5 Komplikasi yang Bisa Terjadi di Trimester Kedua Kehamilan

Segera hubungi dokter jika mengalami salah satu dari gejala berikut ini, Ma

8 November 2021

5 Komplikasi Bisa Terjadi Trimester Kedua Kehamilan
Freepik/user15285612

Memasuki usia trimester kedua kehamilan bisa menjadi kebahagian tersendiri bagi ibu hamil. Selain telah berhasil melewati trimester pertama, kehamilan trimester kedua dianggap paling nyaman dari trimester pertama dan ketiga.

Saat memasuki trimester kedua, mual dan muntah yang dirasakan ibu hamil biasanya mulai hilang. Selain itu, risiko keguguran juga telah menurun di trimester kedua.

Meski begitu, Mama tetap harus waspada karena ada beberapa komplikasi yang bisa terjadi.

Untuk mengetahuinya, simak rangkuman Popmama.com berikut ini mengenai komplikasi yang bisa terjadi di trimester kedua kehamilan seperti yang dilansir dari Healthline.

1. Perdarahan

1. Perdarahan
checkpregnancy.com

Meskipun risikonya kecil, namun masih ada potensi keguguran pada ibu hamil di trimester kedua kehamilan. Gejala pertama biasanya ditandai dengan perdarahan vagina. 

Penyebab perdarahan

Keguguran dan perdarahan pada trimester kedua (sebelum 20 minggu) dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang berbeda, di antaranya:

  • Septate uterus (bagian dalam rahim terbagi oleh dinding otot atau jaringan ikat fibrosa).

  • Inkompetensi serviks (serviks terbuka terlalu cepat, sehingga menyebabkan kelahiran dini).

  • Penyakit autoimun (contohnya termasuk lupus atau scleroderma. yang dapat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel sehat).

  • Kelainan kromosom pada janin (terjadi ketika ada yang salah dengan kromosom bayi).

Selain keempat faktor tersebut, ada penyebab lain perdarahan pada trimester kedua, seperti persalinan dini, plasenta previa (plasenta menutupi serviks) dan solusio plasenta (plasenta terpisah dari rahim).

Penyebab tersebut lebih sering terjadi pada trimester ketiga, tetapi tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada akhir trimester kedua.

Perawatan perdarahan

Jika Mama memiliki darah resus (Rh) negatif, maka Mama bisa mendapatkan suntikan imunoglobulin (RhoGAM). Imunoglobulin adalah obat yang berfungsi untuk mengobati kekurangan antibodi.

Sedangkan antibodi adalah protein yang diproduksi oleh sistem kekebalan tubuh yang mengenali dan melawan zat berbahaya, seperti bakteri dan virus. 

Mendapatkan suntikan imunoglobulin akan membantu mencegah perkembangan antibodi Rh yang akan menyerang janin jika memiliki golongan darah resus positif.

Mama mungkin merasa cemas jika mengalami perdarahan vagina. Namun, penting untuk diingat bahwa tidak semua perdarahan berujung pada keguguran. Jadi, sebaiknya Mama tetap tenang dan segera konsultasikan ke dokter jika mengalami perdarahan saat hamil. 

Editors' Picks

2. Persalinan prematur

2. Persalinan prematur
Pixabay/SeppH

Persalinan prematur adalah persalinan yang terjadi sebelum minggu ke-38 kehamilan. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan persalinan prematur, seperti infeksi kandung kemih, kebiasaan merokok dan kondisi kesehatan kronis lainnya, seperti diabetes atau penyakit ginjal.

Persalinan prematur juga sangat berisiko pada ibu hamil yang sebelumnya pernah melahirkan prematur.

Gejala persalinan prematur

Gejala persalinan prematur mungkin tidak bisa terlihat jelas. Namun, ada beberapa kondisi yang bisa menjadi tanda persalinan prematur, di antaranya adalah: 

  • Adanya tekanan pada vagina

  • Nyeri pada punggung bawah

  • Sering buang air kecil

  • Diare

  • Peningkatan jumlah keputihan

  • Sesak di perut bagian bawah

Selain gejala di atas, persalinan prematur juga bisa ditandai dengan kondisi yang lebih jelas, seperti kontraksi yang menyakitkan, keluarnya cairan dari vagina dan perdarahan vagina.

