Cara Mengatasi Batuk pada Bayi, Jangan Buru-Buru Minum Obat!

Meski sering terjadi, Mama harus mewaspadai gejala lain yang terjadi saat bayi batuk

4 Oktober 2021

Cara Mengatasi Batuk Bayi, Jangan Buru-Buru Minum Obat
Freepik

Sebagai orangtua, Mama tentu mengharapkan bayi selalu dalam keadaan sehat. Batuk adalah salah satu masalah yang sering dialami oleh bayi. Untuk mengobatinya pun tidak semudah mengobati orang dewasa. Karena banyak obat yang dijual bebas tidak boleh sembarangan dikonsumsi oleh si Kecil.

Untungnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk membuat bayi merasa lebih baik dan menghentikan batuknya, sebelum Mama membawanya ke dokter.

Berikut ini Popmama.com merangkum informasi mengenai cara mengatasi batuk pada bayi. Yuk kita simak bersama!

Penyebab Batuk pada Bayi

Penyebab Batuk Bayi
Freepik/A3pfamily

Penyebab batuk pada bayi bisa karena beberapa hal, terutama saat dibarengi pilek atau alergi. Batuk juga terjadi pada bayi, bukan hanya anak-anak atau orang dewasa saja. Ketika sesuatu mengiritasi paru-paru atau tenggorokan,, batuk terjadi sebagai sebuah respons.

Berikut ini beberapa penyebab batuk pada bayi yang umum terjadi:

  • Penyakit. Segala sesuatu mulai dari virus pernapasan seperti pilek atau flu hingga infeksi bakteri seperti bronkitis dan pneumonia dapat memicu batuk pada bayi. Ini biasanya karena peningkatan lendir di tenggorokan atau paru-paru, atau kadang-kadang karena jaringan bronkial yang meradang atau teriritasi.
  • Alergi. Sebagian besar bayi tidak mengalami alergi musiman hingga setidaknya berusia dua tahun, tetapi bayi mungkin alergi terhadap hal lain di lingkungannya. Bulu hewan peliharaan, debu, jamur, dan alergen rumah tangga lainnya adalah penyebab umum alergi pada bayi.
  • Refluks. Bayi rentan terhadap penyakit gastroesophageal reflux (GERD), yang dapat menyebabkan batuk dan tersedak karena asam lambung mengiritasi tenggorokan.
  • Batuk rejan. Juga dikenal sebagai pertusis atau "batuk 100 hari", batuk rejan disebabkan oleh penyakit bakteri dan dapat menyerang bayi serta orang dewasa.
  • Asma. Jika bayi cenderung batuk saat berusaha tidur di malam hari atau mudah kehabisan napas karena aktivitas fisik di siang hari, batuknya bisa jadi karena asma.

Editors' Picks

Membedakan Jenis Batuk

Membedakan Jenis Batuk
Freepik/Zilvergolf

Kebanyakan batuk bukanlah tanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan bayi, ada baiknya Mama mengetahui beberapa jenis batuk yang lebih umum.

  • Batuk kering. Seringkali karena asma atau alergi, batuk kering biasanya menetap tetapi tidak produktif (artinya tidak mengeluarkan lendir).
  • Batuk basah. Batuk ini sering terdengar buruk, tetapi biasanya merupakan hasil dari lendir yang pecah di dada, bagian penting untuk pemulihan dari penyakit yang menyebabkan hidung tersumbat.
  • Batuk rejan. Jika bayi batuk dan kemudian mengeluarkan suara "rejan" saat menarik napas setelahnya, itu bisa menjadi pertanda pertusis. Infeksi bakteri ini sangat berbahaya bagi bayi yang lebih muda yang belum divaksinasi, tetapi setiap anak kecil yang menderita batuk rejan harus segera ke dokter secepatnya.
  • Batuk yang terdengar seperti menggonggong. Apakah batuk bayi terdengar seperti anjing laut menggonggong? Ini adalah gejala umum croup, penyakit virus yang biasanya hilang dengan sendirinya tetapi mungkin memerlukan perawatan medis pada kasus yang parah. Baik uap hangat maupun udara dingin dan segar dapat meringankan beberapa gejala croup.
  • Batuk mengi. Ini biasa terjadi pada bayi dengan asma, alergi, GERD, atau bronkitis.
  • Batuk malam hari. Penyakit virus umum yang menghasilkan lendir dan post-nasal drip adalah penyebab khas batuk yang hanya menyerang pada malam hari, tetapi batuk asma dan GERD juga dapat menjadi lebih menonjol.

