“Pemberian makanan pada bayi harus didasarkan pada prinsip kecukupan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan. Keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama dalam setiap praktik pemberian makanan,” tegas dr. Piprim melalui keterangan resmi, dikutip Senin (12/10/2026).
IDAI Ingatkan Risiko Salmonella akibat Pemberian Telur Mentah pada Bayi

Bayi Alena yang berusia 24 hari meninggal setelah menjalani perawatan intensif, sementara hubungan langsung dengan pemberian telur mentah belum dinyatakan resmi.
IDAI mengingatkan bayi baru lahir belum siap menerima makanan tambahan selain ASI, termasuk telur mentah atau setengah matang.
Telur mentah berisiko membawa Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna dan komplikasi serius pada bayi.
Kabar meninggalnya bayi Alena yang baru berusia 28 hari menjadi sorotan setelah ia disebut sempat diberi telur mentah saat mengalami demam. Kondisinya kemudian memburuk hingga harus menjalani perawatan intensif di NICU RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
Kasus ini turut mendapat perhatian dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) lewat keterangan dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K). IDAI mengingatkan bahwa bayi baru lahir belum siap menerima makanan tambahan apa pun selain ASI. Terlebih telur mentah yang berisiko membawa bakteri berbahaya seperti Salmonella.
Meski demikian, hubungan langsung antara pemberian telur mentah dan meninggalnya Alena belum dinyatakan secara resmi oleh pihak rumah sakit. Karena itu, penting bagi orangtua untuk memahami fakta medis di balik kasus ini tanpa terburu-buru menyimpulkan penyebab kematiannya.
Berikut Popmama.com rangkum soal IDAI ingatkan risiko Salmonella akibat pemberian telur mentah pada bayi.
Table of Content
1. Bayi Alena sempat demam sebelum diduga diberi telur mentah

Pexels/Klaus Kasus ini menimpa bayi bernama Alena di Surabaya. Bayi Alena yang baru berusia 24 hari sempat mengalami demam sebelum diduga diberi telur mentah oleh neneknya, yakni ibu dari sang Papa. Telur tersebut disebut diberikan dengan tujuan menurunkan demam.
Alih-alih membaik, kondisi Alena kemudian dilaporkan semakin buruk. Ia akhirnya dibawa ke rumah sakit dan membutuhkan penanganan intensif. Cerita mengenai kondisinya pertama kali ramai setelah akun Threads @calistaarisha, yang disebut sebagai tante Alena, meminta bantuan untuk mendapatkan ruang NICU.
2. Alena dirawat intensif di RSUD Dr Soetomo

Pexels/Anna Shvets Alena dilaporkan mulai menjalani perawatan di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, pada Jumat, 9 Oktober 2026. Kondisinya disebut kritis dan ia sempat membutuhkan perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU).
Dikutip dari berbagai sumber, keterangan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak yang mengaku mendapat informasi dari rumah sakit, Alena mengalami infeksi serius pada saluran pencernaan. Namun, hubungan langsung antara infeksi tersebut dan telur mentah yang dikonsumsi Alena belum dinyatakan secara resmi oleh rumah sakit. Emil meminta agar keterkaitan dengan apa yang dikonsumsi bayi diserahkan kepada tim medis.
3. Alena meninggal setelah menjalani perawatan intensif

Pexels/Vidal Balielo Jr. Alena kemudian dinyatakan meninggal dunia pada Minggu, 11 Oktober 2026 setelah menjalani perawatan intensif, di usianya yang menginjak 28 hari. Bayi Alena diperkirakan meninggal dunia sekitar pukul 07.10 WIB.
Kabar meninggalnya Alena kembali disampaikan oleh pihak keluarga melalui media sosial. Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan tim RSUD Dr Soetomo disebut ikut memantau kondisinya selama dirawat di NICU.
4. IDAI menegaskan bayi belum waktunya diberi makanan tambahan

idai.or.id Merespons kasus tersebut, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa pemberian makanan pada bayi harus mempertimbangkan usia, kebutuhan gizi, kesiapan perkembangan, dan keamanan pangan.
Ketua Pengurus Pusat IDAI dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) menegaskan bahwa bayi yang belum memasuki usia MPASI tidak membutuhkan makanan atau minuman tambahan seperti air putih, jus, kaldu, maupun makanan yang diencerkan. IDAI mendukung rekomendasi pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama, kemudian dilanjutkan dengan MPASI sambil tetap diberikan ASI.
Dengan kata lain, bayi yang masih berusia sekitar tiga sampai empat minggu seperti Alena masih berada dalam periode neonatal dan belum siap menerima makanan padat.
5. Telur mentah berisiko membawa bakteri Salmonella

Pexels/Klaus IDAI juga secara khusus mengingatkan agar telur mentah atau setengah matang tidak diberikan kepada bayi (sudah memasuki masa MPASI) dan anak.
Menurut dr. Piprim, telur mentah dapat mengandung bakteri Salmonella, yang dapat menyebabkan salmonelosis atau infeksi saluran cerna. Gejalanya dapat berupa diare, demam, nyeri perut, muntah, hingga dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi bisa berlangsung lebih berat dan berpotensi menyebabkan komplikasi serius.
IDAI juga menegaskan bahwa tidak ada keuntungan gizi dari pemberian telur mentah yang dapat membenarkan risiko tersebut. Jika telur sudah waktunya diperkenalkan sebagai MPASI, aspek kematangan, tekstur, dan keamanan penyajiannya tetap perlu diperhatikan.
Itulah tadi soal IDAI ingatkan risiko Salmonella akibat pemberian telur mentah pada bayi. IDAI mengecam agar kejadian serupa tidak terjadi lagi pada bayi mana pun.





















