Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Anak bermain tablet
Freepik/prostooleh

Intinya sih...

  • Seorang ayah di Kanada menggugat Roblox setelah putrinya yang bermain sejak kecil menjadi korban grooming hingga berakhir bunuh diri

  • Penyelidikan mengungkap bahwa korban dimanipulasi oleh grup ekstremis "764" melalui platform tersebut untuk melakukan tindakan menyakiti diri sendiri

  • Kasus ini memicu ratusan gugatan hukum serupa dan mendesak Roblox untuk memperketat fitur keamanan serta pengawasan usia pada akhir 2025

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Seorang ayah di Kanada menggugat platform game Roblox terkait kematian putrinya yang berusia 16 tahun. Ia meyakini bahwa anak semata wayangnya, menjadi korban grooming yang dimulai dari Roblox dan berujung pada bunuh diri pada Februari 2025.

Kasus ini menjadi salah satu dari ratusan gugatan hukum yang kini dikonsolidasikan menjadi satu kasus federal terhadap Roblox Corporation, dengan sidang pertama yang digelar di Northern District of California pada 31 Januari 2026.

Berikut Popmama.com rangkum kronologi kasus yang mengguncang industri game online ini.

1. Mulai bermain Roblox sejak usia 7 tahun

Freepik/pvproductions

Anak tersebut pertama kali mendaftar di Roblox saat berusia 7-8 tahun. Pada masa itu, ayahnya yang bekerja di industri film di Vancouver, British Columbia, mengaku rutin mengawasi aktivitas online putrinya.

Ia bahkan pernah melihat anaknya menggambar sketsa anime untuk teman yang dikenalnya dari Roblox.

Namun ayahnya mengakui bahwa ia tidak benar-benar memahami cara kerja platform tersebut dan dampaknya terhadap anaknya. Keluarga ini juga telah menggunakan aplikasi pihak ketiga untuk memonitor aktivitas online sang putri, merasa sudah cukup melindungi anak mereka.

2. Tanda-tanda awal muncul saat berusia 14 tahun

Freepik

Setelah bercerai dari ibu sang anak dan pindah dari rumah keluarga saat putrinya berusia 13 tahun, kondisi anak itu mulai memburuk.

Nilai akademisnya menurun drastis, dan pada usia 14 tahun, sang ayah menemukan bekas luka sayatan di lengan anaknya yang selama ini ditutupi dengan gelang dan jersey hoki berukuran besar milik ayahnya.

Saat dikonfrontasi, sang anak mengaku bahwa ia telah direkrut ke dalam grup self-harm melalui Roblox. Namun ia meyakinkan ayahnya bahwa ia sudah keluar dari grup tersebut dan tidak lagi terlibat.

3. Ditemukan tewas setelah ulang tahunnya yang ke-16

Freepik

Tidak lama setelah ulang tahun anaknya ke-16, sang ayah mendapati anaknya telah tewas karena bunuh diri. Setelah tragedi tersebut, sang ayah membuka ponsel anaknya dan menemukan apa yang ia gambarkan sebagai bukti-bukti mengerikan.

Berdasarkan laporan New York Post, sang ayah menemukan percakapan sepanjang dua tahun dengan seseorang yang terus-menerus mendorong anak tersebut untuk melukai dirinya sendiri.

Sang ayah yakin bahwa anaknya bertemu orang ini di Roblox, kemudian komunikasi mereka berlanjut secara privat melalui Discord, terkadang berlangsung selama berjam-jam.

Dalam pesan-pesan tersebut, ditemukan bukti bahwa anak terebut diduga telah melakukan tindakan self-harm yang parah atas permintaan orang tersebut. Termasuk di antaranya mengukir angka "764" di tubuhnya.

4. Grup ekstremis "764" menargetkan anak-anak di platform game

Freepik/jcomp

Angka "764" merujuk pada kelompok online yang telah diidentifikasi oleh FBI sebagai "violent online group" yang secara sistematis menargetkan anak-anak di bawah umur.

Grup ini dikenal menjelajahi platform seperti Roblox untuk mencari korban yang kemudian mereka manipulasi melalui grooming atau sextortion agar melukai diri sendiri.

Menurut ayahnya yang dikutip New York Post, kelompok ini memanipulasi anak-anak perempuan untuk melakukan berbagai hal, mulai dari melukai diri sendiri hingga tindakan kekerasan lainnya.

Sang ayah meyakini bahwa anaknya telah mengalami cuci otak sepanjang proses tersebut.

5. Ratusan kasus serupa melawan Roblox

Dok. Xbox

Kasus ini bukan satu-satunya. Firma hukum yang menangani gugatan ini mencatat setidaknya 119 kasus yang diajukan terhadap Roblox sejak 2025, mencakup 34 negara bagian di Amerika Serikat. Kasus-kasus tersebut kini dikonsolidasikan menjadi satu gugatan federal dengan sidang pertama pada 31 Januari 2026.

Berdasarkan ringkasan kasus yang dilaporkan New York Post, berbagai bentuk kejahatan telah terjadi melalui platform ini. Mulai dari anak autistik yang dipaksa mengirim foto eksplisit hingga kasus penculikan lintas negara bagian.

Pola yang umum terjadi adalah predator menawarkan Robux (mata uang dalam game yang bisa dibeli dengan uang asli) sebagai umpan awal untuk mendekati anak-anak.

Setelah mendapat kepercayaan, komunikasi dipindahkan ke aplikasi pihak ketiga. Setidaknya 51 gugatan menyebutkan Discord sebagai terdakwa bersama, 20 kasus menyebut Snapchat, dan 5 kasus menyebut Meta.

6. Roblox menambah fitur keamanan di akhir 2025

Freepik

Merespons kritik dan gugatan hukum yang masif, Roblox meluncurkan fitur keamanan tambahan pada akhir 2025.

Ini termasuk software estimasi usia berbasis AI untuk semua pengguna yang menggunakan fitur komunikasi. Pengguna kemudian dipisahkan ke dalam sub-grup berdasarkan usia mereka.

Dalam pernyataannya kepada New York Post, Roblox mengklaim telah membatasi fitur chat untuk pengguna yang lebih muda, tidak mengizinkan berbagi gambar antar pengguna, dan memiliki filter yang dirancang untuk memblokir pembagian informasi pribadi.

Intinya, Ma, gugatan ayah ini terhadap Roblox terkait kematian putrinya menunjukkan bahwa aplikasi monitoring saja tidak cukup untuk melindungi anak dari predator online.

Kasus ini juga menjadi pengingat bagi orangtua, khususnya yang sudah berpisah, untuk tetap memperhatikan perubahan perilaku anak, terutama saat mereka melewati masa sulit. Apakah Mama sudah tahu siapa saja yang berkomunikasi dengan anak Mama di game online?

Editorial Team