Popmama.com/Alya Putri Abi/AI
Bayi yang lahir prematur membutuhkan lebih banyak kalori, lemak, dan protein untuk mendukung tumbuh kembangnya. Namun, kemampuan mengisap bayi prematur biasanya masih belum optimal sehingga asupan ASI saja terkadang belum mencukupi kebutuhan nutrisinya.
Karena itu, bayi prematur, terutama yang lahir sebelum usia kehamilan 32 minggu atau memiliki berat badan di bawah 1.500 gram, bisa memerlukan tambahan nutrisi berupa penguat ASI atau susu formula khusus. Pemberiannya pun harus disesuaikan dengan kondisi bayi dan berada di bawah pengawasan dokter.
Pada beberapa kondisi metabolik atau kelainan genetik tertentu, tubuh bayi tidak memiliki enzim untuk mencerna kandungan tertentu dalam susu. Penanganannya perlu dilakukan bersama tenaga medis, mulai dari dokter anak hingga ahli gizi. Berikut beberapa kondisi yang termasuk dalam indikasi medis tersebut:
Maple syrup urine disease (MSUD)
Pada kondisi ini, tubuh bayi tidak mampu mencerna beberapa jenis asam amino, seperti leusin, isoleusin, dan valin. Karena itu, bayi tidak dapat mengonsumsi ASI maupun susu biasa dan perlu mendapatkan formula khusus tanpa kandungan tersebut.
Fenilketonuria (PKU)
Fenilketonuria adalah gangguan metabolisme yang membuat tubuh bayi tidak dapat memproses fenilalanin. Penanganannya dilakukan dengan pemberian susu formula rendah fenilalanin. Dalam kondisi tertentu, ASI masih dapat diberikan dalam jumlah terbatas dengan pengawasan ketat dari tenaga medis.
Galaktosemia
Galaktosemia terjadi ketika tubuh bayi tidak memiliki enzim untuk mengolah galaktosa, yaitu hasil pemecahan laktosa. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang hingga masalah pada hati dan organ lainnya. Karena itu, bayi perlu diberikan susu bebas laktosa dan menjalani pola makan tanpa galaktosa.
Pada bayi cukup bulan yang sehat, ASI tetap menjadi pilihan utama. Namun, pada kondisi tertentu, susu formula dapat diberikan sebagai tambahan sementara, misalnya ketika bayi berisiko mengalami hipoglikemia atau kadar gula darah rendah yang tidak membaik meski sudah menyusu dengan baik.
Kondisi ini dapat terjadi pada bayi dengan berat badan lahir rendah, bayi yang mengalami stres saat persalinan, atau bayi dari ibu dengan diabetes yang tidak terkontrol. Dalam situasi tersebut, tambahan ASI perah atau susu formula dapat diberikan hingga kondisi bayi stabil. Setelah kebutuhan bayi terpenuhi dari ASI, pemberian susu formula biasanya akan dikurangi secara bertahap.