Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Waspadai anemia saat kehamilan bisa berisiko pada pertumbuhan janin
Freepik.com/rawpixel

Intinya sih...

  • Anemia pada ibu hamil umumnya disebabkan oleh kekurangan zat besi, asam folat, dan vitamin B12

  • Kekurangan nutrisi ini dapat berdampak pada pertumbuhan janin, meningkatkan risiko kelahiran prematur, dan bayi lahir dengan berat badan rendah

  • Perawatan yang tepat perlu diberikan untuk mencegah komplikasi serius pada ibu hamil dan janin yang dikandung

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Anemia adalah masalah kesehatan yang sering terjadi dan dapat terjadi pada siapa saja. Namun, jika anemia terjadi pada ibu hamil, sebaiknya kondisi tersebut jangan dianggap sepele dan segera dieriksakan ke dokter kandungan.

Meskipun kondisi ini sering dialami oleh beberapa perempuan yang sedang hamil, tapi bukan berarti anemia diabaikan ya, Ma.

Terdapat tiga kategori anemia yang harus diwaspadai saat hamil, yakni anemia karena kekurangan zat besi, asam folat dan vitamin B12. Namun, dari ketiga jenis anemia ini, zat besi adalah yang seing dialami oleh ibu hamil.

Kekurang zat besi bukan hanya dapat membuat tubuh mama jadi mudah merasa lemas serta pucat, namun dapat berdampak pada proses kehamilan Mama.

Sehingga jika mengalami anemia, Mama harus lebih waspada, karena kondisi ini sangat berisiko bagi ibu hamil, tetapi bisa berakibat fatal bagi janin dalam kandungan dan risiko komplikasi serius pada bayi seperti, kelahiran prematur.

Oleh sebab itu, calon ibu harus selalu memperhatikan dan wasapada pada tiap gejala yang terjadi pada tubuh. Lantas, apa itu anemia dan kenapa harus diwaspadai?

Nah, berikut ini Popmama.com sudah merangkum informasi tentang waspadai anemia saat kehamilan karena bisa berisiko pada pertumbuhan janin

1. Mengenali apa itu anemia selama kehamilan

Freepik.com/kjpargeter

Seperti yang telah dijelaskan, anemia pada ibu hamil adalah kondisi yang sering terjadi. Namun jangan diabaikan ya kondisi ini. Anemia yang umumnya terjadi pada ibu hamil adalah anemia kekurangan zat besi, anemia kekurangan asam folat dan anemia kekurangan vitamin B12.

Melansir American Society of Hematology (ASH), Seorang  perempuan lebih sering kekurangan zat besi terutama saat hamil.

Tubuh memanfaatkan zat besi sebagai bahan utama pembentukan hemoglobin, protein penting dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke jaringan tubuh. Selain pada tubuh Mama, oksigen tersebut juga akan dialirkan kepada janin.

Jika pasokan oksigen tidak mencukupi, berbagai fungsi tubuh dan bayi dalam kandungan bisa terganggu, selain itu, hemoglobin juga berperan membawa karbon dioksida kembali ke paru-paru untuk dikeluarkan melalui napas.

Agar produksi sel darah merah dan hemoglobin tetap optimal, tubuh membutuhkan asupan zat besi dan vitamin yang cukup. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi, kadar hemoglobin dapat menurun dan pengiriman oksigen ke organ tubuh menjadi tidak maksimal.

Saat kehamilan, Mama juga perlu memperhatikan asupan vitamin B12. Vitamin ini dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel darah merah. Jika kekurangan vitamin B12, maka produksi sel darah merah pada tubuh akan turut menurun, inilah mengapa tubuh akan mudah lelah.

Asam folat sangat dibutuhkan ibu hamil, terutama dalam menjaga kesehatan tubuh dan mengoptimalkan perkembangan janin. Kekurangan asam folat pada ibu hamil dapat berdampak pada  dan juga Mama seperti, bayi mengalami cacat lahir dan risiko penurunan berat bada secara drastis pada Mama.

2. Dampak anemia pada janin

Freepik.com/AI

Mengalami anemia dan tidak mendapatkan perawatan yang tepat dapat berisiko pada jani yang dikandung. Janin yang sedang tumbuh sepenuhnya bergantung pada ibu untuk memperoleh asupan zat besi, vitamin B12, dan asam folat yang cukup.

Melansir Cleveland Clinic, kekurangan nutrisi ini dapat menyebabkan anemia, yang berpotensi menghambat pertumbuhan janin, terutama pada trimester pertama kehamilan.

Jika anemia tidak ditangani dengan baik, bayi berisiko mengalami anemia setelah lahir yang dapat berdampak pada proses tumbuh kembangnya.

Tak hanya itu, kondisi ini juga meningkatkan kemungkinan terjadinya kelahiran prematur serta bayi lahir dengan berat badan rendah.

3. Risiko kelahiran prematur

Freepik.com/wirestock

Anemia pada ibu hamil dapat meningkatkan risiko kelahiran prematur, yaitu persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu.

Kondisi ini umumnya dipicu oleh rendahnya kadar hemoglobin yang menyebabkan pasokan oksigen ke tubuh Mama tidak optimal, sehingga berpengaruh pada kesiapan janin untuk lahir tepat waktu.

4. Bayi lahir dengan berat badan rendah

Freepik.com/rawpixel

Anemia pada ibu hamil, terutama jika terjadi sejak trimester pertama, dapat meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan di bawah rata-rata normal. Ini terjadi ketika bayi memiliki berat kurang dari 2.500 gram saat dilahirkan.

Kondisi ini berpotensi menimbulkan berbagai gangguan kesehatan pada bayi di kemudian harinya, Ma, mulai dari masalah pernapasan, rentan terkena infeksi, hingga kadar gula darah rendah.

5. Perdarahan pasca melahirkan

Freepik.com

Anemia pada ibu hamil juga dapat meningkatkan risiko terjadinya perdarahan setelah melahirkan.

Kondisi ini terjadi karena rahim tidak memperoleh suplai oksigen yang optimal, sehingga memicu atonia uteri, yaitu keadaan ketika otot rahim tidak dapat berkontraksi secara maksimal usai persalinan.

Akibatnya, pembuluh darah yang sebelumnya terhubung dengan plasenta tidak menutup sempurna, sehingga memicu terjadinya perdarahan pascapersalinan.

Itulah informasi penting seputar anemia saat kehamilan yang perlu diwaspadai karena dapat berdampak pada pertumbuhan janin. Oleh karena itu, pastikan Mama rutin memantau kondisi kesehatan selama masa kehamilan agar tetap optimal.

Usahakan selalu cek kesehatan ya, Ma, jangan lupa untuk selalu memperhatikan setiap perubahan dan gejala yang terjadi.

Editorial Team