TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

5 Cara Melatih Kecerdasan Emosi Anak Tanpa Harus Ribet

Kalau Mama telaten, pasti Mama bisa!

Unsplash/Hannah Olinger

Selama berada di rumah saja, Mama pasti punya waktu lebih lama berinteraksi dengan anak-anak di rumah. 

Ada kalanya anak memiliki mood yang kurang baik. Tentu tidak mudah menghadapinya.

Melatih kecerdasan emosi pada si Kecil memang diperlukan cukup banyak usaha ya, Ma.

Namun, kecerdasan emosi ini tidak harus menunggu si Kecil beranjak dewasa dan mengerti mengenai perasaan. Ini perlu dilatih sejak sedini mungkin agar membantu perkembangan emosi pada anak-anak.

Semakin dilatih, si Kecil akan lebih bisa memaknai setiap emosi yang terjadi pada dirinya. Tak hanya itu, dirinya juga bisa belajar mandiri dan mampu mempertajam keterampilan sosial dalam bersosialisasi.

Untuk membantu Mama lebih mudah dalam melatih kecerdasan emosi si Kecil di rumah.

Berikut beberapa strategi dari Popmama.com yang bisa dilakukan untuk melatih kecerdasan emosi si Kecil.

1. Mengajarkan anak menerima perasaan negatif

happyyouhappyfamily.com

Saat si Kecil sedang terlihat menangis, Mama harus mengusahakan untuk menghindari kata-kata seperti: “Cup… cup… Yuk, sudah diam dan berhenti menangisnya!” Kalimat ini memang berusaha menghentikan tangisan si Kecil, namun ini justru kurang tepat.

Si Kecil seolah dipaksa berhenti saat dirinya sedang ingin mengekspresikan perasaan negatif yang sedang dirasakan. Itu berarti Mama tidak membiarkan si Kecil melatih kecerdasan emosinya.

Ada baiknya saat anak-anak sedang marah atau sedih, cobalah untuk mengutarakan “Mama sepertinya melihat kamu sedang sedih hari ini?

Bolehkah Mama tahu apa yang sedang terjadi?” Kalimat seperti ini bagus diutarakan ke si Kecil agar dirinya mau terbuka dan menceritakan apa yang sedang terjadi.

2. Validasi perasaan anak

Unsplash/Colin Maynard

Saat si Kecil sudah mulai jujur dan menerima perasaan negatif yang sedang dialaminya. Tugas Mama sekarang perlu sekali untuk berusaha menenangkan apa yang sedang dirasakan si Kecil.

Doronglah si Kecil dengan kata-kata seperti: “Mama tahu kalau ini kejadian yang menyedihkan.

Tetapi tenanglah, ini bukan masalah besar karena Mama akan berusaha menemani dan membantu kamu. Tahapan ini akan membuat si Kecil untuk tidak perlu khawatir terhadap sebuah masalah atau perasaan negatif yang sedang terjadi padanya.

Ingatkan kepadanya kalau setiap orang pasti akan merasakan perasaan sedih atau marah. Semua itu wajar terjadi. Dengan begitu si Kecil akan menyadari kalau dirinya tidak sendiri.

3. Berusaha melatih anak memiliki sikap empati

Unsplash/Dawn

Walau masih kecil, anak-anak bisa lho diajarkan untuk melatih sikap empati di dalam dirinya. Jika sikap empati sudah dimiliki si Kecil, ini tentu akan membantu dirinya bersosialisasi dengan orang lain di sekitarnya.

Mama perlu melatih sikap ini ke si Kecil. Ini bisa dilakukan dari kejadian yang terjadi di sekitar si Kecil atau lewat tayangan televisi.

Jika ada kejadian tentang kejadian kriminal, mungkin ini bisa dijadikan pelajaran agar si Kecil bisa merasakan bagaimana menjadi korban.

Mama juga bisa menunjukkan ekspresi untuk menarik perhatian dan empati si Kecil. Dari kejadian sebelum kriminal ini, Mama bisa berekspresi seolah menjadi korban dengan raut muka sedih.

Selain bisa merasakan kejadian yang dirasakan korban, raut wajah kesedihan yang dibuat Mama juga akan mengembangkan lebih banyak empati untuk si Kecil.

Hal ini perlu dilatih terus-menerus agar si Kecil bisa terbiasa belajar memahami perasaan yang dialami oleh orang lain.

4. Mengajari anak menghadapi perasaan tidak nyaman

Pexels/Daria Shevtsova

Si Kecil tidak selalu merasa bahagia dan nyaman, adakalanya merasakan hal-hal yang tidak dirinya senangi. Meskipun usianya masih kecil, anak-anak juga bisa merasakan perasaan tidak nyaman terhadap sesuatu yang terjadi pada dirinya.

Selain melatih dan mengajarkan si Kecil menerima perasaan negatifnya. Mama sebagai orangtua juga bisa membantu dirinya menyelesaikan masalah yang sedang terjadi.

Wajar sekali jika si Kecil mulai merasa bosan, marah, takut, atau kadang-kadang kesepian. Mama bisa mengajarkan mengenai strategi yang tepat untuk menghadapi ketidaknyamanannya ini.

Perlahan-lahan latihnya terus si Kecil agar terbiasa memikirkan solusi dan berpikir kalau perasaan yang dirasakannya itu normal terjadi.

Dengan dukungan orang terdekat, si Kecil dapat belajar bahwa emosi yang tidak nyaman ini dapat ditolerir dan diatas oleh dirinya sendiri.

5. Berusaha memperbaiki perilaku, bukan emosi

Unplash/Marina Panadés

Sebagai orangtua yang harus berperan penting dalam perkembangan si Kecil. Itu berarti Mama harus bisa menjelaskan bentuk perasaan negatif yang sedang dialami si Kecil saat kebingungan dengan emosinya sendiri. 

Namun perlu disadari kalau yang diperbaiki itu perilakunya, bukan menolak emosi si Kecil. Biarkan emosinya tetap keluar asalkan tidak berlebihan.

Perasaan marah itu wajar, namun perilaku agresif itu tidak baik. Contohnya saja saat si Kecil merasa bosan berada di pusat perbelanjaan lalu dirinya mengamuk.

Berikan waktu untuk dirinya mengeluarkan emosi sampai tenang. Kemudian katakan pada si Kecil kalau Mama tidak keberatan jika dirinya marah, namun tidak boleh sampai bersikap agresif.

Sikapnya yang agresif karena tidak bisa mengontrol emosi hanya akan mengganggu orang lain, apalagi kalau sampai berteriak-teriak di depan umum.

Melatih kecerdasan emosi ini bisa dilakukan kapan saja. Jangan tunggu si Kecil beranjak dewasa atau saat dirinya bersekolah ya. Usahakan untuk mengajarkannya sedini mungkin.

Untuk membuat kecerdasan emosi si Kecil semakin matang, Mama bisa meminta bantuan pasangan atau keluarga di rumah dalam melatih si Kecil bersama-sama. Dengan begitu, ini akan semakin membantu mengelolah emosi si Kecil.

Itulah cara melatih kecerdasan emosi anak yang bisa Mama coba. Semangat ya, Ma!

Baca juga:

The Latest