TUTUP
SCROLL UNTUK MELANJUTKAN MEMBACA

Ini Dia Ma, Tahap Perkembangan Emosi Anak Usia 2-3 Tahun

Kenali perkembangannya sejak usia dini yuk, Ma

Freepik/Jcomp

Setiap anak memiliki tahap perkembangan emosi yang berbeda-beda, ini tergantung dengan usianya yang semakin hari ikut menentukan perkembangan emosionalnya.

Ketika usia anak 0-2 tahun distimulus dengan ragam permainan untuk membentuk emosinya dengan baik, anak-anak usia 2-3 tahun juga demikian, Ma.

Tak berbeda jauh dengan anak usia 0-2 tahun, di fase usia ini anak juga masih harus distimulus dengan baik agar si Kecil dapat membentuk emosionalnya dengan baik untuk menumbuhkan rasa percaya diri mereka kelak nanti.

Di fase usia ini, si Kecil sudah lebih banyak mengekspresikan dirinya. Namun tetap, anak usia ini masih belum mampu mengendalikan emosi mereka, Ma. Untuk itu diperlukan cara terbaik dalam menstimulus emosi anak agar berjalan dengan baik sesuai usianya.

Lantas, apa saja ya tahap perkembangan emosi serta cara menstimulus emosional anak usia 2-3 tahun? Yuk, simak rangkuman yang sudah Popmama.com siapkan berikut ini!

1. Tahap perkembangan emosi anak usia 2-3 tahun

Funathomewithkids.com

Di fase usia ini, si Kecil mulai mampu menguasai ragam kegiatan yang melemasan otot-otot pada tubuhnya. Dengan begitu, mereka sudah lebih mampu menguasai anggota pada tubuhnya. Di usianya ini, lingkungan akan sangat berperan dalam memberi kepercayaan pada anak.

SI Kecil juga mulai mencari aturan-aturan serta batasan yang ada di dalam lingkungannya. Biasanya mereka mulai melihat akibat dari perilaku yang diperbuat, serta mulai membedakan mana yang salah dan mana yang benar.

Meskipun di usia ini anak belum dapat menggunakan kata-kata sebagai bentuk ekspresi emosnya, tetapi Mama dan Papa bisa melihat emosi anak melalui ekspresi wajahnya untuk memperlihatkan emosi dan perasaan dalam diri mereka. 

2. Cara menstimulus anak untuk mengekspresikan emosinya

Freepik/Yanalya

Dari tahap perkembangan usianya, maka peran orangtua di sini sangatlah penting agar mereka dapat mengekspresikan emosinya dengan bahasa verbal. Mama bisa menerjemahkan mimik dan ekspresi wajahnya dengan menggunakan bahasa verbal.

Misalnya ketika anak menangis dan menunjuk botol susu, beri tahu ia jika ia menginginkan susu. Ajarkan anak menggunakan bahasa yang baik dan benar ya, Ma. Ini juga sangat memengaruhi anak dalam melatihnya untuk mulai berbicara.

dr. Margareta Komalasari, Sp.A dalam dalam sesi Kuliah Whatsapp bersama Popmama Parenting Academy (POPAC) 2020 pada Kamis (01/10/2020) dengan judul 1001 Strategi untuk Generasi Unggul: Persiapan Anak Unggul di Masa Emas Tumbuh Kembang, menambahkan cara menstimulus anak di usia 2-3 tahun.

Menurut dr. Margareta, di usia ini Mama bisa menstimulusnya dengan mulai mengajarkan anak menggunakan bahasa tubuh untuk memperlihatkan benda atau kegiatan harian yang ada disekitarnya. Dengan begitu, anak akan lebih bisa mengekspresikan diri mereka ketika mengininkan sesuatu atau tak suka akan suatu hal.

3. Bangun perkembangan emosi anak dengan cara-cara ini

Freepik/prostooleh

Seiring bertambah usianya, perkembangan emosionalnya pun sudah semakin terlihat baik dan kemampuannya pun ikut bertambah. Mama bisa membangun lebih baik perkembangan emosinya dengan cara-cara terbaik sesuai usia si Kecil.

Pada fase usia ini, Mama juga bisa mengajak anak bermain sebagai langkah membangun emosionalnya. Seperti yang sudah diketahui, ini karena bermain adalah salah satu kegiatan primer yang dibutuhkan anak usia di bawah 5 tahun.

Lakukan permaianan yang dapat merangsang tumbuh kembangnya seperti menyusun balok atau puzzle, bermain peran, serta permainan lain yang membuat anak dapat dengan mudah mengekspresikan dirinya.

Dengan bermain bersama, maka Mama akan lebih memahami dirinya ketika ia berekspresi. Selanjutnya, ajak anak untuk memecahkan masalah bersama. Biasanya mereka akan kesal atau marah saat merasa kesulitan dan tidak tahu cara mengatasinya.

Disaat anak berekspresi marah atau mengamuk sekalipun, bimbing anak dengan mengajaknya mengenali sumber masalah lalu memecahkannya bersama-sama. Misalnya saat ia merasa kesal karena maiannya tidak bunyi, ajarkan padanya bagaimana cara mengoperasikan maianan tersebut.

Tak hanya itu, Mama juga perlu mengajarkan tentang perbedaan perilaku baik dan buruk serta seperti apa batasannya. Misalnya ketika ia marah, ia boleh saja mengekspresikan dirinya dengan menangis atau berteriak, tetapi beritahu bahwa ia tak boleh memukul orang lain karena akan membuat orang lain kesakitan karena pukulannya.

Nah, itu dia cara yang bisa Mama lakukan dalam membangun perkembangan emosional anak usia 2-3 tahun. Dengan melakukan cara-cara di atas, diharapkan anak dapat lebih bisa mengontrol emosi dan mengekspresikan dirinya.

Semoga informasinya bermanfaat dan dapat diterapkan ya, Ma!

Baca juga:

The Latest