Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
Jarak Makan dan Tidur Ternyata Berpengaruh pada Risiko GERD
Freepik
  • Jarak makan dan waktu tidur yang terlalu dekat bisa meningkatkan risiko GERD pada anak sehingga perlu diatur dengan lebih bijak

  • Mengatur jeda makan minimal 3 jam sebelum tidur, menjaga porsi tetap sesuai, dan mengenali gejala sejak dini dapat membantu mengurangi keluhan GERD pada anak

  • Dengan menyeimbangkan waktu makan dan tidur secara teratur, Mama dapat membantu menjaga kesehatan pencernaan sekaligus kualitas istirahat anak

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
  • What?
    Kebiasaan makan terlalu dekat dengan waktu tidur diketahui dapat meningkatkan risiko terjadinya GERD, yaitu kondisi naiknya isi lambung ke esofagus yang dapat menyebabkan rasa tidak nyaman dan gangguan pencernaan.
  • Who?
    Anak-anak dan orang dewasa menjadi kelompok yang berisiko mengalami GERD, sementara Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia memberikan rekomendasi terkait pengaturan waktu makan untuk mencegah gejala tersebut.
  • Where?
    Kondisi ini dilaporkan terjadi secara global, dengan perhatian khusus pada kebiasaan makan malam dalam lingkungan keluarga sehari-hari.
  • When?
    Peningkatan kasus GERD disebut terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir, tanpa disebutkan waktu spesifik kejadian atau penelitian terbaru mengenai tren peningkatannya.
  • Why?
    Makan terlalu dekat dengan waktu tidur membuat sistem pencernaan belum sempat memproses makanan sepenuhnya, sehingga isi lambung lebih mudah naik ke esofagus saat tubuh berbaring.
  • How?
    Dianjurkan memberi jeda sekitar tiga jam antara makan malam dan waktu tidur serta menjaga porsi makan agar tidak berlebihan guna membantu mengurangi risiko refluks dan menjaga kualitas tidur anak.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mama mungkin pernah memberi anak makan malam agak mepet dengan jam tidur supaya ia bisa cepat istirahat dan mendapatkan waktu tidur yang cukup.

Apalagi jika anak harus bangun pagi, makan malam sering kali jadi lebih malam dari jadwal ideal.

Namun, kebiasaan makan terlalu dekat dengan waktu tidur ternyata bisa berpengaruh pada risiko terjadinya GERD, baik pada orang dewasa maupun anak.

Berikut Popmama.com rangkum penjelasan bagaimana jarak makan dan waktu tidur yang ternyata berpengaruh pada risiko GERD

1. Jarak makan dan tidur pengaruhi GERD anak

Freepik

GERD atau gastroesophageal reflux disease adalah kondisi ketika isi lambung naik kembali ke esofagus hingga menyebabkan cedera pada mukosa esofagus. Maka penting bagi Mama untuk menjaga pola makan.

Makan malam yang terlalu dekat dengan waktu tidur sering kali dianggap hal biasa dalam rutinitas keluarga. Padahal, pada kondisi GER/GERD, tidur tidak lama setelah makan dapat meningkatkan risiko gangguan terkait refluks dan memperberat gejala yang sudah ada.

Pada anak, jarak makan dan tidur yang terlalu singkat berpotensi membuat isi lambung lebih mudah naik kembali ke esofagus, terutama ketika tubuh berada dalam posisi berbaring. Sistem pencernaan membutuhkan waktu untuk memproses makanan sebelum anak benar-benar beristirahat.

Jika kebiasaan ini terjadi berulang, rasa tidak nyaman bisa muncul di malam hari dan mengganggu kualitas tidur anak. Karena itu, menjaga jeda waktu yang cukup antara makan malam dan waktu tidur menjadi langkah penting untuk membantu menjaga kesehatan saluran cerna anak.

2. Hindari makan 3 jam sebelum anak tidur

Popmama.com/Keisha Felita Aryamaulana/AI

Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia menyarankan untuk menghindari konsumsi makanan dalam 3 jam sebelum tidur guna membantu mengurangi gejala GERD pada malam hari.

Artinya, jika anak tidur pukul 22.00, maka waktu makan terakhir sebaiknya sekitar pukul 19.00 dan bukan baru mulai makan pada jam tersebut. Setelahnya, sebaiknya tidak ada tambahan camilan agar lambung memiliki waktu yang cukup untuk mencerna makanan sebelum anak berbaring.

