- Postut tungkai dan lengan fleksi normal serta bayi dapat bergerak aktif
- Kulit wajah, bibir, dan selaput lendir tidak ada kelainan, dada harus berwarna merah muda tanpa ada kemerahan atau bisul,
- Frekuensi napas normal 40-50 kali per menit saat bayi dan tidak ada tarikan dinding dada bawah yang dalam
- Denyut jantung normal 100-160 kali per menit
- Suhu di angka 36,5 hingga 37,5 derajat celcius,
- Ubun-ubun besar dan rata atau tidak membonjol
- Tidak ada kotoran pada mata
- Tidak ada bagian terbelah di mulut bibit, gusi, dan langit-langit
- Perut bayi datar dan teraba lemas
- Tidak ada pendarahan, pembengkakan, atau bau tidak enak pada tali pusat
- Tidak terdapat lubang dan benjolan pada tulang belakang
- Tidak terdapat sindaktili, polidaktili, siemenline, dan kelainan kaki (pes equino varus dan vagus)
- Periksa lubang anus dan pastikan mekonium sudah keluar, lihat dan raba alat kelamin luar bayi perempuan.
Pentingnya Pemeriksaan Fisik pada Bayi Baru Lahir, Ini yang Perlu Diperhatikan

Pemeriksaan komprehensif bayi baru lahir dilakukan dalam 24 jam pertama, mencakup penilaian APGAR dan pengkajian fisik oleh dokter atau bidan sebelum 72 jam.
Bayi dinilai normal melalui tanda seperti gerak aktif, napas 40–50 kali per menit, denyut jantung 100–160 kali per menit, suhu 36,5–37,5°C, serta kondisi tubuh tanpa kelainan.
Selain pemeriksaan fisik, bayi memerlukan skrining pendengaran, golongan darah, gangguan metabolik, dan bilirubin untuk mendeteksi masalah kesehatan serta memungkinkan penanganan dini.
Menantikan kehadiran si Kecil tentu menjadi momen, yang mendebarkan sekaligus membahagiakan bagi seluruh orangtua. Akhirnya, bayi yang sembilan bulan berada di kandngan Mama bisa digendong secara langsung.
Melihat betapa lucunya si Kecil tentu membuat siapa saja gemas dan ingin berinteraksi sederhana. Sebelum itu, si Kecil harus melalui pemeriksaan fisik terlebih dahulu untuk mengetahui kondisinya secara keseluruhan.
Jika ada kondisi medis serius, penanganannya bisa dilakukan segera. Pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir juga penting untuk memantau kondisi kesehatannya selama beberapa bulan pertama.
Yuk, simak alasan pentingnya pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir yang telah Popmama.com rangkum berikut ini!
Table of Content
Bayi Baru Lahir Perlu Mendapat Pemeriksaan Fisik

ilustrasi bayi baru lahir (freepik.com/studioredcup) Pemeriksaan fisik merupakan tahapan penting yang perlu dilakukan untuk mengetahui kondisi si Kecil secara fisik sekaligus memantau kemampuan adaptasinya terhadap dunia yang baru.
Melansir dari laman Kementerian Kesehatan RI, pemeriksaan medis komprehensif dilakukan dalam 24 jam pertama kehidupan. Pemeriksaan dilakukan dengan dua tahap.
Tahap pertama, bayi perlu melalui penilaian APGAR, yakni appearance (warna kulit), pulse (detak jantung), grimace (refleks atau respons terhadap rangsang), activity (tonus otot), dan respiratory effort (usaha bernapas).
Tahapan kedua adalah pengkajian fisik bayi baru lahir untuk memastikan bayi dalam keadaan normal dan tidak mengalami gangguan atau penyimpangan pada kondisi fisiknya.
Pemeriksaan ini akan dilakukan oleh dokter atau bidan sebelum 72 jam setelah bayi lahir. Biasanya, pemeriksaan akan dilakukan lagi saat bayi berusia 6 hingga 8 minggu, sebab beberapa hal memakan waktu lebih lama untuk berkembang.
Pemeriksaan Bayi yang Dinyatakan Normal

Ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Photo by Natalie Bond) Si Kecil dinyatakan memiliki kondisi fisik yang baik dan tidak memerlukan perawatan khusus jika penilaian APGAR sesuai pada kondisi normal. Berikut ini beberapa indikator yang menentukan bayi dalam kondisi normal dan sehat, dikutip dari Kemenkes RI:
Mengutip dari Penn Medicine, penilaian APGAR setidaknya harus mencapai skor 7 dari 10 untuk tergolong normal. Skor kurang dari 4 menandakan bayi membutuhkan perawatan medis intensif dan perlu dibawa ke NICU untuk perawatan khusus.
Pemeriksaan Kesehatan Lainnya

ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Vidal Balielo Jr) Selain melakukan penilaian APGAR, bayi juga perlu melalui serangkaian pemeriksaan lainnya untuk mengetahui kondisi kesehatan secara keseluruhan.
Pemeriksaan pendengaran penting dilakukan untuk mengetahui apakah bayi bisa mendengar, sulit mendengar, atau tidak bisa mendengar. Melansir Penn Medicine, bayi akan melalui dua jenis skrining pendengaran, yakni tes oto acoustic emission (OAE) dan tes respons batang otak pendengaran.
Bayi juga perlu melakukan tes golongan darah untuk memeriksa gangguan fenilketonuria, hipotiroidisme, penyakit sel sabit, masalah hormonal, metabolik, dan hemoglobin lainnya.
Setelah 24 hingga 36 jam pasca kelahiran, si Kecil juga perlu melalui skrining bilirubin untuk menilai penyakit kuning. Bilirubin yang terlalu tinggi membuat kulit dan mata bayi berubah menjadi kuning, sehingga perlu penanganan agar kondisinya kembali normal.
Risiko Kesehatan hingga Kematian Bayi Baru Lahir

ilustrasi bayi baru lahir (pexels.com/Kampus Production) Data dari WHO menunjukkan 75 persen kematian neonatal terjadi selama minggu pertama kehidupan, dengan sekitar 1 juta bayi baru lahir meninggal dalam 24 jam pertama.
Mengutip dari NHS UK, bayi baru lahir juga memiliki kemungkinan mengalami kondisi kelainan medis seperti:
- Katarak masa kanak-kanak
- Penyakit jantung bawaan
- Dislapsia perkembangan pinggul.
- Testis yang tidak turun.
Penyebabnya mulai dari kelahiran prematur, komplikasi terkait intrapartum, hingga infeksi dan cacat lahir. WHO menghimbau strategi prioritas, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah untuk meningkatkan tingkat kelangsungan hidup dan kesehatan bayi baru lahir.
Upaya ini juga dapat diwujudkan dengan perawatan antenatal yang berkualitas, perawatan terampil saat lahir, perawatan postnatal untuk ibu dan bayi, dan perawatan bayi baru lahir kecil dan sakit.
Itu dia penjelasan mengenai pentingnya pemeriksaan fisik pada bayi baru lahir. Mama perlu mengetahui tahapan pemeriksaan fisik bayi untuk memastikan secara langsung setelah diperiksa oleh dokter atau bidan.




















