Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Freepik
Freepik

Intinya sih...

  • Otak ibu dan bayi 'lebih selaras' ketika Mama bahagia

  • Pentingnya komunikasi emosional antara orangtua dan anak

  • Tips membangun ikatan emosional dengan bayi

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Menjadi seorang ibu memang menghadirkan kebahagiaan tersendiri, tapi juga tak lepas dari tantangan. Merawat bayi bukan hanya soal memenuhi kebutuhan fisiknya, tapi juga membangun ikatan emosional yang kuat.

Tak banyak yang menyadari bahwa kondisi emosional ibu bisa berpengaruh langsung pada perkembangan bayi sejak usia dini. Ketika ibu merasa tenang dan bahagia, otak ibu dan bayi menunjukkan tingkat keterhubungan yang lebih tinggi.

Penelitian membuktikan bahwa ketika ibu dan bayi berada dalam kondisi emosional positif, otak keduanya bisa lebih selaras. Koneksi ini dapat memperkuat ikatan emosional dan membantu bayi merasa aman serta nyaman.

Berikut Popmama.com telah rangkum mengenai otak ibu dan bayi lebih selaras ketika Mama bahagia.

1. Otak ibu dan bayi 'lebih selaras' ketika Mama bahagia

Freepik/cookie_studio

Otak ibu dan bayi dapat bekerja sama sebagai 'jaringan raksasa' dengan menyinkronkan gelombang otak saat berinteraksi. Tingkat keterhubungan ini dipengaruhi oleh kondisi emosional ibu; ketika ibu mengekspresikan emosi positif, otaknya menjadi lebih terhubung dengan otak bayi.

Koneksi ini tidak hanya mempererat ikatan, tetapi juga membantu bayi belajar dan mendukung perkembangan otaknya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal NeuroImage menggunakan metode elektroensefalografi (EEG) ganda untuk memantau sinyal otak ibu dan bayi saat berinteraksi. Hasilnya menunjukkan bahwa gelombang otak mereka tersinkronisasi, fenomena yang disebut konektivitas saraf interpersonal, terutama pada frekuensi 6–9 hertz, yang merupakan rentang alfa bayi. 

Dengan menggunakan analisis jaringan matematis, para peneliti dapat melihat aliran informasi dalam setiap otak dan bagaimana kedua otak itu bekerja bersama sebagai sebuah sistem terpadu.

“Dari penelitian kami sebelumnya, kami tahu bahwa ketika koneksi saraf antara ibu dan bayi kuat, bayi lebih reseptif dan siap belajar dari ibu mereka,” ujar Dr. Vicky Leong dari Departemen Psikologi Universitas Cambridge, yang memimpin studi ini. 

Ia menambahkan, otak bayi pada tahap awal kehidupan sangat plastis dan dipengaruhi oleh pengalaman yang diterimanya. Dengan membangun interaksi yang hangat dan positif, Mama tidak hanya memperkuat ikatan emosional, tetapi juga merangsang perkembangan kapasitas mental si Kecil secara optimal.

2. Pentingnya komunikasi emosional antara orangtua dan anak

Freepik

Komunikasi emosional antara orangtua dan anak memegang peran penting, terutama pada masa awal kehidupan. Penelitian menunjukkan bahwa bayi dari ibu yang mengalami depresi cenderung menunjukkan kemampuan belajar yang lebih terbatas karena koneksi saraf antara ibu dan bayi melemah. 

Ibu dengan kondisi mental yang negatif atau depresi klinis biasanya melakukan interaksi yang lebih sedikit, ucapan mereka terdengar datar, kontak mata jarang terjadi, dan respons terhadap upaya bayi menarik perhatian menjadi terbatas.

“Emosi kita secara harfiah mengubah cara otak kita berbagi informasi dengan orang lain. Emosi positif membantu kita berkomunikasi dengan cara yang jauh lebih efisien,” jelas Dr. Vicky Leong.

