6 Fakta Media Sosial yang Perlu Anak Ketahui Sebelum Memakainya

Dibalik manfaat besarnya, media sosial juga bisa berdampak buruk bagi anak

16 September 2020

6 Fakta Media Sosial Perlu Anak Ketahui Sebelum Memakainya
Freepik

Media sosial kini tak hanya berdampak oleh orang dewasa saja, namun anak-anak juga turut merasakan dampak dari salah satu contoh bagian kemajuan zaman ini. Walaupun telah lama diketahui, media sosial juga bisa menyebabkan masalah bagi anak, dari gangguan fisik hingga psikologinya.

Namun, menjauhkan anak dari gadget jelas tidaklah mudah. Mama juga tidak bisa selalu mengawasinya selama 24. Tetapi, media sosial memang tidak selamanya negatif kok Ma! Tergantung dari bagaimana cara anak menggunakannya.

Sehingga akan lebih bijak jika Mama dapat menjelaskan pada anak tentang informasi dasar mengenai media sosial sebelum mereka menggunakannya lebih jauh.

Kali ini Popmama.com akan membahas tentang 6 fakta media sosial yang perlu diketahui anak sebelum menggunakannya.

1. Media sosial belum tentu menampilkan kehidupan penggunanya yang sebenarnya

1. Media sosial belum tentu menampilkan kehidupan pengguna sebenarnya
Pexels.com/Tracy Le Blanc

Media sosial merupakan tempat yang di mana anak akan bertemu banyak orang yang mungkin ia tidak kenal sebelumnya dari dunia nyata. Karena hal itu yang juga membuat beberapa orang ingin menampilkan sisi terbaiknya pada orang banyak.

Hal yang perlu Mama sampaikan pada anak adalah, di media sosial orang bisa memilih ingin menunjukkan sisi apa dari dirinya dan menyembunyikan sisanya.

Jadi beri tahu anak agar tidak mudah iri dan turun rasa percaya diri hanya karena melihat teman atau orang lain lebih baik darinya. Karena itu, ingatkan anak untuk menggunakan media sosial seperlunya ya Ma.

2. Media sosial harus digunakan oleh seseorang yang usianya di atas 13 tahun

2. Media sosial harus digunakan oleh seseorang usia atas 13 tahun
Pexels/Andrea Piacquadio

Jika anak masih berusia di bawah 13 tahun, Mama dapat mengingatkan anak untuk tidak dulu menggunakan media sosial. Karena penelitian mengatakan bahwa dibutuhkan 13 tahun seorang anak untuk menyempurnakan logika berpikirnya.

Di bawah usia 13 tahun, anak akan sulit bagi memahami dampak dari keputusan yang diambil bagi dirinya dan orang lain, baik secara online maupun dalam kehidupan nyata.

Jadi jangan karena anak sudah mahir menggunakan gadget, Mama mengizinkan anak untuk membuat akun media sosial dengan memalsukan usianya. Hal itu justru akan mengajarkan anak untuk berbohong.

Secara tidak langsung juga berdampak pada risiko cyberbullying dan pelecehan seksual.

Editors' Picks

3. Anak harus berhati-hati dalam mengunggah foto atau informasi di media sosial

3. Anak harus berhati-hati dalam mengunggah foto atau informasi media sosial
Freepik

Di media sosial juga biasanya digunakan untuk mengunggah foto dan informasi anak. Informasi apapun itu yang diunggah atau dibagikan, akan memiliki jejak digital yang tidak bisa dihapus.

Anak bisa beralasan jika dirinya menggunakan akun yang di privat, namun bukan tidak mungkin jika ada temannya mengambil foto layar atau screenshot informasi dan menyebarkannya di luar lingkaran pertemanan anak.

Jadi penting sekali ingatkan anak, untuk lebih baik berpikir berulang kali sebelum mengunggah sesuatu dan hindari menghina orang lain melalui media sosial.

4. Berhati-hati dalam menanggapi orang yang baru dikenal dari media sosial

4. Berhati-hati dalam menanggapi orang baru dikenal dari media sosial
Freepik

Jika usia anak sudah diperbolehkan untuk memakai media sosial, seharusnya ia bisa berpikir lebih matang sebelum melakukan sesuatu. Namun, ada bagian pada otak anak yang berperan dalam pengambilan keputusan masih belum terbentuk dengan sempurna.

Karena itu, ada baiknya Mama tidak pernah lelah untuk ingatkan anak tetap berhati-hati dalam menanggapi orang yang baru mereka kenal di media sosial, karena informasi di media sosial tentu bisa dipalsukan.

5. Bisa menimbulkan adiksi atau kecanduan yang bisa membahayakan anak

5. Bisa menimbulkan adiksi atau kecanduan bisa membahayakan anak
Freepik/Khromkrathok

Seorang psikolog di Trent University, Mark D Griffiths, Ph.D melakukan sejumlah penelitian yang mengungkapkan mengapa anak bisa sangat mencintai media sosial, berikut pernyataannya:

Menciptakan “rasa memiliki”

Media sosial mampu menciptakan sense of belonging atau rasa memiliki. Bagi anak, perasaan ini muncul ketika ia memiliki komunitas di media sosial, begitu juga dengan teman-teman atau orang lain di media sosial yang memiliki kesamaan dengannya.

Melalui media sosial, anak mendapatkan identitas yang mungkin tidak langsung ditemukannya dalam kehidupan nyata.

Menciptakan citra yang diinginkan

Media sosial juga memberikan kesempatan bagi anak untuk menciptakan “citra” seperti apa yang diinginkannya. Jika anak tidak puas dengan dirinya, ia bisa menunjukkan sisi dirinya yang diinginkan di dunia maya agar mendapatkan perhatian lebih.

Karena itu, anak bisa sangat mencintai media sosial, apalagi jika ada banyak orang yang meresponnya dengan positif di sana.

6. Media sosial memang bisa membangun pertemanan, namun juga bisa menghancurkan

6. Media sosial memang bisa membangun pertemanan, namun juga bisa menghancurkan
Freepik

Karena umumnya media sosial dan pertemanan di dunia nyata dapat berhubungan, peringatkan anak akan bahayanya mengunggah konten negatif. Karena hal ini dapat mempengaruhi relasinya dengan teman-temannya di sekolah.

Bukan tidak mungkin, tidakan yang membahayakan bisa jadi viral dan membuat anak berurusan dengan hukum.

Maka dari itu sebelum mengizinkan anak menggunakan media sosial, penting untuk beri tahu beberapa fakta di atas tentang media sosial. Agar nantinya anak juga bisa menggunakan media sosial dengan bijaksana dan tepat sesuai usianya.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.