Perlu Diperhatikan, ini 10 Tanda Anak Remaja Mengalami Stres

Dengan mengetahui gejalanya, Mama bisa memberikan penanganan lebih cepat

25 Mei 2021

Perlu Diperhatikan, ini 10 Tanda Anak Remaja Mengalami Stres
Freepik/Mayakruchankova

Seperti orang dewasa, remaja juga berjuang melawan stres. Meskipun remaja tidak perlu khawatir tentang tagihan, karier, atau masalah rumah tangga, mereka juga mengalami berbagai sumber stres.

Mereka menangani masalah seperti intimidasi, tekanan teman sebaya, dan masalah akademis yang bisa sangat membuat stres. Tanpa dukungan yang tepat, remaja yang stres mungkin berisiko lebih tinggi mengalami masalah kesehatan mental, masalah akademis, dan masalah kesehatan.

Jadi, penting untuk mewaspadai tanda-tanda remaja yang mengalami stres berat, agar Mama dapat melakukan penanganan yang lebih cepat. Berikut Popmama.com telah merangkum beberapa tanda-tanda anak remaja alami stres.

1. Sakit kepala, pegal, nyeri dan otot tegang

1. Sakit kepala, pegal, nyeri otot tegang
Freepik

Stres adalah reaksi tubuh terhadap situasi berbahaya, baik ketakutan yang nyata maupun yang hanya dipikirkan. Saat anak merasa terancam, reaksi kimia terjadi di tubuh memungkinkan anak bertindak untuk mencegah cedera pada diri sendiri. Reaksi ini dikenal sebagai respon stres atau "fight-or-flight".

Selama respons stres ini, detak jantung remaja meningkat, pernapasan menjadi lebih cepat, otot-otot menegang, dan tekanan darah meningkat.

Dilansir dari verywellmind.com, Stres seringkali menimbulkan keluhan kesehatan fisik seperti sakit kepala yang sering, sakit perut, dan masalah somatik lainnya mungkin merupakan tanda stres.

2. Masalah tidur

2. Masalah tidur
Freepik/Ulkas

Dalam sebuah studi tahun 2018 yang diunggah pada Journal of Sleep Research, kesulitan tertidur atau tertidur dalam jangka waktu yang lama bisa menjadi tanda stres, dan ini bisa menjadi lingkaran setan. Karena remaja yang kelelahan cenderung tidak bisa mentolerir stres.

Beberapa remaja yang stres terlalu banyak tidur. Seorang remaja yang selalu ingin kembali tidur sepulang sekolah atau mencoba tidur sepanjang hari di akhir pekan mungkin sedang berusaha melepaskan diri dari stresnya.

3. Masalah akademik

3. Masalah akademik
Freepik/Lovelymama

Tekanan untuk berprestasi lebih baik secara akademis adalah salah satu penyebab paling umum dari stres sekolah menengah bagi remaja. Remaja sering khawatir tentang banyak hal seperti menyelesaikan tugas sekolah, proyek, laporan, belajar untuk ujian dan lain-lain.

Jenis tekanan ini baik, jika memotiviasi anak remaja mama untuk mendapatkan nilai yang lebih baik di sekolah, tetapi jika hal itu berdampak negatif pada kemampuan kognitifnya dan berdampak pada kesehatannya, maka hal ini patut dikhawatirkan.

Jika nilai anak baru-baru ini menurun, atau jika kehadiran anak di kelas buruk, pertimbangkan apakah perubahan tersebut mungkin terkait dengan stres.

4. Gejala kognitif

4. Gejala kognitif
Freepik

Dilansir dari valleytutorcentre.co.za, stres pada remaja juga dapat mempengaruhi kemampuan kognitifnya seperti daya ingat. Mama mungkin berpikir bahwa anak mungkin hanya mengabaikan tugas-tugasnya karena malas atau ceroboh.

Tetapi, ini mungkin sebagai tanda anak yang sedang stres dan ingin melupakannya. Gejala kognitif lainnya termasuk menjadi tidak rasional, ketidakmampuan untuk fokus, perspektif negatif, dan penilaian yang buruk.

Ketika remaja memiliki banyak hal dalam pikirannya, hal itu memengaruhi kemampuannya untuk fokus pada tugas sekolah. Hal ini sering kali diterjemahkan menjadi mudah teralihkan di kelas, tidak terlibat dalam pekerjaan rumah, dan merasa putus asa untuk belajar.

