan mengikuti anjuran dokter.

Dengan tekanan darah yang terkontrol, aliran darah ke rahim dan plasenta dapat terjaga dengan baik, sehingga kebutuhan oksigen dan nutrisi janin tetap terpenuhi. Inilah alasan mengapa banyak Mama dengan hipertensi kronis tetap dapat menjalani kehamilan dengan sehat hingga persalinan.

Nah, dalam menjalani program hamil dengan riwayat hipertensi memang membutuhkan perhatian ekstra. Namun, dengan perencanaan yang matang, pemantauan kesehatan secara rutin, serta gaya hidup yang sehat.

Mama tetap memiliki peluang untuk menjalani kehamilan yang aman dan sehat. Jangan ragu untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga medis agar setiap langkah yang diambil sesuai dengan kondisi tubuh Mama.

Editorial Team