Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Cara Penanganan Laringomalasia pada Bayi Menurut Dokter

3 min read
Cara Penanganan Laringomalasia pada Bayi Menurut Dokter
Bayi bersuara gejala laringomalasia (Unsplash/Igordoon Primus)
  • Laringomalasia adalah kelainan bawaan akibat jaringan laring bayi masih lembek, memicu napas berisik saat menarik napas; umumnya tidak berbahaya dan membaik seiring pertumbuhan.
  • Penanganan utama ialah pemantauan berat badan, cara menyusu, serta tanda gawat napas; mayoritas kasus pulih sendiri, sementara kondisi ringan-sedang dapat dirawat di rumah.
  • Orangtua perlu segera membawa bayi ke dokter bila napas berhenti sekitar 10 detik, bibir kebiruan, retraksi berat, lemas, menolak menyusu, atau berat badan sulit naik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bayi dengan laringomalasia membuat napasnya terdengar mendengkur dan berisik. Kondisi ini dapat terjadi akibat jaringan lunak sekitar kotak suara (laring) bayi masih lembek, sehingga menutup saluran napas saat bayi menarik napas.

Meskipun kondisi ini bisa membaik dengan sendirinya seiring pertumbuhan, tentu banyak orangtua yang khawatir saat suara napas bayi mereka yang terdengar tidak nyaman.

Ternyata, ada beberapa upaya yang bisa Mama lakukan untuk mengatasi laringomalasia pada bayi. Bagaimana caranya, ya?

Simak penjelasan yang telah Popmama.com rangkum berikut ini seputar cara penanganan laringomalasia pada bayi. Begini anjuran dokter, Ma!

  1. Laringomalasia pada Bayi, Apakah Bahaya?

    Cara Penanganan Laringomalasia pada Bayi, Begini Anjuran Dokter
    Bayi telentang (Unsplash/Ames May)

    Laringomalasia merupakan kondisi kelainan bawaan pada bayi yang umumnya terjadi saat bayi baru lahir hingga beberapa bulan pertama. Bayi yang mengalami laringomalasia akan membuat suara bayi terdengar seperti mendengkur, mengorok, atau stridor (suara tinggi) saat menarik napas.

    Mengutip dari John Hopkins Medicine, laringomalasia ditandai dengan suara berisik seperti mengi saat bernapas. Suara pernapasan mereka akan lebih keras saat melakukan aktivitas, misalnya makan, menangis, berbaring, atau tidur.

    Kondisi tersebut dapat terjadi akibat jaringan di atas kotak suara bayi yang masih lemah atau lembek jatuh kembali ke saluran udara.

    Melansir dari Cleveland Clinic, jaringan tersebut akan jatuh ke dalam saluran pernapasan dan menghalangi sebagian aliran udara saat bernapas. Laringomalasia sendiri umumnya bukan kelainan yang membahayakan dan bisa hilang dengan sendirinya seiring si Kecil bertambah usia, Ma.

  2. Memantau Kondisi Bayi Laringomalasia

    Cara Penanganan Laringomalasia pada Bayi, Begini Anjuran Dokter
    Bayi tertidur (Unsplash/Igordoon Primus)

    Laringomalasia pada dasarnya bisa pulih dengan sendirinya seiring bertambahnya usia bayi dan berkembangnya organ tubuh. Namun, terdapat beberapa cara yang dapat orangtua lakukan untuk mengurangi risiko dari laringomalasia. 

    Bayi laringomalasia yang mendengar suara napasnya sendiri dengan keras sebaiknya dihindari dengan berbagai hal yang dapat menambah paparan suara pada telinga bayi yang masih berkembang.

    Berdasarkan penjelasan dari dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A saat dihubungi Popmama.com, prinsip penanganan laringomalasia adalah perihal waktu yang dikombinasikan pemantauan ketat.

    “Laringomalasia itu sering terjadi, yang tidak boleh dilewatkan adalah berat badan, cara menyusui, dan tanda gawat napas. Jika dirasa khawatir, jangan ragu konsul ke dokter,” saran dokter anak yang berpraktik di Mayapada Hospital Kuningan tersebut. 

  3. Penanganan Laringomalasia di Rumah

    Cara Penanganan Laringomalasia pada Bayi, Begini Anjuran Dokter
    ilustrasi ibu dan bayi (magnific.com/magnific)

    Menurut penelitian, sekitar 90 persen kasus laringomalasia dapat sembuh dengan sendirinya seiring dengan bertambahnya usia bayi. Namun, orangtua kerap kali khawatir jika kondisi kelainan bawaan ini berlangsung terus-menerus.

    Pada kondisi laringomalasia yang ringan hingga sedang, penanganan bisa ditangani sendiri di rumah agar kondisi bayi dapat berangsur normal. Menurut penjelasan Dokter Denta, berikut beberapa cara yang dapat Mama rutin lakukan di rumah:

    • Pantau kenaikan berat badan secara rutin
    • Menyusui bayi dalam posisi tegak, porsi kecil lebih sering, dan usahakan untuk disendawakan
    • Tetap tegak 15-30 menit setelah minum untuk mengurangi refluks
    • Jika bayi kesulitan menelan atau tersedak, dokter bisa menganjurkan evaluasi menelan atau penebalan susu
    • Obat penekan asam hanya jika dokter menilai refluks bermakna
    • Imunisasi tetap harus berjalan sesuai jadwal
    • Jaga kondisi bayi agar tidak pilek berulang, cuci tangan, hindari orang sakit, dan bayi harus berada di lingkungan bebas asap.

  4. Kapan Harus Membawa Bayi ke Dokter?

    Cara Penanganan Laringomalasia pada Bayi, Begini Anjuran Dokter
    ilustrasi ibu dan bayi (pexels.com/RDNE Stock project)

    Jadi, kapan orangtua harus membawa bayi ke dokter? Meski laringomalasia biasa terjadi, Mama juga perlu memperhatikan tanda-tanda bahayanya, yakni:

    • Napas berhenti selama kurang lebih 10 detik
    • Bibir atau wajah berubah kebiruan
    • Retraksi hebat yang tidak mereda setelah diubah posisi atau dibangunkan
    • Bayi terlihat lemas
    • Bayi tidak mau minum atau menyusu
    • Berat badan bayi turun atau sulit naik.

    Itu dia penjelasan mengenai cara penanganan laringomalasia pada bayi. 

    Meski banyak terjadi pada bayi baru lahir, Mama tetap harus memastikan kondisi ini tidak mengganggu tumbuh kembangnya!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More