10 Penyebab GERD pada Bayi yang Perlu Diketahui Orangtua

- Sistem pencernaan yang belum berkembang
- Terlalu sering berbaring
- Mengonsumsi tekstur cair
- Faktor genetik
- Berat badan berlebih
- Pola makan yang tidak teratur
- Stres
- Memiliki asma
- Alergi makanan
- Bayi mengalami kondisi medis tertentu
Keluahan Gastroesophageal reflux disease, yang lebih dikenal dengan sebutan GERD, ternyata tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tetapi juga bisa dialami oleh bayi. GERD adalah kondisi saat cairan lambung naik ke kerongkongan secara berulang dan berlebihan sehingga dapat menimbulkan komplikasi.
Pada bayi, GERD kerap terjadi karena beberapa faktor penyebab yang berbeda-beda. Kondisi ini perlu diwaspadai oleh orangtua karena dapat memengaruhi pertambahan berat badan serta proses pertumbuhan bayi secara keseluruhan.
Lantas, apa penyebab GERD pada bayi?
Berikut Popmama.com telah merangkum penyebab GERD pada bayi yang perlu diketahui. Yuk, simak penjelasannya!
Table of Content
1. Sistem pencernaan yang belum berkembang

GERD pada bayi dapat terjadi karena sistem pencernaannya masih dalam tahap perkembangan. Otot Lower esophageal sphincter (LES), yaitu otot berbentuk cincin di ujung kerongkongan, berfungsi sebagai katup yang membuka saat makanan masuk ke lambung dan menutup kembali setelahnya.
Pada bayi, kemampuan LES untuk menutup sering kali belum sempurna, sehingga makanan dan cairan lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Kondisi inilah yang membuat bayi lebih rentan mengalami refluks dan gejala GERD.
2. Terlalu sering berbaring

Pada enam bulan pertama, bayi banyak menghabiskan waktunya dengan berbaring karena otot dan postur tubuhnya belum kuat untuk duduk atau berdiri lama. Posisi ini membuat lambung sejajar dengan kerongkongan, sehingga makanan atau cairan yang masuk ke lambung lebih mudah naik kembali.
Terlebih lagi, otot LES bayi yang belum matang sering kali tidak menutup sempurna setelah makan. Kombinasi inilah yang membuat bayi rentan mengalami GERD, terutama setelah menyusu.
3. Mengonsumsi tekstur cair

Di enam bulan pertama kehidupannya, bayi hanya mengonsumsi ASI, atau susu formula, karena sistem pencernaan mereka belum siap untuk makanan padat. Diketahui ASI dan susu formula memilii tekstur yang cair.
Tekstur cair ini membuat isi lambung lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan sebelum otot sfingter esofagus bawah (LES) menutup sepenuhnya. Akibatnya, cairan lambung bisa sering naik ke kerongkongan dan memicu gejala GERD.
4. Faktor genetik

Selain perkembangan pencernaan yang belum optimal, faktor genetik juga berperan dalam terjadinya GERD pada bayi. Bayi yang memiliki riwayat GERD dalam keluarga cenderung lebih berisiko mengalami kondisi yang sama.
Faktor keturunan ini dapat memengaruhi kekuatan dan fungsi LES. Jika katup tersebut secara alami lebih lemah, cairan lambung akan lebih mudah naik ke kerongkongan dan memicu gejala GERD.
5. Berat badan berlebih

Bayi dengan berat badan berlebih atau obesitas memiliki risiko lebih tinggi mengalami GERD. Kelebihan berat badan dapat menimbulkan tekanan ekstra pada area perut dan lambung.
Tekanan ini membuat isi lambung, termasuk asam lambung, lebih mudah terdorong naik ke kerongkongan. Akibatnya, bayi lebih rentan mengalami gumoh berlebihan, muntah, atau rasa tidak nyaman setelah menyusu.
6. Pola makan yang tidak teratur

Pada bayi yang sudah mulai menjalani MPASI, pola makan yang tidak teratur dapat memicu terjadinya GERD. Pemberian makanan dalam porsi terlalu besar, jadwal makan yang tidak konsisten atau jenis makanan yang kurang sesuai dapat membuat lambung bekerja lebih berat.
Selain itu, beberapa jenis makanan tertentu seperti makanan berlemak, asam, atau olahan cokelat, berpotensi meningkatkan produksi asam lambung. Kondisi ini membuat asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan menimbulkan keluhan GERD pada bayi.
7. Stres

Stres atau kecemasan juga dapat dialami oleh bayi, biasanya dipicu oleh faktor lingkungan seperti suara yang terlalu berisik, perubahan cuaca, rasa tidak nyaman akibat popok basah, atau kondisi tubuh yang kurang nyaman.
Saat bayi mengalami tekanan emosional, sistem pencernaannya bisa menjadi lebih sensitif sehingga asam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan. Inilah yang membuat bayi menjadi lebih rentan mengalami keluhan GERD.
8. Memiliki asma

Bayi yang memiliki asma atau gangguan pernapasan tertentu dapat lebih rentan mengalami GERD. Saat asma kambuh, pola napas yang tidak normal dan peningkatan tekanan di area dada serta perut dapat mendorong isi lambung naik ke kerongkongan.
Kondisi ini tidak hanya dapat memicu refluks asam, tetapi juga memperparah gejala GERD yang sudah ada. Oleh karena itu, pada bayi dengan asma, keluhan GERD perlu mendapat perhatian khusus agar tidak saling memperburuk satu sama lain.
9. Alergi makanan

Alergi makanan juga dapat menjadi salah satu penyebab GERD pada bayi, terutama alergi terhadap susu sapi. Reaksi alergi ini dapat memicu peradangan pada saluran pencernaan, sehingga fungsi lambung dan kerongkongan menjadi terganggu.
Akibatnya, bayi lebih mudah mengalami refluks asam yang ditandai dengan gumoh berlebihan, rewel setelah menyusu, atau sulit makan. Jika GERD dipicu oleh alergi makanan, gejala biasanya akan membaik setelah pemicu alergi dihindari.
10. Bayi mengalami kondisi medis tertentu

Selain faktor sehari-hari, kondisi medis tertentu juga dapat meningkatkan risiko GERD pada bayi. Di antaranya adalah bayi yang lahir prematur, bayi dengan gangguan paru-paru seperti Cystic fibrosis, gangguan sistem saraf seperti Cerebral palsy, serta bayi dengan hernia hiatus.
Selain itu, bayi yang pernah menjalani operasi akibat kelainan bawaan, seperti Atresia esofagus juga berisiko mengalami GERD karena struktur dan fungsi kerongkongannya berbeda dari bayi pada umumnya.
Nah, itu tadi berbagai penyebab GERD pada bayi yang perlu diketahui orangtua. Kenali penyebabnya, agar Mama dan Papa bisa lebih waspada.


















