Memasuki usia 6 bulan, bayi mulai diperkenalkan dengan makanan pendamping ASI (MPASI) untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Telur menjadi salah satu bahan makanan yang kerap dipilih karena mengandung protein dan berbagai zat gizi penting untuk mendukung tumbuh kembang bayi.
Dokter Tegaskan Telur Mentah Tidak Boleh Diberikan pada Bayi

Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk bayi karena berisiko mengandung Salmonella, yang dapat memicu diare, muntah, demam, nyeri perut, dan dehidrasi.
IDAI menegaskan infeksi akibat Salmonella bisa lebih berat pada bayi dan anak kecil karena daya tahan tubuh belum matang, termasuk dari makanan seperti mayones rumahan, tiramisu, dan mousse.
Bayi di bawah 6 bulan hanya membutuhkan ASI; setelah mulai MPASI, telur harus dipilih bersih, disimpan dingin, diolah higienis, dan dimasak hingga matang sempurna.
Namun, dalam penyajiannya, Mama perlu memperhatikan cara mengolah telur agar tetap aman dikonsumsi. Pasalnya, telur yang masih mentah atau belum matang sempurna dapat membawa risiko kesehatan bagi si Kecil.
Yuk, simak penjelasan mengenai telur mentah tidak boleh diberikan pada bayi yang telah Popmama.com rangkum berikut ini, Ma!
1. Telur mentah tidak boleh diberikan pada bayi

Magnific/jcomp Asupan nutrisi yang seimbang berperan penting dalam mendukung tumbuh kembang bayi. Salah satu nutrisi yang dibutuhkan adalah protein, yang bisa diperoleh dari telur sebagai sumber protein hewani dengan kandungan asam amino esensial lengkap.
Namun, masih ada anggapan bahwa memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dapat membuat tubuhnya lebih kuat. Padahal, kebiasaan tersebut tidak dianjurkan karena dapat membahayakan kesehatan bayi.
“Telur mentah atau setengah matang tidak boleh diberikan kepada anak karena berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna, dengan gejala diare, muntah, demam, dan dehidrasi. Pada bayi, sistem kekebalan tubuh belum matang sehingga infeksi dapat menjadi lebih berat,” jelas dr. Meta Herdiana Hanindita, Sp.A(K).
Melalui unggahan dr. Meta melalui Threads-nya @metahanindita, dr. Meta menjelaskan bahwa telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna.
2. IDAI peringatkan bahaya pemberian telur mentah pada bayi

Magnific/user18526052 Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp Kardio(K), menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai pemberian makan yang tepat bagi bayi, termasuk risiko mengonsumsi telur mentah.
"Telur mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak, terutama karena risiko keamanan pangan. Infeksi ini dapat menimbulkan gejala berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi.
Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius," ujar dr Piprim dalam keterangannya, Senin (12/10/2026).
dr. Piprim menjelaskan bahwa telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan salmonelosis atau infeksi saluran cerna. Kondisi ini bisa menimbulkan berbagai gejala, seperti diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi.
Risiko tersebut tidak hanya berasal dari telur mentah yang dikonsumsi secara langsung, tetapi juga makanan yang menggunakan telur setengah matang sebagai bahan pembuatnya, seperti homemade mayonnaise, tiramisu, dan mousse.
3. Bayi di bawah usia 6 bulan hanya butuh ASI eksklusif

Magnific/fabrikasimf Dr. Piprim menegaskan bahwa bayi berusia di bawah 6 bulan hanya membutuhkan ASI tanpa tambahan makanan atau minuman lain. Jika ASI tidak dapat diberikan, susu formula bayi bisa menjadi alternatif sesuai kebutuhan dan indikasi medis.
"Jangan memberikan MPASI sebelum usia 4 bulan, termasuk telur mentah, telur setengah matang, bubur, atau makanan lain yang tidak sesuai dengan usia bayi," jelasnya.
Pemberian MPASI umumnya dimulai saat bayi berusia 6 bulan. Sementara itu, MPASI sebelum usia tersebut, termasuk sejak usia 4 bulan, hanya dapat dipertimbangkan dalam kondisi tertentu berdasarkan penilaian dokter dan kesiapan perkembangan bayi.
4. Tips aman menyajikan telur untuk MPASI

Magnific/rawpixel.com Saat bayi mulai mengonsumsi MPASI pada usia 6 bulan, Mama dapat mengenalkan telur sebagai salah satu sumber protein hewani.
Namun, cara memilih, menyimpan, dan mengolah telur perlu diperhatikan untuk mengurangi risiko infeksi Salmonella. Berikut beberapa tips aman menyajikan telur untuk si Kecil:
Pilih telur yang bersih dan tidak retak
Hindari membeli telur dengan cangkang kotor atau pecah untuk mengurangi risiko kontaminasi bakteri.
Simpan telur di lemari pendingin
Telur sebaiknya disimpan pada suhu 0–4°C agar kualitasnya tetap terjaga.
Jaga kebersihan tangan dan peralatan
Cuci tangan serta bersihkan peralatan yang bersentuhan dengan telur mentah sebelum digunakan kembali.
Masak telur hingga matang sempurna
Hindari memberikan telur mentah atau setengah matang. Pastikan bagian putih dan kuning telur mengeras. Jika telur dicampurkan ke dalam masakan, pastikan makanan mencapai suhu minimal 71°C.
Segera konsumsi telur yang sudah matang
Jangan membiarkan telur matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam untuk mengurangi risiko pertumbuhan bakteri.
Nah, itu dia penjelasan mengenai telur mentah tidak boleh diberikan pada bayi. Semoga informasinya dapat bermanfaat, ya, Ma!




















