- Napas cepat atau kesulitan bernapas
- Bagian tulang rusuk tertarik ke dalam ketika bernapas
- Bibir atau wajah terlihat kebiruan
- Bayi mengalami dehidrasi
- Sulit dibangunkan atau tidak merespons
- Sampai kejang
8 Gejala Influenza A pada Bayi, Orangtua Perlu Waspada

Influenza A pada bayi dapat muncul mendadak dengan demam, batuk, pilek, tubuh lemas, rewel, dan berkurangnya keinginan menyusu.
Bayi di bawah 2 tahun, terutama yang berusia kurang dari 6 bulan, memiliki risiko komplikasi influenza yang lebih tinggi.
Napas cepat, sulit bernapas, dehidrasi, sulit dibangunkan, atau tidak merespons merupakan tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera.
Influenza A merupakan salah satu jenis virus influenza yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan. Pada bayi, kondisi ini perlu mendapat perhatian lebih karena anak usia di bawah 2 tahun termasuk kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi akibat influenza.
Sayangnya untuk orangtua yang memiliki bayi di bawah 12 bulan, membedakan gejalanya juga bisa lebih sulit. Bayi belum dapat mengatakan apakah ia mengalami sakit kepala, pegal, sakit tenggorokan, atau rasa tidak nyaman lainnya seperti anak yang lebih besar.
Orangtua biasanya hanya dapat mengamati perubahan kondisi si Kecil. Misalnya, bayi mendadak lebih lemas, lebih banyak tidur, rewel, menyusu berkurang, serta mengalami demam, batuk, atau pilek.
Gejala influenza juga dapat sekilas menyerupai batuk pilek biasa. Namun, salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah influenza A cenderung muncul lebih mendadak dan membuat kondisi tubuh terasa lebih berat, sedangkan pilek biasa umumnya berkembang lebih bertahap dan lebih didominasi hidung berair atau tersumbat.
Lantas, apa saja gejala yang dapat muncul ketika bayi mengalami influenza?
Berikut Popmama.com rangkum gejala influenza A pada bayi usia di bawah 12 bulan yang perlu diperhatikan orangtua.
Table of Content
1. Demam yang muncul secara tiba-tiba

Pexels/Laura Garcia Salah satu tanda influenza yang cukup khas adalah demam yang dapat muncul secara mendadak. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) mencantumkan demam tinggi yang tiba-tiba sebagai salah satu gejala influenza pada bayi dan balita.
Namun, perlu diingat bahwa tidak semua bayi yang mengalami influenza pasti demam. CDC menegaskan bahwa sebagian orang yang terinfeksi influenza dapat mengalami penyakit tanpa demam.
Khusus bayi yang masih sangat kecil, demam juga perlu mendapatkan perhatian lebih dan menyarankan agar bayi berusia kurang dari 12 minggu yang mengalami demam segera mendapatkan pertolongan medis.
2. Batuk

Unsplash/Myriam Zilles (anak bayi sakit) Influenza menyerang sistem pernapasan, sehingga batuk menjadi salah satu gejala yang cukup umum. Kemenkes menyebut influenza pada bayi dan balita dapat menyebabkan batuk kering, sementara CDC memasukkan batuk sebagai salah satu gejala utama influenza.
Pada bayi, orangtua dapat memperhatikan apakah batuk muncul berulang, mengganggu tidur atau menyusu, maupun disertai napas yang terlihat lebih berat.
Jika bayi bernapas cepat, tampak kesulitan bernapas, atau bagian tulang rusuk terlihat tertarik ke dalam setiap kali bernapas, kondisi tersebut termasuk tanda bahaya yang memerlukan pertolongan medis segera.
3. Hidung berair atau tersumbat

Pexels/Polina Smelova Pilek atau hidung tersumbat juga dapat muncul ketika bayi terkena influenza.
CDC menyebut hidung berair maupun tersumbat sebagai gejala influenza, sementara Kemenkes turut mencantumkan pilek sebagai salah satu gejalanya pada bayi dan balita.
Pada bayi, hidung tersumbat bisa terasa lebih mengganggu karena si Kecil masih sangat bergantung pada pernapasan melalui hidung, terutama ketika menyusu.
Akibatnya, mama dan papa mungkin melihat bayi lebih sering melepas puting atau botol saat menyusu untuk mengambil napas.
4. Bayi terlihat lebih lemas dan mudah mengantuk

