5 Penyebab Telinga Bayi Berkerak, Eksim Salah Satunya

Kerak kekuningan di belakang telinga bayi sering disebabkan dermatitis seboroik atau cradle cap, yang dapat menyebar dari kulit kepala dan umumnya hilang sendiri dalam minggu hingga bulan.
Kerak juga dapat terkait infeksi kulit, eksim, iritasi produk perawatan, atau psoriasis; gejalanya bisa meliputi kemerahan, cairan, rasa hangat, kulit kering, bentol, dan gatal.
Orangtua dianjurkan tidak mengorek kerak, memakai produk bayi lembut tanpa pewangi, serta memeriksakan bayi bila kerak menetap, kambuh, atau menunjukkan tanda infeksi.
Saat mengganti baju si Kecil selepas mandi, Mama mungkin menemukan serpihan kekuningan yang menempel di belakang daun telinganya. Telinga bayi berkerak seperti ini sering membuat orangtua baru langsung bertanya-tanya, apakah ini pertanda sesuatu yang serius?
Tenang dulu, Ma. Sebagian besar penyebabnya tergolong ringan dan bisa dibantu dengan perawatan sederhana di rumah, meski ada pula kondisi yang tetap perlu dicek oleh dokter.
Supaya Mama tidak salah langkah, berikut Popmama.com mengulas 5 penyebab telinga bayi berkerak. Yuk, simak sampai habis!
1. Dermatitis seboroik

Wikimedia Commons/Doc James Cerita paling umum dimulai dari sini. Dermatitis seboroik adalah salah satu penyebab yang paling sering ditemukan, dan pada bayi kondisi ini dikenal sebagai cradle cap atau kerak kepala.
Mengutip Cleveland Clinic, sisik kuning atau putih yang terasa berminyak atau rapuh ini tidak hanya muncul di kulit kepala, tetapi juga bisa menjalar ke dahi, alis, lipatan leher, hingga belakang telinga.
Penyebab pastinya belum diketahui, tetapi menurut Mayo Clinic, hormon yang diteruskan dari ibu sebelum bayi lahir bisa membuat kelenjar minyak bekerja berlebihan. Jamur Malassezia yang tumbuh di dalam minyak kulit juga diduga ikut berperan.
Kabar baiknya, kondisi ini tidak menular, sehingga si Kecil tetap boleh bermain bersama bayi lain, dan biasanya hilang sendiri dalam beberapa minggu hingga bulan.
2. Infeksi kulit

Wikimedia Commons/DermPics Namun, tidak semua kerak di telinga si Kecil berasal dari sisik biasa. Kadang ada infeksi yang diam-diam menumpang pada kulit yang sudah rapuh.
Melansir Cleveland Clinic, mengorek atau mencabut sisik membuat kulit lecet dan meningkatkan risiko infeksi. Karena itu, sebaiknya Mama menahan diri untuk tidak mengupas kerak dengan kuku, sekalipun terlihat menggoda.
Menurut Kids Health, dermatitis seboroik di area popok atau lipatan kulit juga bisa terinfeksi. Tanda-tandanya berupa kulit yang memerah, mengeluarkan cairan, atau terasa hangat saat disentuh.
3. Eksim

Wikimedia Commons/Hariadhi Bagaimana kalau kerak itu bukan karena infeksi? Bisa jadi Mama sedang berhadapan dengan eksim atau dermatitis atopik yang kerap tertukar dengan dermatitis seboroik.
Menurut Mayo Clinic, perbedaan utamanya ada pada rasa gatal. Dermatitis seboroik biasanya tidak gatal, sedangkan dermatitis atopik bisa terasa sangat gatal.
Dikutip dari Cleveland Clinic, eksim di area telinga membuat kulit kering, berubah warna, gatal, dan munculnya bentol-bentol, termasuk di belakang telinga. Kulit yang lebih sensitif ini juga lebih mudah terinfeksi, terutama jika digaruk hingga luka.
4. Iritasi kulit

Pexels/Luis Becerra Fotógrafo Mengutip Medical News Today, peradangan kulit bisa dipicu oleh reaksi alergi terhadap sampo atau sabun pembersih kulit. Produk perawatan kulit dan rambut tertentu juga bisa membuat kulit di belakang telinga kering dan bersisik.
Melansir Cleveland Clinic, gunakan sampo bayi yang lembut dan bebas pewangi, serta tidak memakai sampo dewasa atau sampo antiketombe pada bayi. Mama juga harus menghindari pemakaian minyak zaitun dan minyak kacang untuk melunakkan sisik.
Jadi, jika kerak muncul tidak lama setelah Mama berganti sabun, sampo, atau minyak bayi, tidak ada salahnya mengingat kembali produk apa yang baru dipakai. Bicarakan hal ini dengan dokter anak agar Mama tahu produk mana yang sebaiknya dihentikan.
5. Psoriasis

Wikimedia Commons/Wellcome Collection Menurut Medical News Today, psoriasis adalah gangguan autoimun yang membuat sel kulit tumbuh lebih cepat daripada proses pelepasan. Akibatnya, sel kulit menumpuk dan membentuk sisik yang bisa terlihat seperti kerak, dan kulit pun bisa terasa gatal.
Psoriasis dan eksim sama-sama kondisi peradangan kulit kronis, berbeda dengan kulit kering biasa yang bersifat sementara, sehingga keduanya sering sulit dibedakan. Menurut Cleveland Clinic, rasa gatal pada eksim biasanya lebih hebat daripada psoriasis.
Karena itu, kerak yang tidak kunjung membaik atau terus kambuh sebaiknya diperiksakan ke dokter anak atau dokter kulit. Dengan begitu, Mama mendapat diagnosis yang tepat dan penanganan yang aman bagi kulit si Kecil.
Nah, itulah pembahasan mengenai 5 penyebab telinga bayi berkerak yang harus Mama ketahui. Semoga informatif dan bermanfaat, Ma!



-a1c792371251e7e98815f823df6d1346.jpg)



















