Generasi Sigma diprediksi akan mengenal teknologi sejak usia yang sangat muda, bahkan sebelum memasuki usia sekolah. Perangkat digital dan kecerdasan buatan berpotensi menjadi bagian dari keseharian anak sejak awal tumbuh kembangnya.
Tanpa pendampingan yang tepat, kondisi ini dapat memicu ketergantungan digital serta mengurangi waktu anak untuk bergerak aktif.
Hidup di era yang serba cepat dan dipenuhi arus informasi berpotensi menimbulkan tekanan mental sejak usia dini. Anak-anak bisa saja menghadapi tuntutan untuk selalu mengikuti perkembangan, baik di dunia digital maupun lingkungan sosialnya.
Risiko terpapar konten yang tidak sesuai usia pun menjadi tantangan tersendiri, sehingga orangtua perlu lebih aktif mengawasi dan membangun komunikasi terbuka dengan anak.
Tidak semua keluarga memiliki akses yang sama terhadap pendidikan dan teknologi berkualitas. Perbedaan fasilitas, infrastruktur, hingga kemampuan ekonomi dapat menciptakan jurang yang cukup lebar dalam perkembangan anak.
Jika tidak ditangani dengan baik, kesenjangan ini berpotensi memengaruhi kemampuan belajar dan peluang Generasi Sigma di masa depan.
Kebiasaan beraktivitas di ruang digital dapat mengurangi frekuensi interaksi tatap muka pada anak. Padahal, interaksi langsung memiliki peran penting dalam melatih empati, kemampuan komunikasi, dan keterampilan sosial sejak dini.
Orangtua perlu mendorong anak untuk tetap terlibat dalam aktivitas sosial di dunia nyata, seperti bermain bersama teman sebaya atau mengikuti kegiatan komunitas.
Nah, itu dia rangkuman mengenai bayi kelahiran 2026 disebut sebagai Generasi Sigma. Semoga informasinya dapat membantu, ya, Ma.