Apa Dampak bila Bayi Lahir dengan Kepala Lonjong? Ketahui Faktanya!

Bentuk kepala ini sering terjadi saat proses persalinan secara normal

13 April 2021

Apa Dampak bila Bayi Lahir Kepala Lonjong Ketahui Faktanya
Freepik/phduet

Bagaimanakah gambaran seorang bayi yang baru lahir di pikiran mama? Imut, lucu, dan menggemaskan, tentunya. Tetapi, nyatanya bayi baru lahir tidak se-fotogenik itu, Ma. Sebagian bayi lahir dengan bentuk kepala lonjong yang membuatnya tampak berbeda dibandingkan bayi-bayi yang lain.

Apakah bentuk kepala bayi lonjong itu berbahaya? Dan apakah bentuk kepalanya bisa normal kembali? Berikut Popmama.com merangkum serba-serbi dampak bila bayi lahir dengan kepala lonjong, dilansir dari What to Expect:

Persalinan Secara Vaginal Memicu Bentuk Kepala Bayi Lonjong

Persalinan Secara Vaginal Memicu Bentuk Kepala Bayi Lonjong
Pixabay/u_jqskahw9

Kepala bayi yang lonjong atau kerap disebut conehead adalah bentuk kepala bayi yang mengerucut dan runcing. Biasanya hal ini dialami oleh bayi yang dilahirkan lewat persalinan normal melewati vagina. Hal ini dikarenakan bayi mengalami tekanan yang sangat kuat melalui tulang panggul dan jalan lahirnya ketika dilahirkan. 

Diameter serviks mama adalah sekitar 10 cm pada tahap akhir persalinan. Sementara kepala bayi yang baru lahir rata-rata memiliki lingkar sekitar 35 cm, jadi tak mengherankan jika sangat pas dengan ukuran tulang panggul dan jalan lahirnya.

Editors' Picks

Apakah Kondisi Ini Membahayakan?

Apakah Kondisi Ini Membahayakan
Freepik/yanalya

Tidak ada yang salah dan membahayakan dengan bentuk kepala bayi baru lahir yang lonjong kok, Ma. Bukan berarti bayi mama akan mengalami nyeri atau keterlambatan perkembangan di kemudian hari. 

Faktanya, kepala lonjong adalah 'tanda' bahwa bayi mama dilahirkan secara normal. Berbeda dengan bayi yang dilahirkan lewat persalinan caesar. Mereka tidak mengalami tekanan pada kepala sehingga cenderung memiliki kepala yang bulat sempurna sejak awal. 
 

Bisakah Kepala Bayi Kembali Berbentuk Bulat Sempurna?

Bisakah Kepala Bayi Kembali Berbentuk Bulat Sempurna
Freepik/grooveriderz

Kabar baiknya, kepala bayi juga dapat menyesuaikan diri setelah ia dilahirkan. Ini dikarenakan:

  • Tulang tengkorak bayi yang baru lahir belum terbentuk sempurna
  • Setiap tengkorak bayi terdiri dari lempengan tulang, dengan dua titik lunak besar yang memungkinkannya untuk berubah bentuk
  • Saat bayi 'turun' melalui leher rahim dan vagina, tengkorak kepalanya terkompresi dan tumpang-tindih agar sesuai dengan jalan lahirnya. Proses ini dikenal sebagai 'molding'
  • Proses di atas memungkinkan bayi lahir secara normal, tetapi juga bisa mengakibatkan kepala bayi berbentuk lonjong saat lahir
  • Bayi yang turun lebih awal ke jalan lahir atau menjalani proses persalinan lebih lama, serta jalan lahir yang sempit, cenderung memiliki kepala yang lonjong

Apakah Bayi dengan Kepala Lonjong Bisa Mengalami Sindrom Kepala Datar?

Apakah Bayi Kepala Lonjong Bisa Mengalami Sindrom Kepala Datar
Freepik/etajoefoto

Kepala bayi mama akan kembali ke bentuk normal (bulat) dengan sendirinya dalam beberapa hari hingga beberapa minggu setelah dilahirkan. Namun, setelah lahir, tekanan di bagian belakang kepala dapat memengaruhi bentuk kepalanya. 

Bayi yang ditidurkan dengan posisi yang sama terus-menerus, bisa memiliki bentuk kepala yang datar setelah lahir. Kondisi ini dikenal dengan nama positional plagiocephaly, atau sindrom kepala datar. Sindrom kepala datar juga bisa dialami oleh bayi yang memiliki kepala lonjong ketika ditidurkan, karena kesalahan posisi tidurnya.

Apa yang Harus Dilakukan jika Bayi Mama Memiliki Kepala Lonjong?

Apa Harus Dilakukan jika Bayi Mama Memiliki Kepala Lonjong
Freepik/chevanon

Kepala bayi yang lonjong akan kembali normal dengan sendirinya. Tetapi tentu saja harus didukung dengan pemosisian yang tepat. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:

  • Posisikan bayi telentang ketika tidur tetapi gonta-gantilah arah wajah kepalanya. Misalnya, siang ini menghadap kaki tempat tidur, malam nanti menghadap kepala tempat tidur, dan seterusnya.
  • Kurangi tekanan pada bagian belakang kepala bayi dari gendongan, ayunan, dan tempat tidur dengan cara menggendongnya sesering mungkin dengan nyaman saat ia bangun.
  • Latih bayi untuk tengkurap di bawah pengawasan, pada permukaan yang kokoh selama beberapa menit. Lakukan latihan ini beberapa kali sehari. Latihan ini membantu memperkuat otot punggung dan lehernya sehingga ia punya kendali lebih atas kepalanya. Kondisi ini akan membantu bayi menjaga tekanan pada tengkoraknya agar lebih merata.

Jika Mama memerhatikan bayi mama tampak memiliki gejala sindrom kepala datar, atau terdapat masalah terkait kepala lonjong yang memengaruhi perkembangannya, jangan ragu untuk memeriksakan kondisinya ke dokter. 

Itulah beberapa fakta mengenai dampak bila bayi lahir dengan kepala lonjong. Jadi tidak perlu berkecil hati ya, Ma, karena masih ada kesempatan untuk memperbaikinya.

Semoga informasi ini bermanfaat!

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.