Kebiasaan ini penting diterapkan secara konsisten, bukan hanya sesekali, agar ritme pencernaan anak lebih teratur. Dengan jeda waktu yang cukup, risiko keluhan refluks saat malam hari dapat ditekan dan kualitas tidur anak pun lebih terjaga.

3. Porsi makan tidak teratur bisa perberat keluhan GERD anak

Freepik/jcomp

Selain jarak makan dan tidur, porsi serta waktu konsumsi makanan juga berperan dalam munculnya keluhan refluks.

Konsumsi makanan dalam jumlah besar, terutama jika dilakukan mendekati waktu tidur, dapat meningkatkan tekanan di lambung sehingga isi lambung lebih mudah naik kembali ke esofagus saat anak berbaring.

Jika kondisi ini terjadi berulang, rasa tidak nyaman bisa muncul dan mengganggu istirahat malam. Karena itu, Mama perlu memastikan anak makan dengan porsi yang sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan di malam hari.

Mengukur porsi makan yang cukup sebelum tidur membantu sistem pencernaan bekerja lebih optimal dan mengurangi kemungkinan munculnya keluhan terkait GERD.

4. Kenali gejala GERD pada anak

Freepik

GERD ditandai dengan cedera mukosa esofagus akibat refluks isi gastroduodenal. Gejala khasnya meliputi heartburn dan acid regurgitation. Selain itu, gastroesophageal reflux juga dapat berkaitan dengan kondisi seperti otitis media, rhinitis, dan asma.

Pada anak, gejala ini tidak selalu mudah dikenali karena dapat muncul bersamaan dengan gangguan lain atau disampaikan dalam bentuk keluhan yang berbeda. Mama perlu memperhatikan pola keluhan yang terjadi berulang, terutama jika muncul setelah makan malam atau ketika anak sudah berada dalam posisi berbaring.

Mengenali tanda-tandanya lebih awal membantu Mama mengambil langkah yang lebih tepat dalam mengatur kebiasaan harian anak.

5. Kasus GERD pada anak terus meningkat

Freepik

Prevalensi GERD dilaporkan meningkat secara global. Obesitas dan peningkatan sekresi asam lambung disebut sebagai kontributor utama terhadap peningkatan kasus.

Kondisi ini menjadi perhatian karena dapat berdampak pada berbagai kelompok usia, termasuk anak. Dengan meningkatnya angka kejadian, kebiasaan sehari-hari seperti pola makan dan pengaturan waktu tidur menjadi aspek yang semakin penting diperhatikan oleh Mama.

Perubahan sederhana dalam rutinitas keluarga, seperti menjaga jarak antara makan malam dan waktu istirahat, dapat menjadi langkah preventif yang membantu mengurangi risiko gangguan terkait refluks pada anak.

6. Pola makan teratur bantu jaga pencernaan

Freepik

Pola makan yang tidak teratur dapat membuat anak makan terlalu larut atau terlalu dekat dengan waktu tidur. Jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus, jarak antara makan dan berbaring menjadi semakin singkat dan berpotensi memicu keluhan refluks.

Mama perlu membiasakan jadwal makan yang konsisten setiap hari agar sistem pencernaan anak memiliki ritme yang lebih stabil. Selain itu, memastikan anak tidak langsung tidur setelah makan malam juga menjadi langkah sederhana yang bisa diterapkan di rumah.

Rutinitas yang teratur membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan nutrisi dan waktu istirahat sehingga kenyamanan saluran cerna tetap terjaga.

7. Seimbangkan waktu makan dan tidur anak

Freepik

World Health Organization merekomendasikan anak mendapatkan 10–13 jam tidur berkualitas dengan jadwal tidur dan bangun yang teratur.

Dalam upaya memenuhi kebutuhan tersebut, Mama sering kali lebih fokus pada durasi tidur tanpa memperhatikan jarak antara makan malam dan waktu beristirahat.

Padahal, pengaturan waktu makan yang tepat juga berperan dalam menjaga kenyamanan saluran cerna anak di malam hari.

Dengan memastikan anak tidak makan terlalu dekat dengan waktu tidur, Mama dapat membantu meminimalkan risiko keluhan refluks sekaligus menjaga kualitas istirahatnya.

Apakah Mama sudah memastikan jarak makan dan tidur anak cukup ideal setiap malam?

Editorial Team