Tubuh memproduksi berbagai hormon, termasuk hormon kortisol. Hormon kortisol sering disalahpahami sebagai hormon yang berkaitan dengan stres.
Fungsi hormon kortisol yang dilepaskan oleh kelenjar adrenal adalah mengatur metabolisme, lemak, protein, dan karbohidrat. Selain itu, kortisol juga membantu menekan respon peradangan, kadar gula darah, tekanan darah, dan siklus tidur.
Meski hormon kortisol bermanfaat, kadar kortisol yang terlalu tinggi juga tidak baik, Ma. Dan stres dapat meningkatkan kadar kortisol.
Menurut studi yang diterbitkan di The Lancet, kadar kortisol yang tinggi saat hamil dapat berdampak buruk pada berat lahir, panjang badan bayi baru lahir, dan gejala depresi pascapersalinan pada ibu hamil.
Ibu hamil mudah mengalami perubahan suasana hati akibat perubahan hormon. Namun, stres dan perubahan suasana hati juga bisa disebabkan oleh kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT yang dilakukan oleh suami.
KDRT saat hamil bisa menimbulkan banyak risiko, baik bagi ibu hamil dan janin. Salah satunya adalah peningkatan kortisol pada janin. Peningkatan kortisol ini pada akhirnya bisa menyebabkan berat badan lahir rendah dan persalinan prematur, Ma.
Pada ulasan berikut ini, Popmama.com sudah merangkum informasi tentang KDRT saat hamil bisa sebabkan berat badan lahir rendah dan persalinan prematur. Semoga bisa menambah wawasan, ya, Ma!
