9 Kalimat yang Harus Mama Hindari Saat Anak Mengalami Stres

Terkadang niat baik Mama justru membuat anak merasa disepelekan

6 Juni 2021

9 Kalimat Harus Mama Hindari Saat Anak Mengalami Stres
Freepik/Wavebreakmedia-micro

Stres dapat menyerang siapa saja, termasuk remaja yang sedang mengalami banyak adaptasi dalam lingkungan atau situasi baru dalam hidupnya. Ketika anak merasa stres, menawarkan nasihat mungkin merupakan sesuatu yang Mama ingin lakukan dengan bermaksud baik.

Namun sering tak diketahui, kata-kata yang digunakan mungkin tidak menyampaikan pesan yang sebenarnya ingin disampaikan.

Saat berbicara dengan anak tentang perasaannya, kata-kata tertentu dapat membuat anak merasa bahwa Mama menyepelekan perasaannya.

Hal ini mungkin membuat anak merasa diserang, disalahpahami, atau sangat terluka. 

Untuk membantu Mama, kali ini Popmama.com akan membahas 9 kalimat yang harus dihindari ketika menghadapi anak remaja yang sedang mengalami stres. Baca sampai habis ya Ma!

1. “Coba saja lebih keras”

1. “Coba saja lebih keras”
Freepik/user15145147

Memberitahu anak untuk berusaha lebih keras ketika ia sudah memberikan upaya terbaik, dapat menurunkan semangat dan membuat anak merasa situasinya tidak ada harapan.

Dilansir dari verywellmind.com, ada banyak alasan mengapa stres dapat berkembang menjadi depresi dan tidak dapat mengontrol semua faktor risiko yang terlibat. Begitu anak menjadi depresi, itu bukan masalah hanya suasana hati yang rendah.

Seseorang yang mengalami depresi karena tingkat neurotransmiter yang rendah, tidak bisa begitu saja "berpikir" untuk memiliki lebih banyak.

Mirip dengan penderita diabetes yang mungkin memerlukan pengobatan dengan insulin, remaja yang mengalami depresi memerlukan intervensi dan dukungan medis. Bahkan mungkin berarti minum obat yang mengatasi ketidakseimbangan kimia yang berdampak pada kondisi tersebut.

2. “Ah kamu terlihat baik-baik saja!”

2. “Ah kamu terlihat baik-baik saja”
Freepik/Mrzivica

Glennon Doyle, seorang penulis dari Amerika Serikat mengatakan, “Orang yang membutuhkan bantuan sering terlihat seperti orang yang tidak membutuhkan bantuan,”.

Dengan kata lain, bagaimana wajah anak tidak selalu mencerminkan bagaimana perasaannya di dalam. Ini berlaku untuk banyak penyakit mental, tetapi juga penyakit kronis dan kondisi yang terkadang dianggap tidak terlihat.

Sehingga, hindarilah membuat pernyataan seperti:

  • "Tapi kamu tidak terlihat depresi!"
  • "Sepertinya kamu tidak sedih!"
  • "Kamu tidak bertingkah berbeda."

Tidak jarang anak dengan kecemasan atau stres berusaha sangat keras untuk "berpenampilan baik" dan menyembunyikan perasaan yang sebenarnya dari orang lain.

Beberapa alasan anak mungkin mencoba menyembunyikan apa yang ia rasakan, adalah sebagai berikut:

  • Anak mungkin merasa malu, bingung, bersalah, malu, atau takut akan apa yang akan terjadi jika orang lain mengetahui bahwa ia mengalami stres.
  • Anak mungkin merasa khawatir bahwa ia akan dianggap tidak kompeten di sekolah oleh orangtuanya.
  • Anak mungkin merasa khawatir bahwa keluarga, dan teman-temannya akan berhenti mencintainya.

Hanya karena remaja yang depresi mencoba untuk menutupinya, bukan berarti ia ingin diabaikan ketika akhrinya memilih untuk terbuka tentang perasaannya yang sebenarnya. Dibutuhkan keberanian untuk berbicara secara terbuka tentang rasa sakit yang dirasakan.

