Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Install

Posisi Tidur Bayi Laringomalasia Menurut Dokter, Begini yang Benar!

Posisi Tidur Bayi Laringomalasia Menurut Dokter, Begini yang Benar!
Bayi tidur (Unsplash/Road Ahead)
  • Laringomalasia adalah kelainan bawaan saat jaringan laring yang lemah menghambat sebagian aliran udara, memicu napas grok-grok atau stridor, terutama ketika bayi menangis, menyusu, telentang, atau pilek.
  • Bayi dengan laringomalasia tetap dianjurkan tidur telentang di permukaan datar dan tegas tanpa bantal, guling, kemiringan, maupun kasur antirefluks, sesuai panduan AAP.
  • Meski stridor bisa lebih tenang saat tengkurap atau tegak, posisi tidur tengkurap dan miring meningkatkan risiko SIDS; posisi hanya dapat diatur saat makan atau bayi terjaga.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bayi Mama sering terdengar mendengkur saat bernapas? Kondisi ini dalam diagnosis medis disebut laringomalasia, Ma.

Laringomalasia sendiri tergolong tidak berbahaya bagi kesehatan bayi. Namun, kondisi ini membuat napas si Kecil terdengar berisik. 

Laringomalasia umumnya mulai terjadi pada minggu atau bulan pertama kehidupan bayi. Banyak yang beranggapan bahwa posisi tidur bayi sangat berpengaruh untuk mengatasi kondisi ini. Lantas, apakah ini benar?

Simak penjelasan Popmama.com selengkapnya mengenai posisi tidur bayi laringomalasia yang benar menurut dokter. Disimak, yuk, Ma!

  1. Apa Itu Laringomalasia dan Gejalanya

    Apa Itu Laringomalasia dan Gejalanya
    Bayi tengkurap (Unsplash/Jinhui Chen)

    Laringomalasia merupakan salah satu gangguan atau kelainan bawaan pada bayi baru lahir. Mengutip dari Cleveland Clinic, laringomalasia merupakan kelainan laring (kotak suara) yang terjadi ketika jaringan di atas kotak suara yang masih lemah atau lembek jatuh kembali ke saluran udara.

    Saat bayi menarik napas, jaringan tersebut akan jatuh ke dalam saluran pernapasan, sehingga menghalangi sebagian aliran udara. Kondisi ini yang akhirnya memicu suara napas yang terdengar tidak normal (stridor).

    Gejala yang paling sering terjadi pada bayi laringomalasia adalah suara grok-grok saat menarik napas. Suara ini bisa lebih keras saat menangis, menyusu telentang, atau pilek dan terdengar seperti dengkuran.

    Pada kondisi yang lebih parah, bayi laringomalasia juga ditandai dengan kesulitan makan atau menyusui, kenaikan berat badan lambat, tersedak saat menelan, berhenti saat bernapas (apnea), hingga kulit atau bibir kebiruan.

  2. Penyebab Laringomalasia

    Penyebab Laringomalasia
    Bayi bersuara gejala laringomalasia (Unsplash/Igordoon Primus)

    Laringomalasia sendiri merupakan kondisi bawaan yang dapat berlangsung sejak baru lahir hingga beberapa minggu pertama. Penyebab laringomalasia pada bayi sebenarnya belum diketahui secara pasti. 

    Namun, kondisi ini paling banyak diyakini akibat imaturitas tonus dan tulang rawan saluran napas atas pada bayi. Reflux juga dapat memperberat gejala laringomalasia.

    Melansir dari Healthline, sekitar 90 persen laringomalasia bisa sembuh tanpa pengobatan apapun, Ma. Namun pada beberapa anak, pengobatan atau operasi mungkin diperlukan. 

    Kondisi laringomalasia umumnya berangsur membaik dengan sendirinya saat bayi memasuki usia 6 bulan. 

  3. Posisi Tidur Bayi Laringomalasia

    Posisi Tidur Bayi Laringomalasia
    Bayi tertidur (Unsplash/Igordoon Primus)

    Meskipun tidak membahayakan kesehatan bayi, kondisi ini tentu membuat orangtua khawatir. Suara grok-grok yang muncul ini juga cukup mengganggu dan membuat napas bayi terdengar seperti terhambat.

    Posisi tidur sering kali dianggap berpengaruh terhadap kondisi laringomalasia pada bayi. Berdasarkan panduan dari American Academy of Pediatrics (AAP), bayi tetap harus tidur telentang (back to sleep) di permukaan datar, tegas, tidak miring, tidak menggunakan bantal, guling, atau kasur anti refluks.

    Berdasarkan penjelasan dari dr. Kurniawan Satria Denta, M.Sc, Sp.A saat dihubungi Popmama.com, stridor laringomalasia pada bayi biasanya semakin keras saat bayi telentang dan lebih tenang saat tengkurap.

    “Benar bahwa stridor laringomalasia sering lebih keras saat telentang dan lebih tenang saat bayi tengkurap atau tegak. Tapi yang lebih terang tidak otomatis lebih aman untuk tidur,” tulis Dokter Denta dalam penjelasannya.

    Meski demikian, posisi tidur tengkurap atau miring pada bayi dapat berisiko SIDS, sehingga risikonya lebih besar dibandingkan manfaat mengurangi stridornya.

  4. Posisi Tidur Bayi Tidak Mengatasi Laringomalasia

    Posisi Tidur Bayi Laringomalasia Menurut Dokter, Begini yang Benar!
    Ibu dan Bayi (freepik)

    Pengaturan posisi tidur pada bayi laringomalasia bukan menjadi solusi utama untuk meredakan kondisinya. Meskipun posisi pada posisi telentang dapat melonggarkan saluran napas bayi dan mengurangkan bising, posisi ini tidak disarankan sebagai posisi tidur.

    “Posisi tidak menyembuhkan laringomalasia. Yang membuatnya hilang adalah pematangan tulang rawan dan tonus laring seiring tumbuh,” kata dokter yang berpraktik di Mayapada Hospital Kuningan tersebut. 

    Dokter Denta menegaskan bahwa bayi laringomalasia tetap harus tidur dengan posisi yang benar dan disarankan seperti bayi lain. Menurut dokter anak lulusan Universitas Gadjah Mada tersebut, posisi untuk meredakan kondisi laringomalasia dapat diatur saat bayi beraktivitas.

    “Mengandalkan tengkurap semalaman supaya napasnya tenang justru bisa menukar masalah suara napas dengan risiko yang lebih fatal. Jadi, atur posisi saat makan dan saat terjaga,” tegasnya.

    Itu dia penjelasan mengenai posisi tidur bayi laringomalasia yang benar menurut dokter.

    Jangan posisikan bayi tidur tengkurap, kecuali saat tummy time, Ma.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More