Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Popmama lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kenapa Anak Bisa Tega Membully? Ini yang Terjadi pada Cara Berpikirnya
Pexels/Mikhail Nilov
  • Bullying berkaitan dengan empati yang cenderung lebih rendah dan moral disengagement, ketika anak membenarkan ejekan atau menyalahkan korban agar tindakan menyakitkan terasa wajar.

  • Dukungan teman sebaya, pola asuh, serta lingkungan sekolah dapat memperkuat atau mengurangi bullying; aturan yang jelas, adil, dan perlindungan korban berperan penting.

  • Penanganan tidak cukup memberi label nakal atau hukuman; anak perlu batas tegas sekaligus dibantu memahami dampak tindakannya, emosi orang lain, dan faktor yang memicu perilaku.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Bullying masih menjadi persoalan yang dapat terjadi di lingkungan sekolah, baik dalam bentuk ejekan, penghinaan, pengucilan, ancaman, maupun kekerasan fisik.

Perilaku tersebut tidak hanya berdampak pada korban, tetapi juga menunjukkan adanya persoalan yang perlu diperhatikan dari sisi perkembangan sosial dan emosional anak.

Pertanyaannya, mengapa ada anak yang tega menyakiti temannya berulang kali?

Apakah mereka memang tidak memiliki empati, atau ada proses tertentu dalam cara berpikir yang membuat tindakan tersebut terasa dapat dibenarkan?

Sejumlah penelitian menemukan bahwa perilaku bullying berkaitan dengan berbagai faktor, mulai dari kemampuan berempati, cara anak membenarkan perilakunya, pengaruh teman sebaya, pola asuh, hingga lingkungan sekolah.

Berikut Popmama.com telah merangkum penjelasan yang dapat membantu Mama memahami alasan di balik perilaku tersebut.

1. Anak yang membully cenderung memiliki tingkat empati yang lebih rendah

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Empati membuat seseorang mampu memahami dan merasakan kondisi orang lain.

Kemampuan ini berperan penting ketika anak berinteraksi dengan teman sebaya karena membantu mereka mempertimbangkan perasaan sebelum melakukan sesuatu.

Sebuah systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan dalam jurnal Trauma, Violence, & Abuse menganalisis 53 laporan penelitian mengenai hubungan empati dan karakteristik callous-unemotional dengan bullying.

Hasilnya menunjukkan bahwa pelaku bullying memiliki hubungan negatif dengan empati kognitif dan empati afektif. Penelitian tersebut juga menemukan hubungan antara perilaku bullying dan karakteristik callous-unemotional, yaitu kecenderungan menunjukkan kepedulian atau respons emosional yang lebih rendah terhadap orang lain.

Meski begitu, temuan tersebut bukan berarti semua anak yang membully tidak mempunyai empati. Kemampuan empati dapat berbeda-beda dan dipengaruhi oleh banyak faktor.

Penelitian longitudinal yang lebih baru bahkan menunjukkan hubungan dua arah.

Meta-analysis terhadap 23 studi dengan 21.296 peserta menemukan bahwa empati yang lebih rendah dapat memprediksi perilaku bullying berikutnya. Sebaliknya, perilaku bullying juga berkaitan dengan penurunan empati pada waktu berikutnya.

Artinya, bullying berpotensi menjadi pola yang semakin menguat apabila tidak dihentikan.

2. Anak dapat membenarkan perilaku yang sebenarnya salah

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Salah satu konsep yang banyak diteliti dalam perilaku bullying adalah moral disengagement.

Sederhananya, mekanisme ini membuat seseorang mampu melakukan tindakan yang bertentangan dengan nilai moralnya tanpa merasa terlalu bersalah.

Anak dapat mengubah cara pandangnya terhadap sebuah tindakan. Mengejek korban bisa dianggap sebagai candaan, mempermalukan teman dianggap sebagai hiburan, atau menyalahkan korban dianggap sebagai alasan yang membuat perilaku tersebut pantas dilakukan.

Sebuah meta-analysis yang melibatkan 47 sampel independen dengan 43.809 anak dan remaja berusia 7–19 tahun menemukan hubungan positif antara moral disengagement dan perilaku bullying.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa semakin besar kecenderungan seseorang untuk menggunakan mekanisme moral disengagement, semakin kuat pula hubungannya dengan perilaku bullying.

Proses ini membantu menjelaskan mengapa seorang anak sebenarnya dapat mengetahui bahwa menyakiti orang lain merupakan tindakan yang salah, tetapi tetap melakukannya.

Anak bukan selalu tidak mengetahui aturan moral, melainkan dapat menemukan pembenaran agar perilakunya terasa tidak terlalu salah.

3. Pengaruh teman sebaya dapat membuat bullying terasa normal

Magnific/gpointstudio

Masa anak-anak dan remaja merupakan periode ketika hubungan dengan teman sebaya menjadi semakin penting. Penerimaan kelompok dapat memengaruhi bagaimana anak melihat sebuah perilaku.

Ketika sekelompok teman menganggap mengejek seseorang sebagai sesuatu yang lucu, anak dapat terdorong untuk mengikuti perilaku tersebut agar diterima kelompok.

Situasinya menjadi lebih rumit ketika teman-teman lain ikut tertawa, merekam, atau memberikan dukungan kepada pelaku.

Kondisi tersebut dapat membuat anak menerima pesan bahwa bullying merupakan perilaku yang mendapatkan respons positif dari lingkungan.

Faktor kelompok ini juga berkaitan dengan moral disengagement.