Terlepas dari bagaimana batuk bayi atau apa yang menurut Mama mungkin menjadi penyebabnya, jangan pernah mengabaikan tanda-tanda pernapasan yang tertekan seperti dada cekung, perubahan warna kulit atau bibir, atau detak jantung yang meningkat.

Apa yang Harus Mama Lakukan?

Apa Harus Mama Lakukan
Unsplash/Hollie Santos

Sayangnya, sebagian besar obat batuk umum tidak dianggap aman untuk diberikan pada bayi. Ini termasuk sirup obat batuk, dekongestan, pelega tenggorokan, dan ekspektoran. Berikut ini beberapa cara mengatasi batuk pada bayi secara alami:

  • Berikan ASI atau cairan. Jika bayi masih sangat kecil, ini akan dibatasi pada ASI, tetapi bayi yang lebih besar dapat diberi air, jus encer, kaldu, atau buah dengan kandungan air tinggi. Batuk sering kali menjadi berkepanjangan saat tenggorokan kering, jadi hidrasi dapat membantu.
  • Ubah posisi bayi. Apakah bayi batuk karena lendir atau asam lambung, berbaring bisa memperburuk keadaan. Pada siang hari, biarkan bayi menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiri dengan menempatkannya di kursi goyang, kursi tinggi, atau bersama di gendongan bayi. Jika bayi batuk di malam hari, coba angkat kasur agak miring. Mama dapat melakukannya dengan meletakkan bantal atau seprai yang dilipat di bawah bagian kasur tempat mereka biasanya meletakkan kepala. Jangan pernah meletakkan bahan lembut di dalam tempat tidur bayi di bawah usia 18 bulan, karena dapat menimbulkan risiko mati lemas.
  • Gunakan perawatan homeopati. Banyak produk yang dipasarkan sebagai "alami" sebenarnya tidak aman untuk bayi dan sebagian besar dokter anak menyarankan untuk menghindari pengobatan herbal atau alternatif. Sebagai gantinya, Mama dapat membilas rongga hidung bayi dengan lembut menggunakan larutan garam untuk menghilangkan penyebab iritasi.
  • Gunakan uap. Gunakan pelembap ruangan di kamar bayi saat mereka tidur atau duduk bersamanya di kamar mandi yang beruap. Ini dapat meredakan batuk dengan melembapkan saluran napas dan meredakan iritasi.

Kapan Harus Mengunjungi Dokter?

Kapan Harus Mengunjungi Dokter
Freepik/Rawpixel.com

Ada beberapa tanda bahwa batuk memerlukan perawatan medis. Bayi mungkin memerlukan rontgen dada, antibiotik, inhaler, atau bahkan pemeriksaan menyeluruh untuk menemukan apakah ada masalah.

Hubungi dokter jika bayi:

  • Batuk selama lebih dari 10 hingga 14 hari
  • Demam selama lebih dari tiga hari
  • Batuk setelah melakukan aktivitas fisik apa pun
  • Sering batuk pada malam hari
  • Batuk terus menerus setelah makan
  • Mengalami dehidrasi
  • Mengalami batuk dan berusia di bawah tiga bulan (bayi baru lahir harus selalu dievaluasi saat gejala pertama sakit.

Terkadang, batuk menjadi parah atau berkembang menjadi penyakit yang parah. Jika Mama mengamati salah satu dari tanda-tanda berikut pada bayi, segera mencari perawatan darurat:

  • Nyeri dada atau kontraksi dada yang jelas saat batuk
  • Napas yang sulit atau berisik, seperti mendengar suara gemeretak, bersiul, atau mengi
  • Batuk yang terdengar seperti gonggongan atau "rejan"
  • Pusing, kantuk berlebihan, penolakan makan atau minum, kesulitan menangis atau berbicara
  • Kesulitan menelan atau batuk darah
  • Kulit atau bibir pucat/biru
  • Demam tinggi

Itulah cara mengatasi batuk pada bayi. Batuk memang sering terjadi pada bayi dan anak-anak, namun Mama harus memerhatikan gejala-gejala lain yang muncul. Sehingga Mama dapat melakukan tindakan penanganan dengan cepat dan tepat.

Semoga si Kecil selalu sehat, Ma!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.