Jika Mama memiliki gejala-gejala tersebut, sebaiknya segera periksakan ke dokter kandungan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Perawatan persalinan prematur

Jika Mama memiliki gejala-gejala persalinan prematur, dokter mungkin akan memberikan beberapa obat yang dapat membantu menghentikan persalinan prematur, seperti magnesium sulfat, kortikosteroid dan tokolitik.

Namun, jika persalinan prematur tidak dapat dihentikan, dokter akan memberikan obat steroid untuk membantu perkembangan paru-paru bayi dan mengurangi keparahan penyakit paru-paru. 

3. Inkompetensi serviks atau insufisiensi serviks

3. Inkompetensi serviks atau insufisiensi serviks
Freepik/freepik

Inkompetensi serviks atau insufisiensi serviks merupakan kondisi di mana serviks tidak mampu menahan tekanan rahim yang tumbuh selama kehamilan, sehingga dapat menyebabkan serviks terbuka sebelum bulan kesembilan. Meskipun Kondisi ini jarang terjadi, namun tetap berpotensi menyebabkan komplikasi serius.

Pembukaan dan penipisan serviks pada akhirnya dapat menyebabkan pecahnya selaput ketuban dan melahirkan janin yang sangat prematur. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar minggu ke-20 kehamilan.

Kondisi ini sering kali menyebabkan kehamilan tidak dapat diselamatkan, karena janin terlalu prematur untuk bertahan hidup di luar rahim.

Ibu hamil memiliki risiko lebih tinggi mengalami inkompetensi serviks jika sebelumnya pernah mengalami trauma serviks, seperti robekan saat melahirkan.

Gejala inkompetensi serviks

Tidak seperti persalinan prematur, inkompetensi serviks biasanya tidak menyebabkan rasa sakit atau kontraksi. Namun, ibu hamil yang mengalami inkompetensi serviks memiliki kemungkinan mengalami perdarahan atau keputihan.

Perawatan inkompetensi serviks

Pengobatan untuk inkompetensi serviks bisa berupa penjahitan leher rahim yang hanya bisa dilakukan jika usia kehamilan masih 24 minggu atau kurang. Jahitan leher rahim kemudian akan dibuka ketika menjelang persalinan.

Selain penjahitan leher rahim, perawatan inkompetensi serviks juga bisa berupa pemasangan pessary, yaitu alat yang berfungsi menopang rahim agar tetap di posisinya. Pessary juga dapat mengurangi tekanan pada leher rahim.

4. Preeklamsia

4. Preeklamsia
Freepik/valuavitaly

Preeklamsia adalah kondisi peningkatan tekanan darah disertai dengan adanya protein dalam urine. Preeklamsia pada ibu hamil bisa dipicu oleh tekanan darah tinggi, peningkatan protein dalam urine dan bengkak berlebihan pada beberapa bagian tubuh. 

Preeklamsia berpengaruh pada setiap sistem dalam tubuh ibu hamil, termasuk plasenta. Padahal, plasenta berperan penting untuk memberikan nutrisi kepada janin.

Gejala preeklamsia

Gejala preeklamsia bisa berupa pembengkakan pada kaki, tangan, atau wajah. Selain itu, gejala preeklamsia juga bisa berupa sakit kepala, serta nyeri tak tertahankan di perut atau di sisi kanan tubuh Mama.

Perawatan preeklamsia

Ibu hamil yang mengalami preeklamsia akan diberikan beberapa penanganan untuk mengatasi keluhan dan mencegah komplikasi, seperti diberikan obat-obatan sesuai dengan kondisi Mama.

Jika preeklamsia cukup berat atau semakin parah, Mama akan dirawat untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut oleh dokter. 

5. Cedera

5. Cedera
Freepik/Dragana_Gordic
Ibu hamil lebih rentan mengalami stres dan depresi selama pandemi COVID-19.

Mama akan lebih mudah kehilangan keseimbangan selama kehamilan, karena pusat gravitasi berubah saat hamil. Akibatnya, Mama akan lebih rentan terhadap cedera.

Oleh karena itu, sebaiknya Mama selalu berhati-hati, terutama saat di kamar mandi. Alangkah baiknya Mama menambahkan permukaan antiselip di lantai kamar mandi agar tidak mudah terpeleset. Selain itu, Mama juga bisa menambahkan pegangan di kamar mandi agar lebih aman. 

Itulah 5 komplikasi yang bisa terjadi di trimester kedua kehamilan. Jika mengalami gejala-gejala komplikasi tersebut, sebaiknya Mama tetap tenang dan hubungi dokter untuk mendapatkan pemeriksaan selanjutnya. 

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.