Anak yang berada dalam lingkungan yang menganggap tindakan menyakiti orang lain sebagai sesuatu yang biasa dapat lebih mudah mencari pembenaran terhadap perilakunya.

Karena itu, pencegahan bullying tidak cukup hanya dengan meminta satu anak berhenti membully. Norma kelompok dan respons teman sebaya juga perlu diperhatikan.

4. Pola asuh dapat menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan bullying

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Cara orangtua membangun hubungan dengan anak juga menjadi salah satu faktor yang diteliti dalam kaitannya dengan bullying.

Systematic review dan meta-analysis yang diterbitkan dalam Journal of Youth and Adolescence pada 2025 menganalisis 107 studi, 624 effect sizes, dan 162.203 peserta.

Penelitian tersebut menemukan bahwa pola asuh positif memiliki hubungan negatif dengan perilaku bullying, sedangkan pola asuh keras atau negatif dan pola asuh yang tidak melibatkan orangtua memiliki hubungan positif dengan perilaku bullying.

Temuan ini tidak berarti anak yang membully pasti berasal dari keluarga dengan pola asuh buruk. Penelitian tersebut menunjukkan hubungan, bukan bahwa pola asuh tertentu secara otomatis menyebabkan seorang anak menjadi pelaku bullying.

Hubungan orangtua dan anak tetap menjadi bagian penting karena anak membutuhkan batasan yang jelas sekaligus kesempatan untuk belajar memahami emosi, menyelesaikan konflik, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

5. Anak perlu belajar bahwa tindakan memiliki dampak terhadap orang lain

Magnific/AI

Kemampuan memahami bahwa perilaku sendiri dapat menyakiti orang lain merupakan bagian penting dari perkembangan sosial anak.

Ketika anak terbiasa mendengar bahwa korban hanya “terlalu sensitif”, misalnya, anak dapat belajar mengabaikan dampak perilakunya.

Hal yang sama dapat terjadi ketika setiap konflik selalu diselesaikan dengan menyalahkan pihak lain tanpa mengajak anak melihat perannya sendiri.

Penelitian tentang moral disengagement menunjukkan bahwa cara seseorang membingkai kembali perilaku yang salah dapat membuat mereka lebih mudah melakukan tindakan agresif.

Meta-analysis terhadap anak dan remaja menemukan hubungan yang cukup konsisten antara moral disengagement dan agresi, dengan hubungan yang lebih kuat ditemukan pada kelompok remaja dibandingkan dengan anak-anak.

Karena itu, mengajarkan anak untuk meminta maaf saja tidak selalu cukup. Anak juga perlu diajak memahami apa yang dirasakan orang lain dan bagaimana tindakannya memberikan dampak.

6. Lingkungan sekolah juga dapat memperkuat atau mengurangi perilaku agresif

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Sekolah bukan hanya tempat terjadinya bullying. Lingkungan sekolah juga dapat memengaruhi bagaimana anak memandang perilaku tersebut.

Salah satu penelitian terhadap 16.809 siswa kelas 6–9 berusia 12–15 tahun dari 213 sekolah menemukan bahwa kejelasan dan keadilan aturan sekolah berkaitan dengan agresi teman sebaya.

Penelitian tersebut juga menemukan bahwa moral disengagement dan bullying yang dilakukan guru menjadi salah satu jalur yang berhubungan dengan perilaku agresif siswa.

Temuan tersebut menunjukkan pentingnya lingkungan sekolah yang memiliki aturan jelas dan diterapkan secara adil.

Jika ejekan terus dianggap sebagai candaan, korban tidak mendapatkan perlindungan, atau aturan hanya berlaku untuk sebagian siswa, anak dapat menangkap pesan bahwa perilaku menyakiti orang lain masih dapat ditoleransi.

Sebaliknya, lingkungan yang konsisten memberikan batasan sekaligus mengajarkan empati dapat membantu anak memahami bahwa perilaku bullying memiliki konsekuensi.

7. Anak yang membully tidak cukup hanya diberi label “nakal”

Popmama.com/Violin Heldina/AI

Melihat bullying hanya sebagai masalah anak nakal dapat membuat akar persoalannya terlewatkan.

Penelitian menunjukkan bahwa perilaku tersebut berkaitan dengan berbagai faktor yang saling berhubungan.

Empati, moral disengagement, pola asuh, hubungan dengan teman sebaya, serta lingkungan sekolah dapat menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar.

Karena itu, respons terhadap bullying juga perlu lebih dari sekadar hukuman.

Anak tetap harus diberi batasan yang tegas karena perilaku menyakiti orang lain tidak boleh dibiarkan. Namun, orang dewasa juga perlu mencari tahu mengapa perilaku tersebut muncul, bagaimana anak memandang tindakannya, dan lingkungan apa yang mungkin memperkuatnya.

Jadi, apakah anak yang membully tidak punya hati? Belum tentu.

Studi memang menemukan bahwa pelaku bullying cenderung memiliki empati yang lebih rendah dan karakteristik callous-unemotional yang lebih tinggi dibandingkan kelompok tertentu.

Namun, penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa hubungan antara bullying dan empati dapat berlangsung dua arah.

Hal yang perlu menjadi perhatian adalah ketika anak mulai terbiasa menyakiti orang lain, mendapatkan dukungan dari kelompok, lalu menemukan alasan untuk menganggap tindakannya wajar.

Pola tersebut dapat membuat perilaku bullying terus berulang. Bullying bukan sekadar kenakalan yang bisa dibiarkan ya, Ma!

Curated For You

Editorial Team

Related Article