Jika Mama menanggapinya dengan keraguan atau ketidakpercayaan, ini mungkin membuat anak merasa berbicara tentang rasa stresnya tidak aman dan membuat anak meragukan dirinya sendiri.

Ketika disandingkan dengan stigma yang melekat pada penyakit mental, perasaan ragu tersebut dapat membuat anak semakin enggan untuk berobat ketika situasinya menjadi lebih intens.

3. “Itu bisa menjadi lebih buruk”

3. “Itu bisa menjadi lebih buruk”
Freepik/Bearfotos

Saat Mama berbicara dengan anak yang sedang mengalami depresi atau mengalami masa sulit, tahan godaan untuk membandingkan rasa sakit yang anak rasakan dengan pengalaman yang pernah Mama lalui. Ingatlah bahwa rasa sakit (emosional dan fisik) tidak hanya subjektif tetapi relatif.

Hindari memberikan komentar seperti:

  • "Tidak mungkin seburuk itu."
  • "Itu bisa menjadi lebih buruk."
  • "Banyak yang mengalami lebih buruk"

Ketika anak mengalami stres, ia juga kekurangan sumber daya internal yang diperlukan untuk mengatasi stres dengan cara yang efektif dan sehat.

Bagi orang dewasa mungkin, suatu peristiwa atau situasi yang anak rasakan merupakan gangguan kecil atau ketidaknyamanan, namun bagi anak itu terasa seperti hambatan yang tidak dapat diatasi.

Hindari membuat perbandingan atau mengadakan "persaingan" untuk siapa yang merasa paling buruk. Melakukan hal itu tidak membantu dan dapat membuat anak merasa bahwa Mama menyepelekan pengalamannya atau tidak benar-benar mendengarkan apa yang anak katakan.

Editors' Picks

4. “Mama juga sedang memiliki masalah”

4. “Mama juga sedang memiliki masalah”
Freepik/Wavebreakmedia

Siapapun dapat mengalami stres dalam perjalanan hidupnya, sehingga mungkin saja ketika anak sedang mengalami stres, Mama juga menglami tekanan, misalnya dari pekerjaan kantor, pekerjaan di rumah, dan lain-lain.

Namun, bukan berarti hal ini membuat Mama menyepelekan perasaan anak dengan membuat komentar seperti berikut ini:

  • "Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri."
  • "Orang lain juga punya masalah."
  • "Kau terlalu memikirkan dirimu sendiri."

Menyiratkan bahwa anak yang sedang mengalami stres tidak peduli dengan orang lain, hal ini juga tidak memberikan kenyamanan dan hanya memicu perasaan bersalah dan malu. Anak yang mengalami depresi masih peduli dengan orang lain.

5. “Mama hanya tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi"

5. “Mama ha tidak mengerti mengapa ini bisa terjadi"
Freepik/Fpphotobank

Bahkan jika pernah mengalami masa-masa stres, pengalaman Mama mungkin berbeda dengan pengalaman anak. Terlebih lagi jika Mama tidak pernah mengalami stres, mungkin sulit bagi Mama untuk berempati.

Dalam kedua kasus tersebut, jika anak yang dicintai mengalami depresi, hal terbaik yang dapat dilakukan adalah terbuka dan mau belajar.

Daripada menyerah pada percakapan dengan mengatakan "Mama hanya tidak mengerti" atau mengatakan bahwa Mama benar-benar mengerti ketika sebenarnya tidak mengerti, mulai dengan meyakinkan anak bahwa Mama peduli padanya.

Jika Mama berusaha untuk memahami apa yang anak butuhkan, jujurlah. Jelaskan dengan tenang, lalu bersabarlah dan siap untuk mendengarkan.

6. “Biarlah ini berlalu”

6. “Biarlah ini berlalu”
Freepik/Pressmaster

Meskipun hal ini mungkin benar, anak yang mengalami tekanan stres mungkin tidak memiliki pemikiran untuk mendukung gagasan tersebut, apalagi memercayainya. Kata-kata hampa, klise, dan pernyataan yang tidak jelas tak menawarkan banyak hal untuk anak pegang dalam hal harapan.

