Hati-hati! Ini Bahaya Pakai Vape Bagi Kesehatan Ibu Hamil dan Janin

Amankah vape dimanfaatkan sebagai pengganti rokok biasa?

11 Juli 2019

Hati-hati Ini Bahaya Pakai Vape Bagi Kesehatan Ibu Hamil Janin
Unsplash/Antonin FELS

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghentikan kebiasaan merokok, salah satunya yang populer adalah beralih ke rokok elektronik alias vape.

Meski faktanya vape tidak sepenuhnya aman, namun tak sedikit orang yang beranggapan bahwa peralihan ini bisa benar-benar menggantikan rokok biasa. Termasuk pada ibu hamil.

Padahal faktanya di dalam vape tetap ada zat-zat berbahaya yang dapat merusak kesehatan, khususnya paru-paru.

Memakai vape saat hamil sebenarnya tidak menghindarkan Mama dari bahaya merokok. Beberapa penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa ada dampak bagi kesehatan janin yang juga bisa terjadi akibat penggunaan vape saat hamil.

Dikutip dari Safe Harbor House, berikut Popmama.com rangkum informasi dari tentang vape dan bahayanya bagi kesehatan kehamilan:

1. Apa itu rokok elektronik alias vape?

1. Apa itu rokok elektronik alias vape
Unsplash/Chloe Andrews

Rokok elektronik yang sering disebut juga sebagai e-vaporizers atau vape adalah rokok yang dioperasikan dengan menggunakan daya dari baterai untuk menghirup aerosol cair.

Bahan-bahan dalam cairan ini biasanya mengandung nikotin dalam jumlah banyak, tetapi ada juga beberapa yang tidak ada atau hanya mengandung sedikit nikotin.

Isi dari vape yakni e-liquid atau e-juice juga tersedia dalam berbagai varian rasa menarik. Namun demikian, e-liquid ini juga mengandung bahan kimia lain, yang beberapa di antaranya berbahaya bagi kesehatan.

Kebanyakan perangkat vape menyerupai bentuk rokok, dengan ukuran yang bermacam-macam. Ada yang kecil seukuran flashdisk, ada juga yang berukuran sedikit lebih besar mirip seperti cerutu.

Perangkat ini terdiri dari cartridge untuk menahan e-liquid, elemen pemanas untuk menghasilkan aerosol, baterai, serta corong yang digunakan untuk menghirup.

Cara kerja perangkat ini adalah ketika seseorang mengisap perangkat vape, elemen pemanas akan membuat uap. Uap pun kemudian akan dihirup, sama seperti saat mengisap asap rokok tembakau.

2. Fakta-fakta berbahaya tentang vape

2. Fakta-fakta berbahaya tentang vape
Unsplash/Mathco Health Corp

Beberapa orang yang kecanduan rokok biasa mungkin memutuskan untuk mencoba vape dalam upaya untuk berhenti merokok. Banyak pula yang beralih ke vape karena terlihat lebih aman dibandingkan rokok biasa. Tapi benarkah demikian?

Faktanya, vape sama sekali tidak lebih aman dari rokok biasa. Vape juga mengandung nikotin, sama seperti yang terdapat pada rokok biasa. Nikotin yang dipanaskan untuk membuat aerosol dalam vape pun diekstraksi dari tembakau.

Bahan kimia lain juga banyak terdapat dalam e-liquid, yang kemudian bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan. Tentu saja yang paling utama adalah nikotin.

Nikotin merupakan bahan utama dalam e-liquid dan bersifat adiktif sekaligus beracun. Sifat candu yang dihasilkan dari nikotin dari vape bahkan sama seperti rokok biasa. Cartridge pada vape bahkan memberikan nikotin dalam konsentrasi yang lebih tinggi.

Tak cuma bagi perokok aktif, perokok pasif alias orang-orang yang menghirup asap dari vape pun juga turut berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Jadi, ibu hamil sebaiknya tidak dulu berdekatan dengan perokok, ya. Baik perokok biasa maupun perokok vape.