Ia menambahkan, depresi dapat berdampak serius pada kemampuan orangtua untuk menjalin hubungan dengan bayi. Ketika isyarat sosial yang biasanya menumbuhkan kedekatan berkurang, bayi pun tidak menerima stimulasi emosional yang optimal untuk tumbuh kembangnya.

Manusia sebagai makhluk sosial secara alami berbagi keadaan emosional dengan orang lain, dan penelitian ini menunjukkan bagaimana emosi memengaruhi hubungan pada tingkat saraf. Temuan ini tidak hanya berlaku untuk ikatan ibu dan bayi, tetapi juga pada interaksi afiliasi lain, seperti antara pasangan, teman dekat, atau saudara kandung. 

3. Tips membangun ikatan emosional dengan bayi

Freepik/jcomp

  • Ajak bicara, membaca, dan menyanyi bersama

Bayi belajar mengenal dunia terutama melalui interaksi dengan orang-orang di sekitarnya. Rutin mengajak si Kecil berbicara, membacakan cerita, atau menyanyi dapat merangsang perkembangan bahasa dan emosionalnya. Aktivitas sederhana ini juga menjadi momen menyenangkan sekaligus memperkuat ikatan antara Mama dan si Kecil. 

  • Berikan kasih sayang yang hangat

Senyuman, pelukan, dan belaian lembut dari Mama membuat si Kecil merasa dicintai dan aman. Meskipun bayi belum bisa bicara, ia mengekspresikan kebutuhannya melalui tangisan atau gerakan tubuh. 

Merespons kebutuhan bayi, seperti memberi makan atau mengganti popok, membantu membangun rasa percaya dan kenyamanan emosional.

  • Buat rutinitas harian yang konsisten

Menerapkan jadwal harian yang teratur, seperti waktu makan, tidur, dan bermain, membantu bayi merasa aman. 

Pola yang konsisten membuat bayi lebih nyaman karena mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya. Selain itu, rutinitas ini mendukung kestabilan emosi si Kecil secara keseluruhan.

  • Ajak anak bermain interaktif sehari-hari

Permainan sederhana, seperti cilukba atau menirukan suara bayi, bisa mempererat hubungan emosional. 

Aktivitas ini mengajarkan si Kecil bahwa komunikasi bersifat dua arah. Selain menyenangkan, interaksi ini juga merangsang perkembangan sosial dan emosional bayi sejak dini.

  • Tanggapi suara-suara yang diucapkan anak

Ketika si Kecil mengoceh atau menggumam, tanggapi dengan ekspresi antusias dan bahasa tubuh yang hangat. 

Mama bisa membalas seolah sedang berbicara sungguhan, meski si Kecil belum bisa bicara. Cara ini membantu bayi memahami konsep komunikasi dan memperkuat ikatan emosional sejak dini.

Hal ini membantu ia memahami konsep mendengarkan dan merespon dalam komunikasi sejak dini. Interaksi ini juga memperkuat ikatan emosional antara Mama dan si Kecil.

  • Tunjukkan contoh pengelolaan emosi yang baik

Bayi belajar mengenali emosi dari perilaku orangtua sehari-hari. Dengan tetap tenang menghadapi situasi sulit dan menunjukkan empati pada orang lain, Mama memberikan contoh bagaimana mengekspresikan perasaan dengan sehat. 

Sikap sabar dan ramah ini menjadi panduan awal bagi si Kecil dalam mengenali dan mengelola emosinya.

  • Kenali karakter anak

Setiap bayi memiliki keunikan dan preferensi masing-masing, misalnya ada yang senang dipeluk, ada yang suka bergerak bebas. 

Memperhatikan karakter dan ritme si Kecil membantu Mama menyesuaikan interaksi sesuai kebutuhan anak. Hal ini memperkuat rasa percaya diri, kenyamanan, dan ikatan emosional yang sehat.

Nah, itu dia rangkum mengenai otak ibu dan bayi lebih selaras ketika Mama bahagia. Suasana hati positif Mama membantu si Kecil merasa aman, nyaman, dan siap belajar sejak dini.

Editorial Team