Jadi hindari membuat pernyataan seperti:

  • "Ini juga akan berlalu."
  • "Biarkan."
  • "Kau akan mengatasinya."

Anak yang mengalami depresi mungkin mengalami kesulitan membayangkan masa depan karena sedang diliputi oleh masa kini. Ia sedang tidak mudah untuk “melepaskan” atau “melarikan diri” dari masa kini, terutama jika anak mengalami kehilangan atau trauma.

Alih-alih mendorong anak untuk fokus pada masa depan atau melupakan masa-masa sulitnya, bantu anak untuk melakukan yang terbaik untuk selalu hadir bersamanya disetiap waktu. Duduk saja bersama, dan cobalah untuk mendengarkan apa yang anak rasakan.

7. "Kamu punya kehidupan dan keluarga yang hebat, dan rumah yang nyaman apa yang membuatmu tertekan?"

7. "Kamu pu kehidupan keluarga hebat, rumah nyaman apa membuatmu tertekan"
Freepik/our-team

Kecemasan atau stres bukanlah pilihan, sehingga ini bukan komentar yang mendukung, justru hanya akan semakin mengasingkan anak dari kehidupannya yang terlihat baik. Pahami bahwa anak mungkin sangat sadar bahwa ia memiliki “kehidupan yang baik”.

Komentar ini mungkin hanya akan menutup kemungkinan anak merasa nyaman membuka diri tentang masalahnya.

Alih-alih mengatakan hal tersebut, Mama dapat mengatakan seperti “Mama dapat melihat kamu melakukannya dengan sulit saat ini. Apakah kamu ingin membuka diri tentang apa yang terjadi, Mama punya waktu untuk berbicara? Jika tidak sekarang, kamu bisa memanggil Mama kapan saja, Mama selalu di sini untuk kamu, ketahuilah itu. ”

8. "Kamu mungkin terlalu sensitif"

8. "Kamu mungkin terlalu sensitif"
Freepik/Dragonimages

Walaupun tak salah berkata jujur, komentar seperti ini hanya akan menambah keterasingan yang sudah anak rasakan. Ini tentu tidak akan membuka peluang untuk percakapan yang lebih dalam, yang sebenarnya bisa menjadi titik awal bagi anak untuk mendapatkan bantuan.

Sebagai gantinya, Mama bisa mengatakan seperti “Mama benar-benar tidak dapat memahami perasaanmu, nak. Mungkin sulit bagi Mama untuk memahami apa yang kamu alami saat ini. Namun, Mama berharap bisa memahaminya sedikit lebih baik, jadi jika kamu ingin membicarakannya, Mama akan membuatkan kamu secangkir teh dan kita duduk bersama sebentar,"

9. “Bergembiralah nak!”

9. “Bergembiralah nak”
Freepik/Zinkevych

Nasihat bermaksud baik seperti "bergembiralah" atau "tersenyum" mungkin terasa ramah dan mendukung anak, tetapi kalimat ini dapat menyepelekan perasaan sedih yang anak alami terkait dengan stres.

Sama seperti seseorang yang depresi, di mana tidak bisa memaksa otaknya untuk membuat lebih banyak serotonin, anak juga tidak bisa begitu saja "memutuskan" untuk bahagia. Meskipun tentu saja ada manfaat untuk berlatih berpikir positif, ini tidak cukup untuk mengatasi stres pada anak.

Nah itulah kalimat-kalimat yang harus Mama hindari saat berusaha menghibur remaja yang sedang mengalami stres. Memang tak mudah untuk menemukan kata-kata yang membantu anak yang sedang merasa tertekan.

Namun, ingatlah bahwa kata-kata yang Mama ucapkan dapat membuat perbedaan besar. Dan jika tidak berhati-hati, kata-kata Mama mungkin lebih berbahaya daripada kebaikan.

Jika merasa telah mengatakan sesuatu yang menyakitkan jangan ragu untuk meminta maaf. Jelaskan pada anak bahwa Mama tidak yakin harus berkata apa. Permintaan maaf dapat membantu anak mulai merasa lebih baik.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.