Editors' Picks

3. Kandungan berbahaya dari cairan vape

3. Kandungan berbahaya dari cairan vape
Pixabay/Haiberliu

Selain nikotin, cairan alias e-liquid dalam vape juga bahan kimia dan pengawet lainnya. Sebagian besar memiliki propilen glikol, yaitu bahan kimia yang dapat menyebabkan iritasi mata dan paru-paru.

Saat dipanaskan dalam suhu tinggi, karbonil dalam e-liquid juga dapat terbentuk dan berpotensi menjadi bahan beracun. Karbonil dalam e-liquid yang ditemukan oleh para peneliti meliputi formaldehida, asetaldehida, aseton, dan butanol.

Jika e-liquid yang digunakan berbasis propilen glikol, ini berarti Mama mengonsumsi karbonil yang lebih tinggi, termasuk formaldehyde, yang merupakan zat karsinogenik alias pemicu kanker.

4. Bahaya dan risiko kesehatan akibat merokok selama hamil

4. Bahaya risiko kesehatan akibat merokok selama hamil
Pexels/Thorn Yang

Telah terbukti secara ilmiah dan dipahami bahwa merokok tembakau dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan, mulai dari kanker paru-paru, penyakit mulut hingga penyakit jantung.

Bagi ibu hamil, merokok juga berisiko dapat menyebabkan kelahiran prematur, berat bayi lahir rendah, cacat lahir dan bahkan kematian bayi.

Fakta-fakta inilah yang kemudian menyebabkan banyak perempuan ingin berhenti merokok atau mencari alternatif seperti vape.

Namun kenyataannya, risiko kesehatan yang dimiliki oleh ibu hamil dengan kebiasaan merokok dengan vape juga tidak jauh berbeda. Merokok dengan rokok elektronik alias vape selama hamil juga turut meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan seperti risiko:

  • Kehamilan ektopik
  • Keguguran
  • Abrasi plasenta
  • Persalinan prematur
  • Bayi lahir meninggal
  • Kebutuhan perawatan intensif karena berat lahir rendah
  • Kematian mendadak alias Sudden Infant Death Syndrome (SIDS)
  • Cacat bawaan, termasuk pada paru-paru dan otak
  • Merokok saat hamil juga meningkatkan risiko anak kelak mengidap asma, kolik dan memiliki masalah kesehatan mental, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

5. Amankah vape digunakan saat hamil?

5. Amankah vape digunakan saat hamil
Unsplash/Sergiu Valenas

Meski vape sering dianggap lebih aman dibandingkan rokok biasa, faktanya tetap ada zat yang sangat berbahaya di dalam perangkat tersebut. Jadi, tidak ada kata ‘aman’ untuk janin, baik dari rokok biasa maupun dari vape. Keduanya tetap tidak dianjurkan oleh US Food and Drugs Administration (FDA) bagi ibu hamil.

Nikotin dalam vape sendiri sudah berbahaya bagi kehamilan, selain itu zat karsinogenik termasuk dari perasa dalam e-liquid juga dapat membahayakan janin yang sedang berkembang. Jadi sejauh ini, FDA belum menyetujui vape digunakan untuk tujuan berhenti merokok.

Nikotin adalah zat beracun yang sangat adiktif, daapt mengganggu perkembangan otak janin, memengaruhi perkembangan paru-paru dan menempatkan bayi pada risiko tinggi terhadap kematian mendadak atau SIDS. lebih tinggi untuk SIDS. Beberapa vape bahkan mungkin mengandung kadar nikotin yang lebih tinggi daripada rokok biasa.

Apabila Mama adalah seorang perokok, baik aktif maupun pasif, sebaiknya hentikan konsumsi nikotin untuk menghindari berbagai risiko pada tumbuh kembang janin.

Tak cuma bagi ibu hamil, ibu menyusui pun memiliki risiko kesehatan terhadap pemakaian vape. Ada kekhawatiran tentang nikotin yang bisa masuk ke dalam air susu ibu (ASI). Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter tentang cara aman berhenti merokok dan menghindari asap rokok saat hamil ya, Ma.

Berlangganan Newsletter?

Mau dapat lebih banyak informasi seputar parenting?
Daftar sekarang!

;