Editors' Picks

5. Merasa lebih mudah tersinggung

5. Merasa lebih mudah tersinggung
Freepik/Wavebreakmedia

Umumnya, remaja pada dasarnya bisa murung, tetapi remaja yang stres cenderung lebih mudah tersinggung daripada biasanya. Jika Mama memperhatikan bahwa anak menjadi mudah gelisah, mudah murung atau cemberut karena hal-hal terkecil, atau menjadi semakin frustrasi dengan sedikit ketidaknyamanan, ia mungkin sedang merasa terbebani oleh tantangan hidup.

6. Perubahan sosialisasi

6. Perubahan sosialisasi
Freepik/Zinkevych

Kehidupan sosial sangat penting bagi remaja, dan umumnya remaja memiliki kebutuhan yang konstan untuk diterima oleh teman sebayanya dengan berada di 'kelompok' populer dan berkumpul dengan teman-teman.

Dalam sebuah studi di tahun 2019 berjudul “Stress and perceived social isolation (loneliness)”, menemukan bahwa stres cenderung mengubah kebiasaan sosial remaja. Isolasi sosial bisa menjadi tanda bahwa anak remaja sedang berjuang melawan stres.

Menghabiskan lebih banyak waktu di kamar mereka atau kurangnya minat untuk berbicara dengan teman dapat menjadi tanda bahwa anak sedang mengalami kesulitan.

7. Perubahan negatif dalam perilaku

7. Perubahan negatif dalam perilaku
Freepik/peoplecreations

Masalah tingkah laku seringkali menjadi bukti ketika seorang remaja stres. Sebagai orangtua, Mama mungkin melihat masalah perilaku yang meningkat mulai dari bolos sekolah hingga melawan dan tidak menghormati orangtua, terutama jika itu bukan perilaku yang biasa dilakukan anak mama.

8. Pembicaraan negatif

8. Pembicaraan negatif
Freepik/Rawpixel-com

Mama akan sering mendengar remaja yang stres menggunakan banyak pembicaraan negatif. Misalnya, seorang anak mungkin mengatakan hal-hal seperti, "Tidak ada yang menyukaiku," atau "Sepertinya tidak ada yang benar."

Dilansir dari American Academy of Child & Adolescent Psychiatry, meskipun terkadang remaja melontarkan komentar seperti ini adalah hal yang wajar, jika Mama terlalu sering mendengarnya, hal itu mungkin merupakan tanda stres.

9. Membandingkan fisik dengan orang lain

9. Membandingkan fisik orang lain
Freepik/Odua

Perubahan fisik juga bisa menjadi penyebab stres di kalangan remaja. Remaja mengalami beberapa perubahan fisik dan emosional yang dapat membuat mereka stres dan bingung.

Tidak mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya sendiri dan merasakan hal tertentu selama masa pubertas dapat menjadi penyebab ketegangan tersebut, terutama jika anak mulai membandingkan perkembangan fisiknya sendiri dengan perkembangan fisik teman sebayanya atau orang lain.

Selain itu, tekanan berlebihan pada tubuh remaja dapat membuat anak merasa lelah dan stres secara mental.

10. Mudah khawatir

10. Mudah khawatir
Freepik

Remaja yang stres sering kali mengkhawatirkan apa pun. Ia mungkin khawatir tentang semua hal buruk yang mungkin terjadi, atau khawatir tentang bagaimana orang lain akan memandangnya. Jika anak mengungkapkan lebih banyak kekhawatiran dari biasanya, itu mungkin karena stres.

Nah itulah beberapa tanda-tanda remaja mengalami stres. Jika Mama curiga anak sedang berjuang melawan stres, mulailah percakapan tentang hal itu. Mama mungkin juga ingin mengajari anak mama beberapa teknik manajemen stres sederhana.

Namun, jika stres pada anak mama tampaknya mengganggu sekolah, keluarga, tanggung jawab di rumah, atau teman, mungkin sudah waktunya untuk mencari bantuan profesional.

Baca juga:

Tanya Ahli

Mulai konsultasi seputar parenting yuk!

Hai Ma, mama mulai bisa bertanya dan berbagi pengalaman dengan ahli parenting.