Unsplash/Tim Bish Bayi yang sedang mengalami influenza dapat terlihat lebih lemas dibandingkan biasanya. Kemenkes memasukkan kelelahan dan lemas sebagai salah satu gejala influenza pada kelompok bayi dan balita. CDC juga menyebut kelelahan sebagai gejala umum penyakit ini.
Karena bayi belum dapat mengatakan bahwa tubuhnya terasa tidak enak, perubahan aktivitas bisa menjadi petunjuk penting.
Misalnya, si Kecil menjadi lebih banyak tidur, tidak tertarik bermain, atau tidak seaktif biasanya. Namun, jika bayi sampai sulit dibangunkan, tidak waspada, atau tidak merespons seperti biasanya, CDC memasukkannya sebagai tanda bahaya yang perlu segera mendapatkan pertolongan medis.
5. Lebih rewel dari biasanya

Unsplash/Helena Lopes Rasa tidak nyaman akibat demam, nyeri tubuh, hidung tersumbat, atau batuk dapat membuat bayi menjadi lebih rewel. Pada orang dewasa dan anak yang lebih besar, influenza dapat menyebabkan nyeri otot, sakit kepala, menggigil, dan rasa tidak enak badan.
Bayi tentunya belum dapat menjelaskan rasa sakit tersebut. Karena itu, kondisi seperti menangis lebih sering, sulit ditenangkan, atau tidurnya lebih gelisah dapat menyertai penyakit yang sedang dialaminya.
Meski demikian, rewel bukan gejala yang hanya terjadi pada influenza A. Kondisi ini perlu dilihat bersama gejala lainnya, seperti demam, batuk, pilek, atau perubahan pola menyusu.
6. Nafsu menyusu menurun

Pexels/Sarah Chai Saat terkena influenza, bayi bisa mengalami penurunan keinginan untuk menyusu. Hidung tersumbat dapat membuat proses menyusu terasa lebih sulit, sedangkan demam dan kondisi tubuh yang tidak nyaman dapat membuat bayi kehilangan selera makan.
Pada bayi, berkurangnya asupan cairan perlu diperhatikan karena dapat menyebabkan dehidrasi lebih cepat.
CDC menyebut tanda dehidrasi pada anak antara lain tidak buang air kecil selama sekitar delapan jam, mulut kering, dan tidak mengeluarkan air mata ketika menangis. Kondisi tersebut termasuk tanda bahaya influenza yang membutuhkan pemeriksaan medis segera.
7. Muntah atau diare

Magnific/cookie_studio Influenza memang utamanya merupakan infeksi saluran pernapasan, tetapi pada anak gejalanya tidak selalu terbatas pada batuk atau pilek.
CDC menjelaskan bahwa sebagian penderita influenza dapat mengalami muntah dan diare, dan kedua keluhan tersebut lebih sering terjadi pada anak dibandingkan orang dewasa.
Kementerian Kesehatan juga mencantumkan muntah serta diare sebagai kemungkinan gejala influenza pada bayi dan balita.
Jika muntah atau diare membuat bayi sulit mendapatkan cukup ASI atau susu formula, orangtua perlu mengawasi tanda-tanda kekurangan cairan.
8. Napas lebih cepat atau kesulitan bernapas perlu segera diwaspadai

Pexels/Antoni Shkraba Gejala yang satu ini bukan sekadar gejala influenza biasa, tetapi dapat menandakan kondisi yang lebih serius.
CDC menyebut beberapa tanda bahaya komplikasi influenza pada anak, di antaranya:
Influenza dapat menyebabkan komplikasi, termasuk pneumonia. Risiko komplikasi influenza secara umum lebih tinggi pada anak di bawah 2 tahun dan paling tinggi pada bayi berusia kurang dari 6 bulan.
Karena itu, jika bayi berusia kurang 12 bulan menunjukkan gejala yang mengarah pada influenza, terutama jika masih berusia sangat muda atau kondisinya tampak memburuk, sebaiknya segera dibawa ke dokter.
Itulah tadi gejala influenza A pada bayi yang perlu diwaspadai orangtua. Tidak seperti orang dewasa, Mama dan Papa mungkin akan lebih sulit mengenali gejala influenza A pada bayi sehingga diperlukan pengamatan yang lebih cermat terhadap perubahan kondisi dan kebiasaan si Kecil.



















